Penolakan Adalah Bagian dari Hidup. Maka, yang Terpenting Adalah Bagaimana Menghadapinya

Karena ingin bahagia atau tidak, kamu sendiri yang bisa menentuk

Tak peduli seberapa pun hebatnya kamu, kamu tak akan pernah bisa lepas dari yang namanya penolakan. Karena itu, yang lebih penting untuk dipikirkan adalah bagaimana menghadapinya.

Saking umumnya penolakan, kita bahkan sering tak menganggapnya demikian. Kita, sering tidak menganggap penolakan sebagai sebuah penolakan. Saat teman tak mau diajak pergi, atau saat pasangan tak cepat-cepat membalas pesanmu, misalnya.

Menghadapi penolakan jauh lebih penting daripada terus meratapinya. | thenypost.wordpress.com

Namun, memang ada orang-orang yang lebih perasa, seperti mereka yang sakit hati saat teman tak tertawa atas lelucon yang mereka buat. Ya.. bagaimana pun, tetap ada momen-momen di mana orang pada umumnya merasa kewalahan menghadapi penolakan.

Momen-momen paling tak mengenakkan dari penolakan antara lain adalah saat melamar pekerjaan, mengajak seseorang kencan, menembak gebetan, atau saat berusaha jadi bagian dari suatu kelompok.

Pahami mengapa penolakan terasa menyakitkan

Untuk bisa mengatasi penolakan dengan baik, ada baiknya kamu memahami mengapa penolakan terasa menyakitkan. Secara ilmiah, para ilmuwan telah menemukan jawaban bahwa penolakan mengaktifkan bagian otak yang sama dengan saat kamu merasakan sakit fisik.

Ternyata, penolakan juga bisa mengaktifkan bagian otak yang mengolah rasa sakit fisik. | tiaju.com

Yang lebih mengkhawatirkan, ternyata penolakan dari cinta tak berbalas merupakan jenis penolakan yang lebih intens terjadi pada rata-rata orang. Sehingga, intensitas penolakan ini telah menyebabkan efek yang bergeser dari sakit emosional ke sakit fisik.

Kamu mungkin berpikir ini berlebihan, namun sebuah riset pada tahun 2010 menunjukkan bahwa pil penghilang rasa sakit (asetaminofen) mampu mengurangi perasaan sakit tersebut. Namun tentu saja, menenggak pil bukanlah cara yang baik untuk mengusir sakit hati karena ditolak, kan?

Kamu belum tentu menjadi alasan di balik sebuah penolakan

Memahami penolakan, bisa dimulai dengan mengakui dirimu sebagai seorang manusia. Untuk mengubah kesan yang dirasakan atas penolakan, kamu perlu memupuk rasa percaya diri. Yakinlah bahwa kamu sangat berharga.

Satu-satunya alasan kamu begitu menderita akibat penolakan adalah karena kamu merasakan ikatan emosional dengan orang yang menolakmu. Penolakan menjadi beban saat kamu menaruhnya di pundak, menyalahkan diri sendiri, dan yakin ada yang salah dengan dirimu hingga ditolak.

Padahal, kamu belum tentu menjadi alasan di balik penolakan itu. Ketahuilah bahwa orang yang menolakmu punya masalahnya sendiri, hingga harus melakukan penolakan yang menyakitkan itu. Penolakan, terutama yang kasar kerap kali merupakan manifestasi dari kurangnya toleransi.

Semua orang punya masalahnya sendiri. Jadi, kamu belum tentu menjadi penyebab dari sebuah penolakan. | queenestherpreparation.com

Jadi, yakinlah bahwa penolakan tersebut adalah karena alasan yang lebih besar, yang akan kamu ketahui suatu saat nanti. Apalagi jika mengingat bahwa penolakan adalah bagian dari hidup, maka seharusnya kamu tak perlu merasa bahwa itu merupakan rasa sakit baru yang belum pernah kamu alami sebelumnya. Ingat saja bagaimana kamu pernah merasakan perasaan yang sama sebelumnya, dan nyatanya tetap bisa melanjutkan hidup.

Alih-alih merasa terpuruk dan larut dalam sakit hati, jadikan penolakan sebagai kesempatan terbaik untuk berkaca kembali, menyingkirkan ego dan introspeksi diri. Bukan tak mungkin, penolakan yang kamu alami itu justru bisa mengilhami lahirnya pemikiran-pemikiran kreatif.

Bagaimana pun caramu menghadapi penolakan, ingatlah bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa kamu ciptakan sendiri. Seseorang bisa berkontribusi terhadap kadar kebahagiaanmu, tapi, dia tak bisa menjadi satu-satunya sumber kebahagiaanmu.

Ingin bahagia atau tidak, kamu sendiri yang bisa menentukan.

Bagaimana.. suka dengan apa yang baru saja kamu baca? Kalau iya, maka jangan ragu untuk membagikannya kepada teman dan orang-orang tercinta.

Salam, dan jangan lupa bahagia!

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *