Mengapa Kita Sering Merasa Sulit Tidur di Tempat Asing? Ini Alasan dan Cara Mengatasinya

Kamu sering mengalaminya?

Pernah nggak sih suatu ketika kamu menginap di tempat teman namun tak bisa tidur sama sekali? Sekalipun terlelap, tubuh dalam keadaan siaga sehingga mudah terbangun hanya karena suara kecil sekalipun. Nyatanya kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami hal tersebut. Sebagian orang merasa sulit tidur di tempat asing karena ada alasan ilmiah yang melatarbelakangi.

Sulit tidur di tempat asing (rd.com)

Ketika tidur di kamar sendiri atau dimanapun di dalam rumah, kamu bisa terlelap dengan cepat, merasa nyenyak dan dalam waktu yang lama. Hal tersebut terjadi karena tubuh dan otak sudah familiar dengan tempat tersebut. Namun ketika harus tidur di tempat lain yang jauh dari rumah, otak akan menyadarinya dan mulai menyesuaikan diri. Kondisi ini memiliki sebutan ilmiah “efek malam pertama”.

Apalagi jika kamu tak pernah menginap dimanapun, suatu ketika harus tidur di tempat lain pasti akan mengacaukan kebiasaan tidur yang selama ini terbentuk. Karena pada dasarnya pikiran tidak akan memberikan toleransi sampai mendeteksi kondisi aman dan familiar.

Otak dalam mode standby (ndnr.com)

Menurut seorang ahli, Masako Tamaki kepada Guardian, fenomena tersebut bisa disamakan ketika otak melakukan “ronda”. Jika dianalogikan seperti Game of Thrones, maka setengah dari otak adalah Night Watch dan yang lain adalah the wall. Sebelum bisa memastikan bahwa ruangan tersebut aman untuk tidur, maka akan memicu sistem jam malam sehingga bisa mendeteksi suatu yang tidak biasa. Sifatnya seperti siaga untuk perlindungan.

Untuk mendapatkan jawaban yang lebih akurat, Tamaki melakukan riset di Brown University kemudian menerbitkan studi pada 2016 dalam Current Biology. Dalam tulisannya Tamaki menjelaskan, susah tidur di lingkungan yang tidak dikenal adalah cara untuk bertahan hidup di lingkungan asing dan berpotensi bahaya. Caranya dengan menjaga salah satu belahan otak lebih waspada dari pada belahan lain sebagai penjaga malam, yang membangunkan orang ketika tanda-tanda eksternal yang tidak dikenal terdeteksi.

Otak selalu waspada (HelloFlo)

Singkatnya, penelitian ini telah menunjukkan ketika kita berada di lingkungan baru, asimetri interhemisfer terjadi di regional SWA, kewaspadaan, dan responsivitas sebagai jam malam untuk melindungi diri kita sendiri. Bahkan terhadap suara di ruangan yang berdekatan, bunyi toilet disiram, suara AC, atau bahkan lalu-lintas yang bising. Apapun itu jika tidak biasa, otak akan berusaha menyelidikinya.

Untuk mengatasinya, Tamaki menyarankan untuk membawa hal-hal yang familiar misalnya bantal kesayangan, boneka, atau selimut. Bisa juga dengan memilih tempat yang modelnya mirip dengan rumah sehingga otak lebih mudah menyesuaikan lingkungan.

Bawa barang yang familiar (prod.static9.net.au)

Selain itu, peneliti tidur Rebecca Robbins merekomendasikan “rutinitas pra-tidur” untuk melatih pikiran masuk zona tidur. Mulai dengan mematikan komputer 90 menit sebelum tidur dan lakukan sesuatu yang santai. Cara lain adalah mandi dengan air hangat dan dinginkan kamar, transisi ini akan membantumu tertidur.

Dengan begitu kamu bisa lebih nyenyak tidur meski di lingkungan asing. Pun bangun dengan tubuh segar karena otak bisa beristirahat tanpa harus “begadang” karena waspada.

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *