Sudah Siapkah Kamu Menjadi Seorang Istri Sekaligus Ibu yang Baik Hati?

Karena setelah menikah nanti, kamu harus mampu menjadi pahlawan di keluarga kecilmu

Terutama di Indonesia, seorang wanita yang sudah menginjak usia 20-an cenderung dibudayakan untuk segera mengubah statusnya yang semula lajang menjadi istri. Kamu yang sekarang berusia 20 hingga 30 tahun pasti juga sedang dibuat gusar dengan serangan budaya yang berlangsung turun-temurun itu, kan? Lantas pertanyaannya, sudah siapkah kamu menjadi seorang istri sekaligus ibu?

Menginjak usia 20 tahun, wanita Indonesia cenderung ‘dipaksa’ untuk segera menikah. | pexels.com

Peran ganda seorang istri

Bagi saya pribadi, pernikahan bukan hanya soal menyatukan dua insan yang saling jatuh cinta, namun juga soal kematian paham-paham egosentrisme. Pernikahan bukanlah prosesi satu hari yang bisa sembarangan digelar. Lebih dari itu, pernikahan membutuhkan pemikiran yang benar-benar matang.

Dibutuhkan pemikiran yang benar-benar matang untuk bisa kompeten melangsungkan pernikahan. | pexels.com

Karena setelah pada akhirnya kamu yakin dengan keputusanmu untuk menikah, urusannya tidak berhenti sampai disitu. Kamu, akan segera dihadapkan pada satu hal penting yang pasti menyita pikiranmu sebagai seorang istri. Apa itu? Adalah menjadi seorang ibu untuk anak-anak dari pria yang telah kamu pilih untuk menemani sisa hidupmu. Maka, sudah siapkah kamu menjadi seorang ibu?

Membimbing dan membentuk karakter anak

Mungkin sepele kedengarannya. Namun percayalah, untuk menjadi ibu yang baik dibutuhkan kemampuan luar biasa yang melebihi pahlawan perang. Nanti, bersama suamimu, kamu harus bisa membesarkan anak-anakmu dengan penuh cinta. Kamu harus mampu menjadi pahlawan di keluarga kecilmu, yang setiap hari harus melawan rasa lelah agar bisa mengurus rumah dan buah hatimu.

Seorang istri sekaligus ibu harus mampu menjadi pahlawan di keluarga kecilnya sendiri. | pexels.com

Maka, mental menjadi aspek terpenting yang harus kamu miliki ketika memutuskan untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu. Yang tadinya bebas melakukan banyak hal sendiri, nanti kamu harus siap mengorbankan hampir seluruh waktu bahkan nyawa untuk suami dan anak-anakmu.

Kamu adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas anakmu sejak masih dalam kandungan. Dan setelah kelahiran itu tiba, kamu harus siap untuk mempertaruhkan nyawa demi bisa melihat, menyentuh, dan merawat bayi yang selama sembilan bulan meringkuk di perutmu. Setelah itu pun, kamu masih harus menanggung banyak peran untuk membentuk pribadi buah hatimu itu.

Sebagai seorang ibu, kamu adalah sekolah pertama bagi anak-anakmu. Karena itu, menurut saya, pendidikan tinggi yang dimiliki seorang wanita bukan semata-mata hanya digunakan untuk kepentingan karir saja, namun juga sebagai bekal mengurus anak.

Bukan dalam artian harus pandai mengajarkan filsafat hingga algoritma, namun bagaimana seorang ibu mampu membimbing dan membentuk karakter anak yang cerdas dari segi IQ, EQ dan SQ. Kamu yang sudah mengenyam bangku kuliah pasti mampu mengajarkan problem solving dengan baik.

Sosok sempurna dalam keluarga

Kecerdasan mengatur finansial dan emosional juga menjadi hal lain yang harus kamu kuasai. Karena dalam berumah tangga, bukan lagi hanya tentang apa yang ingin kamu beli, namun juga tentang ‘apa yang ingin kita wujudkan’. Ada masa depan yang harus dipersiapkan, bukan hanya soal bagaimana esok hari.

Di level rumah tangga, masa depan bukan hanya soal esok hari mau makan apa. | diaryperempuan.com

Oleh karena itu, mengomunikasikan banyak hal kepada suami menjadi kunci dalam sebuah hubungan pernikahan. Hal itu pun harus bisa kamu terapkan pada anak, yang berarti menjadi pendengar sekaligus teman diskusi yang baik untuk suami dan anak merupakan tugas moril yang wajib kamu pahami. Bersama suami, kamu harus mampu menciptakan generasi muda yang berjiwa besar.

Kalau sekarang kamu benar-benar mengagumi ibumu yang baik hati itu, kekaguman seperti itu juga yang harus kamu inginkan dari anak-anakmu nanti. Menjadi sosok sempurna dalam keluarga yang pantas dibanggakan harus menjadi impian sederhanamu.

Jadi, di antara sentilan-sentilan ‘kapan nikah’ dan usiamu yang sudah menginjak kepala dua itu, sudah siapkah kamu menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik hati?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *