Mengenang 18 Tahun Pemilu 1999: 48 Partai Adalah Jumlah yang Keterlaluan

Selain bikin bingung, kita juga jadi tidak fokus

Delapan belas tahun lalu, tepatnya di bulan Juni 1999, pemilu (pemilihan umum) pertama paska lengsernya Soeharto resmi digelar. Pesta demokrasi ini membuka lembaran baru sejarah Indonesia setelah sebelumnya diperintah Soeharto dalam kurun waktu 32 tahun.

Seperti kita tahu, pemilu memang juga digelar di masa pemerintahan Orde Baru. Namun hasilnya selalu bisa ditebak: Golkar memenangi perolehan suara, dan Soeharto kembali diangkat sebagai Presiden Indonesia. Oleh karenanya, tak heran jika rakyat Indonesia antusias menyambut pemilu di tahun 1999.

48 Partai

Demikian besarnya antusias rakyat Indonesia, demikian besar pula antusias orang untuk berorganisasi dan terjun ke dunia politik melalui partai. Jika sepanjang Orde Baru hanya ada tiga partai saja, maka di tahun 1999 muncul 48 partai yang masing-masing mempunyai misi tersendiri untuk menjadi bagian dalam menentukan langkah Indonesia ke depannya.

Peserta pemilu 1999 – www.seasite.niu.edu

Jumlah ini boleh dibilang luar biasa keterlaluan. Pasalnya, rakyat jadi harus menentukan pilihan yang menurutnya terbaik dari ke-48 partai tersebut. Padahal, belum tentu rakyat bisa mengenal dengan jelas visi-misi dan calon yang diusung oleh masing-masing partai beserta track record-nya. Tak heran jika rakyat pun akhirnya kewalahan saat pencoblosan.

Hingga saat ini, pemilu 1999 menjadi pemilu dengan jumlah partai terbanyak – kompas

Permasalahan juga timbul bagi mereka yang masih buta huruf atau tidak melek politik. Akibatnya, banyak orang yang telah berusia lanjut asal mencoblos atau mencoblos berdasarkan gambar yang telah berkali-kali disugestikan padanya. Saat itu, banyak sekali simpatisan partai yang mengkampanyekan partai yang didukungnya melalui berbagai cara, termasuk dengan memperbanyak gambar partainya untuk ditempel di kawasan pemukiman. Tujuannya agar masyarakat yang kebingungan tersugesti untuk memilih partai tersebut.

Rumor kerusuhan dan hal-hal dibalik penghitungan suara

Kala itu, banyak rumor yang memperkirakan bahwa Indonesia akan kembali bergejolak saat pemilu. Kekhawatiran ini berdasarkan tragedi 1998 yang mendasari lengsernya Soeharto untuk kemudian digantikan Wakil Presiden B.J. Habibie. Para pengamat menilai bahwa situasi masih rawan dan berpotensi terjadi pergolakan besar. Untungnya, kekhawatiran itu tak terbukti dan pemilu bisa berjalan lancar meskipun terdapat beberapa kendala. Walau demikian, beberapa kali terpantau ada pemberitaan dimana terdapat korban jiwa saat musim kampanye berlangsung.

Ilustrasi pencoblosan – acehkita.com

Salah satu kendala yang muncul pada pemilu 199 adalah lambatnya proses penghitungan suara. Padahal, Indonesia mendapat bantuan asing bernilai jutaan dolar AS untuk jaringan perangkat penghitungan suara. Belum lagi munculnya kekhawatiran calon Presiden dari partai pemenang belum pasti terpilih karena sistem di MPR tidak otomatis menghasilkan pilihan itu. Boleh dibilang, proses pesta demokrasi di tahun 1999 adalah proses pembelajaran yang benar-benar berarti bagi perjalanan Indonesia.

Kita memang masih harus menunggu dua tahun lagi untuk menantikan pemilu berikutnya di tahun 2019 nanti. Harapannya, rakyat tidak lagi terpengaruh isu-isu menyesatkan yang gencar menerpa pemilu di tahun 2014 silam. Bagaimanapun juga, hal-hal seperti itu mengancam keutuhan Indonesia dan bisa menyeret kita kembali ke jaman purba.

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *