Sebut PAUD Sebagai Bisnis Mengatasnamakan Pendidikan Anak, Cuitan Dokter Ini Menuai Kontroversi

Banyak orang tua yang tak setuju karena merasa telah mendapat manfaat dari PAUD

Perdebatan tentang cara mengasuh anak yang baik dan benar selalu menarik untuk disimak, tentunya selama perdebatan tersebut menghasilkan banyak pandangan baru yang bermanfaat. Namun tak sedikit pula yang menanggapi hal semacam ini dengan keras karena topik yang disinggung memancing kontroversi.

Salah satunya adalah rangkaian cuitan Twitter seorang dokter bernama Jiemi Ardian. Melalui akun pribadinya, sang dokter menyebutkan bahwa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) itu bukan pendidikan anak, melainkan bisnis atas nama pendidikan anak. Sontak, muncul pro-kontra atas pernyataan tersebut.

Usia dini bukanlah usia sekolah

Untuk memberi penjelasan lebih lanjut tentang pernyataannya tadi, Jiemi mengatakan bahwa banyak sekolah yang terlalu memaksakan anak. Ada masa dimana anak seharusnya hanya butuh bermain tapi malah disuruh belajar. Ia mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun sesungguhnya belum paham dengan tugas yang diberikan padanya, sehingga tidak tepat jika si anak justru disuruh bersekolah dan menjejalinya dengan sejumlah kegiatan yang belum dimengertinya.

Teori perkembangan kognitif Piaget (twitter)

“Anak di bawah 4 tahun ga (akan) bisa berfikir formal, ga (akan) paham tentang tugas, ga (akan) paham tentang sekolah. Jangan siksa mereka dengan sesuatu yang ga akan bisa dikerjakan,” ujar Jiemi. Menurut Jiemi, memiliki anak yang sehat secara mental, bahagia, tumbuh dan berkembang sampai dewasa itu lebih berharga daripada memiliki “anak yang pintar” hasil didikan keliru di PAUD.

PAUD Vs orang tua egois

Jiemi menyadari bahwa akan banyak orang tua yang kontra pada apa yang disampaikannya tadi. Apalagi, saat ini sudah umum diketahui bahwa anak usia dini tidak boleh diajari calistung (baca, tulis, hitung) dan lantas PAUD diasosiasikan sebagai taman bermain anak yang lebih terarah.

Menurut dr. Jiemi, PAUD tidak diperlukan oleh anak (usahainvestasi.com)

Menanggapi hal ini, Jiemi meyakini bahwa taman bermain paling tepat bagi anak adalah tubuh orang tuanya. Artinya, Jiemi beranggapan bahwa anak tidak butuh PAUD untuk mendapatkan sarana bermain. Anak hanya butuh orang tuanya untuk ada, memberikan kasih sayang dan interaksi langsung sebagai wujud dari kebutuhan bermain anak.

Beberapa screenshot cuitan dr. Jiemi (twitter)

Jiemi juga mengkritik para orang tua yang egois dan mementingkan kebanggaan dirinya sendiri. Maksudnya, saat ini diketahui ada banyak orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya sedini mungkin agar sang anak lebih pintar dari anak seumuran lainnya. “Anak gak butuh bisa menggambar, baca tulis, menghitung di usia segitu. Buat apa punya anak bisa baca tulis dan menggambar di usia dini tapi jiwanya terganggu? Buat kasi makan ego orang tua untuk bangga sama anak dengan cara yang salah?,” demikian ungkap Jiemi.

Tanggapan netizen

Jiemi paham bahwa tak semua orang tua memasukkan anaknya ke PAUD hanya lantaran ego semata, namun ada pula yang karena sibuk bekerja dan kesulitan untuk menjaga anak sendiri. Ia mengaku tidak berani berkomentar apapun untuk hal tersebut, namun ia mengharap setiap orang tua paham dengan konsekuensi yang akan mereka terima.

Banyak pula orang tua yang menolak mentah pendapat dr. Jiemi karena merasakan manfaat PAUD (Via ugm.ac.id)

Meski telah memaparkan sejumlah penjelasan untuk memperkuat pendapatnya, namun toh Jiemi tetap mendapat tanggapan yang kontra dengannya. Sejumlah netizen juga memberikan pendapatnya yang cukup menarik. Misalkan saja tentang membiasakan anak untuk belajar bersosialisasi, hingga kritik karena Jiemi menggeneralisir semua PAUD sebagai tempat untuk mencari untung. Padahal, banyak pula PAUD yang hadir tanpa pertimbangan untung-rugi dan bisa kita temui di berbagai daerah di Indonesia.

Kalau kamu sendiri, bagaimana pendapatmu?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Daftar Festival Wisata dan Budaya Indonesia yang Bisa Jadi Referensi Liburanmu Sepanjang 2018

Terkadang, Kamu Perlu Jadi Orang Egois Demi Mewujudkan Keinginan