Mengenal Sejarah Lampion yang Dianggap Sebagai Simbol Pembawa Berkah di Tahun Baru Imlek

Selain pembawa berkah, masyarakat Tionghoa percaya bahwa lampion mampu menangkal aura jahat

Beberapa saat lagi, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa akan merayakan tahun baru Imlek yang jatuh pada tanggal 16 Februari 2018. Pada tahun anjing tanah ini, kita akan dengan mudahnya menemukan berbagai tradisi dan dekorasi khas Imlek di pecinan yang ada di kota kita, termasuk dengan kehadiran lampion.

Seperti kita tahu, lampion tidak pernah absen hadir dalam perayaan Imlek di seluruh dunia. Tak hanya di vihara, namun juga di rumah warga keturunan Tionghoa, dan bahkan di pusat perbelanjaan sekalipun! Maklum, lampion seringkali dianggap sebagai simbol pembawa berkah. Lantas, bagaimana awal mulanya sehingga lampion bisa memiliki makna sepenting itu?

Berusia lebih dari 2000 tahun

Sejarah mencatat, keberadaan lampion sudah dikenal sejak zaman dinasti Han 2000 tahun yang lalu. Kala itu, bahan pembuat lampion biasanya menggunakan kulit binatang atau kain. Lampion dengan bahan kertas baru dikenal beberapa waktu kemudian, tepatnya setelah teknik membuat kertas mulai dikenal luas. Walaupun sudah ada sejak 2000 tahun silam, namun lampion baru mulai menjadi benda wajib dalam perayaan tahun baru Imlek sejak zaman dinasti Ming pada kisaran tahun 1300an.

Lampion tahun baru Imlek identik dengan warna merah (tokopedia.net)

Seperti yang sering kita lihat, lampion pada tahun baru Imlek biasanya berwarna merah. Pilihan warna ini ternyata punya makna tersendiri, yakni menjadi simbol harapan bahwa di tahun yang baru ini, akan datang keberuntungan, kebahagiaan, dan berkah yang melimpah. Selain itu, lampion juga dipercaya mampu mengusir kekuatan jahat yang ingin menghampiri kediaman seseorang.

Lampion si pembawa berkah

Ada sebuah kisah menarik yang konon menjadi penyebab orang menganggap lampion sebagai simbol pembawa berkah. Zaman dahulu kala, tepatnya pada masa pemerintahan dinasti Ming, tersebutlah seorang perampok bernama Lie Cu Seng yang boleh dibilang mempunyai karakteristik macam Robin Hood.

Pasalnya, Lie suka merampok orang-orang kaya untuk kemudian membagikan hasil rampokannya pada orang-orang miskin. Suatu ketika, Lie difitnah sehingga banyak masyarakat mengira bahwa hasil rampokannya itu hanya untuk dirinya sendiri.

Lampion si pembawa berkah dalam tradisi kepercayaan masyarakat Tionghoa (negerihamesha.blogspot.co.id)

Untuk membuktikan bahwa ia tidak menguasai sendiri seluruh hasil rampokannya, maka Lie meminta seluruh masyarakat untuk membuat lampion. Barangsiapa yang kemudian menggantung lampion di depan rumahnya, akan kebagian hasil rampokan Lie Cu Seng.

Lie pun menepati janjinya dan berkeliling kota membagikan hasil rampokannya ke setiap rumah yang memasang lampion di malam hari. Dari kisah inilah kemudian rakyat menganggap lampion sebagai pembawa berkah.

Tulis Komentarmu
Dozan Alfian

Written by Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Jangan Hanya Pasrah pada Waktu Untuk Sembuhkan Luka Hatimu

Pendidikan, Percintaan, dan Pertemanan, Inilah Alasan Masa SMA Fase Terindah yang Susah Dilupakan