Saat Banyak Orang Mendadak Sok Menjadi Pengamat Politik, Meneduhkan Atau Justru Memperkeruh Suasana?

Mengamati kondisi politik itu mudah, namun untuk menjadi pengamat politik harus tahu ilmunya!

479
SHARES

Di jaman yang katanya sudah reformasi dengan demokrasi menuju kematangan, semua orang bisa dengan leluasa mengeluarkan pendapat dan menyampaikan aspirasinya. Terlebih dengan adanya media sosial seperti saat ini, seseorang dengan sangat mudah menyampaikan pendapatnya secara meluas hanya melalui media sosial.

di negara demokrasi kebebasan berpendapat dan menyampaikan aspirasi dilindungi undang-undang (beritagar.id)

Adanya kebebasan berpendapat dan beropini, serta adanya media sosial sebagai alat penyampaian aspirasi masyarakat, ditambah keadaan sosial politik Indonesia yang sedang fluktuatif, membuat banyak orang yang tiba-tiba bak pengamat politik ulung yang mengeluarkan pandangannya terhadap keadaan sosial politik di Indonesia.

Mungkin dari kamu juga pernah menemukan teman medsos yang akhir-akhir ini berubah ibarat seperti pengamat politik beken. Jika biasanya status facebook berisi tentang cinta dan pertemanan, kini dinding facebooknya diisi dengan analisa politik yang menggelitik.

Banyak orang yang menjadikan dunia maya sebagai media penyampai aspirasi (digitaltrends.com)

Memang tidak ada yang salah dengan beropini di media sosial, sebab dengan sistem demokrasi yang kita anut seperti sekarang ini, berserikat, berpendapat, beropini, dan kebebasan menyampaikan aspirasi dilindungi oleh undang-undang. Namun yang jadi permasalahan ialah ketika opini tersebut justru memperkeruh suasana.

Banyak orang yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat dan beropini, justru mengeluarkan opini yang sifatnya propaganda, menghasut, dan mencela satu golongan. Dari fenomena seperti itu yang terjadi saat ini ialah kegaduhan di media sosial akibat saling beropini dan menganggap opininya paling benar, padahal opininya sangat subjektif.

Banyak yang mendadak menjadi pengamat politik di dunia maya mengatasnamakan kebebasan berpendapat (anggiafriansyah.files.wordpress.com)

Maka tidak heran jika kita sering melihat di media sosial orang saling mencaci, saling bersitegang, dan saling menghujat. Pada dasarnya tidak ada larangan kita menjadi pengamat politik dan mengeluarkan pendapat atas fenomena apa yang kita amati. Namun setidaknya kita harus tahu batasan kemampuan dan kapasitas kita terhadap keilmuan dan pengetahuan kita terhadap persoalan tersebut.

Kadang kita tidak sadar terbawa arus politik elit dan harus mengorbankan hubungan kita dengan teman, kerabat, bahkan keluarga kita. Dari yang dulunya saling sapa namun kini berubah akibat perbedaan pandangan politik.

Opini yang tidak tepat di media sosial hanya akan menimbulkan konflik (zetizen.com)

Mungkin sebagian dari kita kangen dengan media sosial seperti dulu, dimana menggunakan media sosial bertujuan untuk bersilaturahmi secara digital. Saling sapa dengan teman lama, saling menanyakan kabar dengan orang yang sedang jauh disana, atau untuk saling berbagi moment bahagia. Bukan media sosial yang penuh dengan hujatan, cacian, propganda mengumbar kebencian seperti sekarang ini.

Fenomena banyak orang yang mendadak menjadi pengamat politik memang satu sisi baik, sebab yang demikian bisa dijadikan barometer partisipasi masyarakat terhadap politik. Namun jika opini dan pendapatnya justru memperkeruh suasana, lebih baik kita tidak melakukannya bukan?

Opini terhadap politik yang dilakukan oleh bukan ahlinya hanya akan memunculkan persoalan, bahkan bisa memecah persatuan. Padahal bangsa Indonesia berdiri diatas persatuan diantara perbedaan suku, ras, agama, dan budaya. Mari kita hentikan hal-hal yang bisa memperkeruh suasana bangsa tercinta kita, karena meski berbeda kita semua merupakan saudara.

 

479
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penikmat Dunia, Perindu Surga,