Mengenal Inferiority Complex, Penyakit Akut Bangsa Indonesia yang Sering Minder Sama Bangsa Lain

Apakah ini efek dari kelamaan dijajah bangsa asing?

200
SHARES

Saat berselancar di dunia maya, kalian pasti pernah menemukan komentar-komentar dari warganet Indonesia di suatu postingan yang terkait dengan prestasi atau kehebatan Indonesia pada suatu hal, kan? Misalkan saja saat ada orang Indonesia yang berhasil menjadi tokoh berpengaruh di negara lain, atau yang paling sepele, saat melihat ada bule yang memuji keindahan alam Indonesia di akun Instagram atau channel YouTube pribadinya.

Umumnya, reaksi yang bisa kita temukan adalah betapa warganet Indonesia terkagum-kagum akan hal tersebut dan memberikan komentar yang jatuhnya norak. Misalkan saja, “Wow! Amazing, that’s my country.. thank you for visiting Indonesia” dan masih banyak lagi contoh yang bisa kamu temukan. Paling gres adalah soal kedatangan Obama beberapa waktu lalu. Coba deh cari di media-media sosial, pasti masih ada yang berkomentar “Obama likes Sate, Bakso, I’m proud to be Indonesian!”. Padahal, hal tersebut sebenarnya biasa saja, bukan? Apa yang harus dibanggakan dari Obama yang gemar makan bakso? Tapi kenapa kita masih terus menemukan komentar-komentar nggak penting seperti itu?

Inferiority Complex

Melihat contoh-contoh semacam itu, bisa disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih menderita Inferiority Complex akut. Inferiority Complex adalah sebuah kondisi psikologis dimana seseorang atau suatu pihak merasa inferior / lemah / lebih rendah dibanding pihak lain. Kondisi semacam ini bisa berujung kepada kompensasi atau pemujaan yang berlebihan pada suatu pencapaian atau tendensi untuk mencari pengakuan atau apresiasi dari pihak lain. Keadaan semacam ini biasanya disebabkan oleh kegagalan yang dialami secara pribadi atau kesuksesan luar biasa yang dicapai pihak lain.

Aji mumpung ala orang Indonesia. Mumpung Obama doyan bakso, bisa dijadikan promo sebuah warung bakso – travelfoodfashion.com

Dengan penjelasan di atas, tidak heran kalau kita misalkan suka heboh sendiri saat sebuah film Hollywood membicarakan Indonesia di salah satu dialog atau bahkan melakukan syuting film di Indonesia. Maklum, selama ini Indonesia jarang dikenal. Untuk ukuran Asia Tenggara, nama Singapura, Malaysia dan Thailand jelas lebih familiar di dunia internasioal. Bule bahkan banyak yang mengira Bali adalah sebuah negara tersendiri yang bukan bagian dari Indonesia. Jadi ketika nama Indonesia disebut, masyarakat pun heboh dan bangga setengah mati. Capek deh~

Kebanggaan yang salah tempat

Pernah nggak kalian berpikir bahwa berita-berita semacam itu sebenarnya hanya sekedar lewat saja kalau di luar negeri? Oke, Joe Taslim mungkin ikut berperan di film Fast and Furious 6 sambil mengucapkan dialog “Hantam mereka!”, trio The Raid (Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman) ikut meramaikan film Star Wars: The Force Awakens dan muncul beberapa menit, serta masih banyak contoh lainnya.

Trio The Raid di pemutaran film Star Wars: The Force Awaken – harianindo.com

Kita mungkin bangga, karena bangsa superior macam Amerika Serikat dan Hollywood-nya tertarik untuk mengajak serta aktor-aktor Indonesia. Tapi bagi mereka itu hanyalah gimmick. Tak ada hubungannya dengan pride suatu bangsa. Seperti itulah seharusnya kita bersikap. Selayaknya bangsa besar, kita seharusnya merasa bangga aktor-aktor tersebut turut berperan di sebuah film box office karena mereka memang layak berperan di film tersebut sesuai kemampuan mereka, bukan bangga karena mereka adalah orang Indonesia dan kemunculannya dianggap mengangkat martabat bangsa.

Igor Presnyakov, gitaris asal Rusia yang mengcover lagu band Indonesia sambil menggunakan batik. Perhatikan komentar-komentar warganet Indonesia – YouTube

Bertahun-tahun dijajah bangsa asing dan mengimpor kebudayaan dari pedagang asing yang masuk ke Indonesia mungkin telah membuat bangsa kita merasa inferior. Kita merasa kecil di bawah dominasi peradaban-peradaban besar, seperti Eropa,  Amerika, China, India, atau Arab (tidak identik dengan Islam) yang telah ratusan tahun mengakar di kehidupan masyarakat asli Indonesia. Padahal, bangsa kita sebenarnya juga bisa menjadi sama besarnya dengan bangsa-bangsa tersebut.

Lantas, kenapa kita harus kagetan dan mudah kagum dengan hal-hal yang sebetulnya biasa saja di mata bangsa lain? Ada yang punya saran untuk menyudahi penyakit akut ini?

200
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~