Tak Peka pada Kesedihan Pasangan Benar-Benar Bisa Merusak Hubungan

Kabar buruknya, manusia bukanlah pembaca pikiran. Lalu bagaimana?

Hubungan yang langgeng bisa dicapai dengan adanya kemauan untuk saling memahami satu sama lain. Terutama, belajar menerima semua hal negatif pasangan yang kemungkinan besar menjadi kekurangannya. Memahami suasana hati pasangan juga termasuk di dalamnya.

Memahami suasana hati pasangan sangat penting dalam setiap hubungan. | greatist.com

Masalahnya, memahami suasana hati pasangan kadang bisa sedemikian sulit dan rumit. Kekurangan pasangan berupa sikap, perilaku, dan kebiasaan biasanya bisa dilihat dengan jelas, tapi tidak begitu dengan perasaan. Karena sering, pasangan begitu sulit mengungkapkan isi hati.

Parahnya lagi, sebagian besar orang cenderung kurang sensitif menyadari dan memahami ketika pasangannya sedang diliputi emosi negatif yang ‘samar-samar’ seperti sedih, kesepian, takut, atau putus asa. Padahal, tidak peka pada perasaan pasangan benar-benar bisa merusak hubungan.

“Asumsi kemiripan”

Pasangan adalah sumber utama dukungan sosial, melebihi apa yang bisa dilakukan teman dan keluarga. Karena itu, ketika kamu menghadapi hari yang buruk –dan tidak ada hubungannya dengan pasanganmu–, pasti kamu akan tetap berharap dia bisa mendukungmu sepenuhnya.

Maka, kalau kamu tidak bisa cepat-cepat tanggap memahami kesedihan pasanganmu, dia mungkin merasa kamu tidak bisa dan tidak mau mendukungnya ketika masa sulit terjadi. Kabar baiknya, hal rumit seperti ini tidak terjadi pada semua orang, karena ada pasangan yang perasaannya sama.

Kesamaan perasaan seperti itu dinamakan “asumsi kemiripan”. Oleh sebab itu, kesalahan terbesar yang jarang disadari orang dalam hubungan adalah ketika dia tidak mampu bertanggung jawab secara emosional pada perasaannya sendiri –dengan menyamakan perasaan.

Kesalahan terbesar sepasang kekasih adalah tidak mampu ertanggung jawab secara emosional pada perasaannya. | redbookmag.com

Misal, kamu punya masalah di kantor. Tapi karena kamu berpikir masalahmu itu bisa mengganggu keharmonisan keluarga jika dibicarakan, akhirnya kamu memilih diam. Dan istrimu yang mungkin merasa ada ketidaknyamanan karena kamu diam, akhirnya memilih untuk tidak membahasnya.

Padahal faktanya, kesamaan yang tak selaras tidak bisa diselesaikan hanya dengan diam. Lantas, bagaimana caranya agar bisa lebih peka pada pasangan yang sedang terpuruk? Kamu butuh “akurasi empati”. Seperti namanya, akurasi ini sangat mengandalkan tanda lewat empati.

Kamu harus selalu siap dengan segala kemungkinan emosi negatif yang ‘samar-samar’ setiap kali berhadapan dengan pasanganmu, yaitu dengan memberi perhatian penuh dan terus menjalin komunikasi. Hindari gangguan seperti sibuk main smartphone atau sambil mengurusi hal lain.

Manusia bukanlah pembaca pikiran

Setelah itu, kalau kamu akhirnya merasa ada yang tak beres pada pasanganmu, jangan bersikap berlebihan dengan bertanya terlalu banyak karena justru bisa menekan perasaannya. Dia yang tadinya mau bicara jadi batal melakukannya. Dan ya.. kecemasan dan penasaran yang tak terjelaskan bisa berubah jadi amarah yang berujung konflik.

Karena itu, coba tanya dengan santai dan langsung, “kamu baik-baik saja hari ini?” tanpa perlu memaksa kalau tak ada jawaban. Sebaliknya, kalau kebetulan kamu yang sedang ada masalah, jangan pernah berpikir dan berharap pasanganmu bisa memahami itu, karena pada dasarnya manusia bukanlah pembaca pikiran.

Kecemasan dan penasaran yang tak terjelaskan bisa berubah jadi amarah yang berujung konflik. | thespruce.com

Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, maka bicarakan. Memaksa diri sendiri untuk membicarakan masalah apa pun itu penting. Karena dengan begitu, kamu akan terbiasa. Dan pada akhirnya, mau terbuka bisa membuat pasanganmu jauh lebih menghargaimu.

Karena sebenarnya, memahami pasangan di di saat sedih adalah kunci hubungan yang langgeng.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *