Hal-Hal yang Perlu Kita Pelajari dari Jepang Tentang Menghadapi Gempa Bumi

Pendidikan tentang gempa bumi dan cara menghadapinya harus sudah diajarkan sedari kecil agar terbiasa

Gempa bumi yang terasa beberapa hari lalu di kawasan Banten dan Jakarta kembali menyadarkan kita bahwa Indonesia adalah kawasan yang berada di jalur cincin api Pasifik yang merupakan jalur gempa teraktif di dunia. Artinya, gempa bumi bisa datang kapan saja tanpa pernah peduli apakah kita siap atau tidak menghadapinya.

Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk belajar tanggap dan siap dalam menghadapi gempa bumi kapanpun terjadi. Untuk itu, ada baiknya kita belajar dari Jepang yang memiliki ‘disaster management’ bagus ketika gempa bumi maupun bencana lainnya seperti tsunami terjadi. Seperti yang kita tahu, Jepang adalah negara yang juga memiliki sejarah panjang tentang gempa bumi ataupun tsunami. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kita pelajari darinya.

1. Simulasi bencana

Gempa besar Jepang 1923 (okezone.com)

Pada tanggal 1 September 1923, gempa bumi dahsyat melanda wilayah Kanto di Jepang dan mengakibatkan 140 ribu orang tewas. Atas dasar itulah pemerintah Jepang pun mulai menginisiasi program simulasi bencana gempa bumi. Bahkan, Jepang juga mencanangkan Hari Pencegahan Bencana setiap 1 September yang telah berlangsung sejak 1960. Pada peringatan itu, tidak peduli apapun jabatanmu, bahkan perdana menteri sekalipun, akan ikut bersama dalam simulasi bencana tersebut. Tujuannya jelas, agar seluruh warga mempunyai kesiapan dan kesigapan saat bencana melanda.

2. Pelatihan evakuasi

Latihan evakuasi bencana (drrindonesia.co.id)

Selain rutin melakukan simulasi bencana, Jepang juga membekali warganya dengan pengetahuan dan pelatihan penanganan gempa, termasuk bagaimana cara mengevakuasi orang tanpa panik. Pelatihan ini juga melibatkan seluruh warga, khususnya bagi mereka yang bekerja di sektor publik seperti stasiun kereta api, pusat perbelanjaan, gedung-gedung perkantoran dan gedung-gedung publik.

3. Langkah antisipasi

Setelah mulai terbiasa mengikuti berbagai simulasi bencana, warga Jepang sudah otomatis akan melakukan langkah-langkah antisipasi dan perlindungan diri. Misalkan saja, mereka akan menyimpan sepatu di bawah tempat tidur guna menghindarkan kaki dari terkena pecahan kaca dan menaruh sepeda di halaman untuk digunakan sebagai transportasi darurat.

Anak usia SD pun sudah dibiasakan untuk melakukan tindakan antisipasi yang tepat kala terjadi bencana (anibee.tv)

Sedangkan untuk perlindungan diri, mereka sudah dilatih untuk refleks melindungi kepala dengan meja yang kuat agar tidak tertimpa benda-benda keras. Langkah ini lebih tepat dilakukan ketimbang tergesa-gesa lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Selain itu, dengan berlindung di bawah meja atau benda lain, mereka akan segera mematikan aliran gas dan memastikan pintu tetap terbuka agar terhindar dari resiko terjebak reruntuhan.

 

4. Sistem peringatan dini

Saat ini, Jepang menjadi negara dengan sistem peringatan dini terhadap bencana paling canggih di dunia. Salah satunya adalah sistem peringatan tsunami yang sudah dipakai sejak tahun 1952 dengan 300 sensor tersebar di seluruh pantai, termasuk 80 sensor air guna memantau aktivitas seismik selama 24 jam perhari. Melalui alat itulah Jepang bisa memprediksi ketinggian, kecepatan, lokasi dan waktu kedatangan tsunami ke pantai Jepang. Pemerintah daerah juga dilatih agar bisa segera menginformasikan bencana dan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan.

5. Aplikasi peringatan

Aplikasi peringatan gempa membuat setiap orang bisa lebih waspada terhadap gempa yang terjadi (japanesestation.com)

Karena sering terjadi gempa di Jepang, setiap orang di Jepang memiliki aplikasi peringatan gempa di ponsel mereka. Teknologi yang kian maju tentu memudahkan hal ini, dan tentunya bisa kita contoh. Untuk saat ini, masyarakat Indonesia masih terlalu mengandalkan tanda peringatan bencana yang muncul di media konvensional seperti televisi atau radio. Jika aplikasi peringatan bisa dihadirkan pada perangkat personal kita, maka kita tentu bisa lebih waspada menghadapinya.

6. Peningkatan material bangunan

Belajar dari pengalaman, Jepang menciba untuk mengembangkan bangunan dengan material tahan gempa. Sejak tahun 1981, pemerintah Jepang memperbarui aturan-aturan terkait pendirian bangunan dengan mempertimbangkan masukan dari para ahli gempa. Masuk tahun 2000, aturan tersebut kembali disesuaikan dengan menambahkan aturan persyaratan tertentu dan pemeriksaan wajib. Hasilnya, meski sering dilanda gempa kini sudah jarang ada bangunan yang runtuh di Jepang.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *