Jika Ingin Tahu Rasanya Menyembunyikan Rasa Sakit, Tanyakan pada Mereka yang Terlihat Bahagia

Tapi, apa mereka yang terlihat bahagia benar-benar sedang tersakiti?

Era digital telah membawa perubahan yang sedemikian besar terhadap pola pikir masyarakat. Saat ini, hampir semua orang punya akun media sosial. Lalu, postingan-postingan galau pun bertebaran di mana-mana, yang sebagian besar berasal dari para remaja yang pola pikirnya masih amburadul.

Sugesti pembentuk perspektif munafik

Tentu saja, fenomena postingan galau seperti ini akan mudah menular dari satu remaja galau ke remaja galau lainnya. Semakin alay dan viralnya sebuah postingan galau, maka akan semakin mudah bagi remaja lain untuk membaca, baper, percaya, kemudian melakukan hal yang serupa.

Inilah yang seharusnya kita waspadai. Sebisa mungkin, kita harus memproteksi diri dari akun-akun yang telah kecanduan postingan galau ala cuma-cuma. Karena tentu saja, apa yang mereka tulis dan share bisa menjadi semacam sugesti negatif yang mampu membentuk perspektif munafik.

Misalnya saja, postingan seperti ini:

Percayalah, ada kebohongan besar di balik quote yang indah ini. | inovasee.com

Bila kita kaji mentah-mentah, quote yang sebenarnya menarik ini akan cenderung membentuk suatu anggapan bahwa orang yang terlihat bahagia sebenarnya sedang mati-matian menyembunyikan rasa sakitnya. Sekali lagi, itu jika kita hanya membaca sekilas dan memahaminya mentah-mentah.

Padahal faktanya, menyembunyikan rasa sakit justru akan membuat seseorang sangat tidak bahagia, merana, dan putus asa. Dan satu hal lagi, tidak semua orang yang terlihat bahagia pasti sedang sibuk menyembunyikan rasa sakit. Percayalah, tak semua orang mau menjadi alay.

Bahagia yang haqiqi

Bukan berarti orang yang bahagia tak pernah sekali pun tersakiti secara emosional, hanya saja, orang-orang berjiwa fighter seperti ini memilih untuk menerima rasa sakit dan menghadapinya. Sehingga ketika mereka bahagia, mereka benar-benar merasakan apa itu bahagia yang haqiqi.

Bahagia yang haqiqi, sebuah kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang enggan menyembunyikan rasa sakit. | entrepreneur.com

Pada akhirnya, yang namanya menyimpan rasa sakit itu benar-benar sakit seperti ketika kita dipaksa menelan granat yang telah dicabut pin penguncinya. Selain rasanya berbeda dengan ketika kita menelan irisan buah mangga, kita juga harus siap kehilangan kepala dan nyawa kapan saja.


Rekomendasi #SobatInovasee:

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

2 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *