Mengenal Tradisi Bakar Batu di Pedalaman Papua yang Jadi Ritual Berbagai Perayaan

Upacara unik ini bisa membuat warga rela tidak bekerja berhari-hari, loh!

Sebagai sebuah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai ras dan suku bangsa, Indonesia jelas memiliki kekayaan budaya yang luar biasa banyaknya. Tak heran jika kita bahkan terkadang merasa asing dengan sebuah adat istiadat dari suku dan masyarakat tertentu.

Baca juga : Meski Kaya Raya, 6 Orang Milyarder Ini Tetap Memilih Hidup Sederhana

Salah satu tradisi adat yang unik dan menarik untuk diketahui adalah tradisi bakar batu yang merupakan ritual penting di Papua. Sesuai namanya, ritual ini memang betul-betul membakar batu untuk kemudian diletakkan di atas tumpukan daging atau makanan hingga makanan tersebut matang.

Ritual berbagai perayaan

Meski dikenal luas sebagai tradisi bakar batu, namun masing-masing suku atau tempat di Papua punya istilahnya sendiri untuk menyebut ritual adat ini. Misalkan saja Gapiia (Paniai), Barapen (Jayawijaya), atau Kit Oba Isogoa (Wamena). Biasanya, suku di kawasan pedalaman atau pegunungan saja yang menggelar tradisi bakar batu ini seperti di Lembah Baliem, Nabire, Paniai, Jayawijaya, Pegunungan Tengah, Yahukimo, Dekai dan lain sebagainya.

Presiden Jokowi ketika menghadiri upacara bakar batu di Papua (Twitter)

Ritual ini diadakan untuk tujuan bersyukur, silaturahmi, kelahiran, pernikahan adat, penobatan kepala suku, atau bahkan ketika mengumpulkan prajurit untuk berperang. Warga satu kampung pun dilibatkan dalam ritual ‘memasak’ ini. Sedangkan untuk bahan makanan yang biasa hadir dalam tradisi bakar batu diantaranya: daging babi (bisa diganti ayam atau sapi untuk wilayah yang beragama Islam seperti masyarakat adat Walesi),ubi jalar, singkong dan sayur-mayur.

Tata cara bakar batu

Seperti halnya ritual adat di berbagai tempat, selalu ada tata cara yang harus dipatuhi dalam menjalankan ritual bakar batu ini. Misalkan saja, babi yang akan dimasak tidak boleh langsung disembelih, melainkan harus dipanah terlebih dahulu. Menurut kepercayaan setempat, jika babi langsung mati maka pertanda acara akan sukses. Namun jika tidak langsung mati, tandanya acara tidak akan berjalan lancar.

Tradisi bakar batu di Papua (ANTARA FOTO)

Ketika ritual bakar batu dimulai, batu akan diletakkan diatas perapian lalu dibakar hingga kayu bakar habis terbakar dan batu menjadi panas. Tak jarang, batu yang dibakar sampai berwarna merah membara saking panasnya. Bersamaan dengan itu, warga membuat lubang yang cukup dalam untuk menempatkan makanan dan batu bakar tadi. Batu yang masih membara tadi lantas diletakkan di dasar lubang yang sebelumnya sudah dialasi daun pisang serta ilalang. Jika sudah, daun pisang diletakkan lagi di atas batu panas untuk kemudian ditaruh daging yang ingin di masak. Setelah peletakan daging merata, daging tersebut ditutup daun pisang dan ditumpuki lagi dengan batu panas, lalu daun lagi.

Dalam tradisi bakar batu,
biasanya menggunakan daging babi, ubi, singkong serta sayur mayur sebagai makanannya (kidsklik.com)

Di atas daun itu kemudian ditaruhlah ubi jalar (batatas), singkong (hipere), dan sayur-mayur. Jika sudah, kemudian ditutup daun lagi, ditumpuki batu panas lagi, dan terakhir ditutup dengan daun pisang serta ilalang. Setelah matang (biasanya setelah dimasak selama 1 jam), semua warga suku berkumpul dan saling berbagi makanan untuk dimakan bersama di lapangan tengah kampung. Hal ini untuk mempererat kekeluargaan, solidaritas dan kebersamaan suku tersebut. Kepala Suku menjadi orang pertama yang menerima jatah berupa sebongkah daging dan ubi, baru selanjutnya seluruh warga mendapatkan jatah yang sama.

Upacara bakar batu dilakukan untuk merayakan banyak hal, mulai dari kelahiran, pernikahan adat, hingga penobatan kepala suku (kemenkopmk.go.id)

Tradisi bakar batu ini memiliki posisi yang sakral sehingga warg suku pedalaman Papua amat menantikannya. Bahkan, mereka rela tidak bekerja berhari-hari atau menelantarkan ladangnya demi menghadiri ritual bakar batu ini. Tak hanya itu, mereka juga tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk membiayai pesta ini. Oh ya, tradisi bakar batu ini juga kerap dilaksanakan untuk menyambut kedatangan tamu penting semisal Presiden ataupun pejabat negara lainnya.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Emma, Bayi yang Lahir dari Embrio yang Dibekukan 24 Tahun Lamanya

Selfitis, Kelainan Mental Kaum Milenial yang Terobsesi pada Selfie