5 Mitos Terlarang di Pernikahan Adat Jawa, Kamu Percaya Nggak?

Meski terdengar aneh dan bertentangan dengan logika, namun itulah yang telah diyakini sejak dahulu oleh masyarakat Jawa

Dalam adat budaya Jawa, ada banyak mitos-mitos yang selalu dikaitkan dengan banyak hal, termasuk untuk urusan pernikahan. Misalkan saja, ada kepercayaan bahwa momentum sakral semacam itu haruslah dilaksanakan pada hari atau tanggal tertentu yang sudah diperhitungkan sebelumnya.

Tak hanya itu, pasangan Jawa bahkan biasanya dilarang untuk menggelar acara pernikahan jika kebetulan waktu yang dipilih bertentangan dengan mitos-mitos yang dipercayai sejak dulu kala. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

1. Weton jodoh

Karena weton yang tak berjodoh, sepasang pengantin bisa batal menikah lho. (modelbajuterbaru2018.net)

Dalam mencari hari baik untuk menggelar resepsi pernikahan, masyarakat Jawa biasanya melakukan perhitungan untuk memilih tanggal berdasarkan weton. Dari situlah nantinya akan didapatkan hari-hari apa yang sebaiknya dihindari jika ingin pernikahan awet. Tak jarang ada yang sampai pada taraf ekstrem. Jika weton kedua pasangan dianggap tidak berjodoh, maka pernikahan bisa dibatalkan. Wah!

2. Jilu dan lusan

Apa yang mendasari anak pertama dilarang menikah dengan anak ketiga? (modifikasi.com)

Menurut kepercayaan Jawa, anak pertama sebaiknya tidak menikah dengan anak ketiga (diistilahkan dengan jilu, siji ketemu telu), atau anak ketiga dengan anak pertama (lusan, telu ketemu sepisan). Hal ini dikarenakan ada keyakinan bahwa pernikahannya akan banyak mendapat cobaan dan masalah. Inovasee pernah mengulas tentang mitos lusan pada artikel yang bisa kamu baca di sini.

3. SIji jejer telu

(instagram/@lisandrawedding)

Siji jejer telu atau satu berjajar tiga memiliki maksud kedua pasangan sama-sama anak pertama, dan salah satu orang tuanya juga anak pertama dalam keluarga. Jika ada ‘formasi’ semacam ini, masyarakat Jawa percaya bahwa pernikahan tersebut akan mendapat sial dan malapetaka.

4. Posisi rumah berhadapan

Tak hanya urusan anak nomor berapa yang jadi bahan pertimbangan masyarakat Jawa dalam menentukan jodoh, namun juga perkara letak rumahnya. Di Jawa Timur, kepercayaan yang beredar menyebutkan bahwa calon pengantin yang rumahnya tinggal berhadapan dilarang menikah karena bisa mendatangkan masalah di kehidupannya.

Posisi rumah kedua calon pengantin tidak boleh berhadapan (homesyariah.com)

Jika tetap nekat ingin menikah, maka salah satu rumah harus direnovasi dengan memindah arah hadapan muka rumahnya agar tidak saling bertemu. Solusi lain, salah satu calon bisa diangkat oleh kerabat, sehingga dianggap tidak tinggal di dalam rumah yang posisinya berhadapan. Rumit, ya?

5. Bulan Syuro

Masyarakat Jawa menganggap menikah di bulan Syuro adalah hal yang pantang dilakukan. (pinterest.com)

Masyarakat Jawa pantang menggelar pernikahan di bulan Syuro atau Muharram karena dipercaya sebagai waktu yang keramat. Tak hanya pernikahan, segala macam hajatan besar lainnya pun tidak boleh dilakukan pada bulan ini karena diyakini bisa mendatangkan musibah bagi keluarga besar.

Itulah mitos-mitos yang telah beredar di masyarakat Jawa sejak dahulu dan diwariskan turun-temurun, meski terkadang bertentangan dengan logika. Jadi, kamu memilih percaya atau tidak?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *