Bodohnya Orang-Orang yang Sok Paham Agama di Sosial Media

Ini untuk kamu yang hanya mengandalkan internet dan mengabaikan guru-guru teladan

881
SHARES

Dalam beragama, tak sedikit orang yang bertanya-tanya soal agama di internet. Cukup menulis kata kunci di mesin pencari, dalam sekejap ribuan tulisan muncul memberikan jawaban. Benar, teknologi internet memang memberi banyak kemudahan, kecepatan, kepraktisan, serta efisiensi dalam segala urusan. Hanya saja, apakah beragama cukup dengan internet dan mengabaikan guru-guru teladan?

Apakah beragama hanya cukup dengan berinternet saja? | fonejackerhacker.co.uk

Sekali lagi, teknologi internet mampu membawa dan membantu kita untuk menemukan hal-hal yang sebelumnya tak terjangkau pikiran. Hampir semua urusan hidup manusia di jaman sekarang (harus) terhubung internet. Maka jika ditimbang manfaat dan kerugiannya, mungkin, masih banyak manfaatnya.

Meski begitu, kita tidak bisa menghukum internet semudah itu. Mengapa? Karena internet hanyalah alat, sedangkan hukum selalu menilai alat tergantung pada tujuannya. Sama seperti ketika kita menggunakan pisau. Kalau kita gunakan sebagai alat dapur, maka hukumnya halal. Tapi jika digunakan untuk membunuh orang, maka hukumnya jelas haram.

Memahami Al-Qur’an itu tak semudah membaca terjemahannya

Mari kembali menyinggung soal mengabaikan guru-guru teladan. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama itu tidak bersumber dari akal, namun dari wahyu. Dalam Islam sendiri, kumpulan wahyu itu kemudian dikitabkan dalam bentuk Al-Quran, semacam buku panduan dan pedoman hidup bagi seluruh umat Islam.

Al-Qur’an merupakan ‘buku panduan’ bagi seluruh umat Islam di dunia. | alkaaf.net

Dan sejak pertama kali dikitabkan, bentuk dan komposisi Al-Qur’an tidak pernah berubah: 6236 ayat, 114 surat, 74.437 kalimat, dan 325.345 kata. Yang berubah dan selalu dinamis sepanjang sejarah adalah pemahaman kita terhadap makna yang terkandung di dalamnya.

Inilah masalah utamanya, sebenarnya. Karena dalam prakteknya, memahami Al-Qur’an itu tak semudah membaca terjemahannya. Setidaknya, ada beberapa tahapan yang harus dilalui seseorang dalam memahami Al-Qur’an. Perlu dicatat di sini bahwa. memahami itu berbeda dengan menjelaskan.

Memahami jauh lebih penting ketimbang sekadar menjelaskan, karena tanpa pemahaman mustahil akan muncul penjelasan-penjelasan. Dalam hal ini, seberapa pintar seseorang dalam memahami menjadi sangat penting demi menghindari penjelasan-penjelasan ngawur dan tak berdasar.

Terjemahan bukanlah Al-Qur’an

Hal pertama yang harus dikuasai sebelum memahami Al-Qur’an adalah pengetahuan dan penguasaan bahasa Arab, karena Al-Qur’an adalah bahasa Arab. Lantas, bagaimana dengan terjemahan?

Terjemahan bukanlah Al-Qur’an, karena itu merupakan hasil pemahaman. Atau dengan kata lain, terjemahan adalah penafsiran orang-orang. Jadi, kalau kita memahami Al-Qur’an menggunakan terjemahan, berarti kita hanya memahami pemahaman orang terhadap Al-Qur’an saja.

Terjemahan Al-Qu’an hanyalah hasil pemahaman orang-orang. | tokopedia.net

Yang kedua adalah sejarah. Pemahaman sejarah diperlukan untuk mengetahui situasi dan kondisi yang melatarbelakangi turunnya sebuah wahyu. Karena, Al-Qur’an itu tidak sekali turun langsung jadi, namun lahir dan dibentuk untuk menanggapi umat manusia sekaligus merespon situasi sosial, politik, dan budaya waktu itu, dari waktu ke waktu selama 23 tahun.

Ketiga, pendekatan lain sebagai penunjang untuk memperkaya wawasan dalam memahami Al-Qur’an, seperti hadits, tafsir, tasawuf, dan sebagainya.

Barisan orang bodoh dalam beragama

Ketiga hal di atas, mau tak mau, harus dikuasai orang yang ingin memahami Al-qur’an secara langsung. Sayangnya, teknologi internet sudah terlanjur memulai revolusi pengetahuan, hingga membuat kekuatan pengetahuan seoalah hancur dengan sendirinya.

Dengan modal internet, semua orang bisa dengan bebas mengolah dan mengakses pengetahuan tanpa harus menggugat dan mempertanyakan kebenarannya. Hal yang sama juga berlaku dalam beragama. Bermodal terjemahan dan artikel di internet, orang sudah bisa ceramah dan membuat fatwa, atau minimal koar-koar soal agama di sosial media.

Di dunia maya, khususnya sosial media, banyak orang dengan mudahnya mengaku paham agama padahal hanya mengandalkan internet dan terjemahan saja. | indonesianyouth.org

Kebiasaan seperti ini sudah begitu awam di mana-mana, bahkan banyak orang yang mengaku paling hebat dan menganggap pengetahuan orang lain berada di bawahnya. Padahal, ironisnya, mereka mendapatkan ilmu melalui cara-cara instan dan mengabaikan guru-guru teladan, juga tanpa melewati sebuah proses yang panjang.

Orang-orang yang sok paham agama seperti itu, hanya akan menambah panjang barisan orang-orang dungu dan bodoh dalam beragama.

881
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."