Mengenal Persekusi dan Bagaimana Cara Menghindarinya

Ayo bersama-sama kita lawan persekusi!

139
SHARES

Belakangan ini, kata persekusi marak jadi perbincangan, terutama setelah ada kejadian tidak mengenakkan yang menimpa seorang remaja berusia 15 tahun berinisial PMA di Jakarta Timur dan Fiera Lovita, seorang dokter di Sumatera Barat. Keduanya mengalami persekusi berupa teror dan intimidasi oleh sekelompok orang dari ormas tertentu karena dianggap menghina seorang tokoh yang menjadi pimpinan ormas tersebut melalui media sosial.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Meski seperti baru terdengar, namun sebenarnya kata persekusi sudah sejak lama ada. Penggunaan media sosial dan kemudahan di era informasi yang semakin pesat menjadi salah satu faktor yang bisa memancing orang atau kelompok melakukan persekusi, dimana orang atau kelompok lain yang dianggap menghina atau memiliki pendapat berseberangan bisa dengan mudah diburu untuk ‘dimintai pertanggungjawaban’. Lantas, bagaimana kita menghindari persekusi?

1. Beranikah kamu mengucapkannya secara langsung?

Kalau kamu tidak punya nyali untuk mengatakan langsung pendapatmu pada orang atau kelompok yang bersangkutan, maka janganlah mencoba menuliskannya di media sosial – vice.com

Dari kasus yang muncul, persekusi dilakukan setelah mendapati ada orang atau kelompok yang menulis sebuah status, cuitan, atau tulisan melalui media sosial yang bernada menghina orang atau kelompok lain. Sebelum kamu memutuskan untuk mempostingnya, renungkan dahulu, beranikah kamu mengatakan langsung perkataan tersebut di depan orang atau kelompok yang bersangkutan? Jika tidak, maka hindarilah mengunggah postingan tersebut.

2. Pahami dulu situasinya

Selalu cari tahu kebenaran dari sebuah berita atau cerita yang beredar di media sosial – youtube.com

Di media sosial, kamu tidak bisa seenaknya menuliskan sesuatu hanya berdasarkan rumor atau hoax. Oleh sebab itu, sebelum kamu memutuskan perlu atau tidaknya mengunggah sebuah status atau tulisan, yakinkan bahwa apa yang kamu ungkapkan itu punya dasar yang kuat. Jika tidak, maka secara tak langsung, bisa jadi kamulah yang memang menyulut orang atau kelompok untuk melakukan persekusi.

3. Ada konsekuensi di balik sebuah perbuatan

Selalu ada konsekuensi dari setiap pebuatan. Oleh karenanya, pahami benar-benar akibat yang mungkin timbul – aktual.com

Seperti layaknya hukum sebab-akibat, pahamilah bahwa selalu ada konsekuensi dari setiap perbuatan. Jika sampai poin kedua kamu masih merasa perlu untuk memposting status maupun tulisan yang punya potensi memancing reaksi negatif dari pihak lain, pikirkan dampak yang bisa ditimbulkan kemudian. Jika dirasa tak ada manfaatnya, maka urungkanlah niatmu.

4. Media sosial punya banyak tafsir

Ingatlah selalu bahwa apa yang kita tulis di media sosial belum tentu diterima sama bagi semua orang – icampusindonesia.com

Selalu ingatkan diri sendiri bahwa media sosial berbeda dengan bersosialisasi secara langsung atau tatap muka. Sebuah kalimat bisa saja diartikan lain hanya karena salah menaruh tanda baca. Karena itu, bijaksanalah dalam menggunakan media sosial. Jika menjadi sosok penyebab persekusi saja sudah tidak baik, apalagi jika kamu menjadi pelaku persekusi, bukan?

5. Jika terjadi persekusi, segera hubungi pihak berwenang

Hubungi nomor yang tertera kalau kamu jadi korban persekusi – infomenia.net

Jika pada akhirnya kamu merasa telah menjadi korban dari kesewenang-wenangan para pelaku persekusi, baik akibat ulah sendiri maupun tidak, segera laporkan pada pihak yang berwenang. Kamu juga bisa menghubungi hotline Crisis Center Korban Persekusi di nomor 0812-8693-8692 (bisa dengan telepon atau SMS). Ada juga layanan via e-mail ke [email protected]

Melalui tulisan ini, ayo kita bersama-sama lawan persekusi. Jika tidak ada api, maka tak akan ada asap. Jika kita tidak terpancing untuk membuat sebuah pernyataan yang kontroversial, maka pihak lain juga tidak punya alasan untuk membenarkan terjadinya persekusi. Apapun alasannya, persekusi harus dihentikan dan pelakunya layak mendapat hukuman yang setimpal.

139
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~