Untuk Kamu yang Masih Menebak-nebak, Percayalah, Merantau Itu Enak

Ini bukan tentang kebebasan lho ya…

784
SHARES

Bagi kamu yang masih bertanya-tanya merantau itu enak apa tidak, entah itu untuk untuk tujuan mencari uang atau pun menempuh pendidikan, saya akan menjelaskannya terang-terangan. Dan kalau pada akhirnya kamu beranggapan bahwa saya membanggakan mereka yang hidup di kota orang dan menyiutkan hati orang-orang yang memilih tinggal di rumah (orang tua) sendiri, itu urusan belakangan.


Sebenarnya, merantau itu enak atau tidak sih? | pexels.com

Ketika saya memutuskan untuk merantau, yang artinya hidup jauh dari keluarga, banyak pertanyaan muncul di benak saya. “Apakah dengan merantau, saya bisa menjadi sukses? Apakah saya bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang tua?” Dan apakah-apakah yang lain, yang pasti akan membuatmu jenuh membaca jika saya benar-benar menuliskan semuanya.

Belajar tentang hidup yang sebenarnya

Hal pertama yang harus digarisbawahi dari merantau adalah, hidup di tempat orang lain itu tidak senyaman tinggal di kampung halaman. Di kampung halaman, kita bisa tidur enak di rumah orang tua, tidak perlu memusingkan urusan makan, dan tidak harus mengeluarkan biaya untuk bisa kumpul dengan keluarga. Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa belajar tentang hidup yang sebenarnya.

Meskipun tidak senyaman tinggal di kampung halaman, merantau bisa mengajarimu tentang hidup yang sebenarnya. | pexels.com

Dengan menitikberatkan pada enak dan nyamannya hidup di kampung halaman itu, tidak sedikit orang tua yang masih berat untuk melepas anaknya untuk merantau. Terutama sosok ibu, yang meskipun anaknya sudah cukup dewasa, dia masih saja menganggapnya seperti anak kecil yang manja dan membutuhkan banyak perhatian. Apa kamu juga merasakannya?

Saya pun merasakan hal yang sama. Oleh ibu saya, saya seperti didemo habis-habisan ketika keputusan untuk meninggalkan kenyamanan rumah keluar dari mulut saya. Namun dengan kekuatan yang sama besarnya, saya menyakinkan dia bahwa saya akan baik-baik saja. Saya merantau karena ingin pulang kembali membawa kebanggaan, bukan untuk menikmati kebebasan.

Merantaulah karena ingin pulang membawa kebanggaan, bukan untuk menikmati kebebasan. | timeout.com

Dan benar saja, yang kemudian saya rasakan dari merantau adalah menyempurnakan kedewasaan. Saya menjadi anak kos yang bahagia, mengatur hidup saya sendiri setiap harinya, me-manage keuangan sebaik-baiknya, menjalin hubungan dengan orang-orang yang sama-sama jauh dari orang tua, dan menjadi ‘orang tua’ dengan kebutuhan sehari-hari sebagai anak sekaligus tanggung jawab saya.

Jujur, saya benar-benar bahagia dengan semua ‘kesenangan’ yang mustahil saya dapatkan andai saya memutuskan untuk tetap tinggal di kampung halaman itu. Nilai lebih lain, saya punya kesempatan untuk merasakan sendiri bagaimana asyiknya pulang kampung bersama ribuan perantau lain yang rindu dengan kampung halaman masing-masing, keluarga masing-masing, dan orang tua masing-masing.

Hingar-bingar kebebasan

Pada titik ini, saya jadi ingat bagaimana alamiahnya para orang tua yang merasa khawatir ketika mereka tidak bisa melihat anaknya setiap hari. Namun sayangnya, banyak dari kita yang justru lupa diri saat jauh dari orang tua. Banyak dari kita yang merayakan kebebasan, padahal di rumah, orang tua kita sering tidak enak makan karena begitu cemas dengan keadaan kita yang hidup di kota orang.

Saat merantau, jangan pernah lupakan orang tua yang sering tidak enak makan karena mengkhawatirkan kamu yang jauh di kota orang. | pexels.com

Jadi, meskipun saya tekankan sekali lagi bahwa merantau itu enak, jangan pernah lupa untuk tetap menjaga kepercayaan dan ketenangan orang tua. Jangan sampai, hanya karena alasan bekerja atau meyelesaikan pendidikan kita malah hanyut dalam hingar-bingar kebebasan yang berlebihan.

Silahkan merantau seperti saya, namun tetap jaga diri sebaik mungkin dan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh orang tua. Jika merasa tidak mampu, sebaiknya urungkan niatmu untuk merantau dan isi hari-harimu dengan bermalas-malasan di rumah orang tuamu sendiri.

784
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."