Kerap Tak Disadari, Terkadang Orang Tua Menjadi Pembunuh Terbesar Bagi Mimpi Anak-Anaknya

Biarlah anak mengejar mimpinya sendiri

Masih ingat tidak, dengan surat dari seorang Kepala SD di daerah Bantul, Yogyakarta, yang viral beberapa waktu lalu? Melalui surat tersebut, sang Kepala SD berpesan pada para orang tua murid agar tidak membebani anak dengan cita-cita maupun tujuan hidup yang tidak mereka sukai.

Sayangnya, masih banyak orang tua yang terus mendoktrin anak dengan sesuatu yang bukan keinginan si anak. Tak jarang, para orang tua menggambarkan sebuah kesuksesan melalui jenis pekerjaan maupun pendidikan tertentu. Misalnya saja, pekerjaan sebagai dokter akan dianggap jauh lebih bergengsi ketimbang menjadi seorang pemain sepakbola.

Orang tua yang konservatif

Saat ini, masih banyak orang tua yang kolot dan konservatif, dimana mereka berpikir bahwa sekolah formal adalah gerbang menuju sukses. Saya tidak bilang bahwa sekolah formal itu jelek dan tidak penting, namun saya hanya ingin meluruskan persepsi para orang tua, bahwa kunci sukses seseorang tak selalu ditentukan dari pendidikan formalnya. Betul bahwa sekolah punya andil besar dalam membentuk kepribadian dan pola pikir anak, tapi perlu diingat pula bahwa sekolah juga masih menjadi momok mengerikan bagi banyak anak karena berbagai hal, termasuk karena ketidaksukaan anak untuk menerima pelajaran formal. Jika sudah demikian, tak heran jika anak ketinggalan pelajaran dan mendapat prestasi buruk di kelas. Pahami apa yang ia sukai dari sekolahnya, dan fokuskan diri untuk mendukung anak pada hal tersebut.

Saat anak tidak menyukai suatu pelajaran, ia bisa menciptakan ketakutannya sendiri yang berujung pada kegagalan untuk menguasai pelajaran yang diajarkan – sheknows.com

Menurut para ahli parenting, seorang anak yang mampu memetakan potensi unggulnya, maka 90 persen ia akan berhasil mewujudkan mimpi dan cita-citanya di masa mendatang. Inilah yang tak boleh diabaikan oleh para orang tua. Kadang, para orang tua menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya pada guru di sekolah tanpa ikut ambil bagian. Ironisnya, meski tidak tahu perkembangan anak di sekolah, namun orang tua merasa jadi yang paling berhak untuk menentukan masa depan apa yang tepat bagi si anak.

Ilustrasi orang tua otoriter – familiesofcharacter.com

Saat mengetahui bahwa anak tidak berprestasi di sekolah, mereka menuntun anak untuk belajar mati-matian. Mulai dari ikut berbagai bimbingan belajar, melarang anak bermain, hingga menambah jam belajar di rumah. Ini perlu dievaluasi, apa yang menjadi penyebab anak tidak berprestasi? Boleh jadi anak memang tidak senang belajar ataupun tak punya minat pada pelajaran formal yang diajarkan di sekolah.

Tidak berprestasi di sekolah bukan jadi tolok ukur anak tidak punya kepandaian – rosalinablog888.blogspot.co.id

Jangan keburu marah dan mencap anak sebagai anak yang bodoh. Amati dulu, apakah ada keahlian lain dari si anak yang tak berhubungan dengan sekolah formal? Bisa jadi bakat dan keinginan anak memang tidak tertuju pada hal formal. Orang tua tak boleh seenaknya melarang anak yang gemar menggambar untuk menghentikan hobinya itu lalu meminta anak fokus belajar matematika, misalnya. Kalau demikian yang terjadi, siapa yang tahu kalau sepasang orang tua telah mematikan kelahiran seorang calon pelukis ternama?

Belajar menerima pilihan anak

Harus diakui, kadang orang tua tidak bisa menerima jika anaknya tidak berhasil dalam pendidikan formal. Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa kadar kesuksesan seseorang diukur dari deretan angka pada nilai rapor maupun di sekolah mana sang anak diterima untuk meneruskan pendidikannya. Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak ingin itu semua? Bagaimana dengan anak-anak yang mempunyai cita-cita untuk jadi musisi, dan lebih tertarik untuk melanjutkan di sekolah musik daripada di sekolah unggulan?

Anak mungkin tidak ahli dalam mata pelajaran formal, namun ia pasti punya sesuatu di luar itu yang jadi potensinya – benharperdigital.com

Di sinilah peran orang tua dibutuhkan sepenuhnya. Saat ini, masih banyak orang tua yang tidak ikhlas menerima pilihan cita-cita yang diutarakan oleh anaknya. Akibatnya, orang tua cenderung melarang anak untuk mengikuti jalan yang diyakininya dan sesuai minat terbesarnya, bahkan merupakan potensi unggulnya. Alasan tidak bisa mendapatkan jaminan penghidupan dari apa yang dicita-citakan kerap jadi andalan orang tua untuk memaksakan kehendaknya pada anak. Mereka tidak memikirkan apa dampaknya pada anak. Tidak ada pula yang menjamin bahwa si anak akan mendapat prestasi bagus jika menuruti kehendak orang tuanya, bukan?

Izinkanlah anak untuk menentukan apa yang sesuai bagi minat dan kemauannya – ributrukun.com

Sebenarnya memang dipahami kenapa masih banyak orang tua yang sulit menerima pilihan cita-cita yang ingin diraih anaknya. Kebanyakan para orang tua tidak cukup punya keberanian untuk mengambil keputusan dalam mendukung cita-cita anak, terutama jika yang dipilih oleh anak adalah jenis cita-cita yang tidak lazim. Padahal, anak hanya butuh dukungan sepenuhnya dari orang tua untuk bisa melesat maju mengejar apa yang diinginkannya.

Setelah membaca artikel ini, coba tanyakan pada diri sendiri, beranikah kita mengambil keputusan untuk mendukung apapun pilihan anak selama itu baik baginya? Ingatlah selalu bahwa anak lah yang akan menjalani pilihannya itu dan bertanggung jawab penuh atas apa yang diinginkannya.

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Lebaran Ditanya “Kapan Nikah”? Jangan Galau, 7 Jawaban Ini Bisa Menyelamatkanmu

Masih Belum Menemukan Bakat Terpendam dan Passion dalam Dirimu? Coba Lakukan Hal Ini