Usia 25 Tahun Adalah Saat Dimana Kamu Harus Membuat Pilihan Sembarangan

Semakin kamu pintar memilih secara acak, semakin kreatif juga kamu

Percaya atau tidak, seseorang yang seolah mengatakan bahwa keputusannya dibuat secara acak, sembarangan, atau random, justru merupakan bukti jika dia mempunyai kreativitas tingkat tinggi. Kemampuan itu, muncul dari beberapa proses kognitif yang paling berkembang pada manusia.

Kemampuan membuat keputusan secara acak merupakan tanda kreativitas tinggi. | shutterstock.com

Usia 25 tahun adalah kunci

Dan di luar dugaan, kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dengan kreatif berada di level tertinggi saat dia berusia seperempat abad atau 25 tahun. Dari usia itu, kemampuan kreatifnya perlahan berkurang sampai usia 60 tahun, lalu menurun drastis.

Kemampuan maksimal seseorang untuk memecahkan masalah secara kreatif berada pada usia 25 tahun. | letidor.ru

Seperti yang sudah saya katakan, ketika kita bicara soal keacakan atau randomness, perilaku sembarangan seseorang memang sering dikaitkan dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Hal itu juga mengindikasikan betapa kompleksnya pemikiran berubah seiring bertambahnya usia.

Artinya, pemikiran tingkat tinggi cenderung melambat saat seseorang bertambah tua, meskipun perlu dicatat bahwa penalaran (bukan kreativitas) yang kompleks juga bisa membaik seiring bertambahnya usia.

Dibuktikan oleh riset

Kesimpulan di atas merupakan hasil yang didapat para periset setelah mengamati faktor-faktor yang memengaruhi perilaku acak dengan melibatkan lebih dari 3.400 partisipan. Mereka diminta melakukan lima tugas, dari situ kemampuan mereka membuat pilihan acak dinilai oleh para periset.

Apa saja yang mempengaruhi perilaku acak?  stockfresh.com

Kelima tugas tersebut mencakup mendaftar hasil hipotetis dari serangkaian gerakan membalikkan 12 koin sehingga terlihat acak bagi orang lain, menebak kartu mana yang akan muncul saat dipilih secara acak, dan menampilkan hasil hipotetis dari 10 kali mengocok dadu.

Setelah itu, periset menganalisis hasilnya menggunakan algoritma keacakan. Algoritma ini didasari pada pemikiran bahwa pola yang lebih acak dan sembarangan lebih sulit ditebak, apalagi dipecahkan secara matematis.

Setelah mengesampingkan faktor seperti gender, bahasa, dan pendidikan, periset menemukan bahwa usia seseorang adalah satu-satunya faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang berperilaku acak atau random.

Hasil studi ini bisa digunakan sebagai informasi tambahan riset-riset selanjutnya yang meneliti bagaimana otak manusia berubah seiring usia, dan apa efeknya terhadap kecerdasan seseorang.

Dan meskipun penelitian ini tidak menjadikan hubungan antara keacakan dan kreativitas atau keterampilan pemecahan masalah sebagai fokus, namun diyakini ada hubungan yang kompleks antara keduanya.

Artinya apa? Jika sekarang kamu berusia 25 tahun dan sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membingungkan, jangan pernah ragu untuk memilih secara acak. Karena seberapa kreatif kamu, bisa dinilai dari seberapa hebat kamu berpikir random.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *