Memaafkan Afi Nihaya yang Kembali ‘Berulah’

Setelah tulisan-tulisan plagiat, kini Afi membuat curhatan plagiat

Manusia memang aneh dan mudah terbawa arus. Kita tentu masih ingat dengan awal mula kemunculan Afi Nihaya yang populer karena tulisan berjudul “Belas Kasih dalam Agama Kita” dan “Warisan”. Berkat kedua tulisan itu, Afi menuai banyak pujian karena dianggap menyuarakan keberagaman di tengah situasi Indonesia yang carut-marut diterpa isu toleransi dan keberagaman. Akuilah, kamu pasti salah satu yang dulu sempat memuji-muji dan ikut memviralkan ‘tulisan’ Afi, kan?

Baca juga : Dugaan Plagiarisme Lagu Indonesia Raya, Benarkah WR Supratman Seorang Plagiat?

Tapi roda itu berputar, dan situasi bisa berubah kapan saja. Netizen mulai mengendus bau tak sedap dari segala macam postingan yang dikeluarkan Afi. Benar saja, remaja bernama asli Asa Firda Inayah ini terbukti melakukan plagiasi atas buah pena orang lain. Mereka yang semula memuji-muji Afi kini berbalik memusuhinya. Afi pun akhirnya memberikan klarifikasi dan menyatakan permintaan maafnya. Masalah selesai? Ternyata tidak…

Curhatan yang menjiplak

Baru-baru ini, Afi kembali ‘berulah’. Ia melakukan curhat live via Facebook yang kemudian diunggah ke YouTube oleh akun Sabila Mayangsari dengan judul “AFI NIHAYA – Forgive my honest opinion”. Melalui video berdurasi 4:51 menit itu, Afi menyampaikan uneg-uneg tentang sakitnya menjadi korban bullying dalam bahasa Inggris. Kita bahkan bisa mendengar Afi mengumpat dengan kata-kata makian khas bahasa Inggris di video itu. Oke, kita bisa saja beranggapan bahwa video curhatnya itu berkaitan dengan hujatan netizen dan orang-orang disekitarnya yang belakangan ini makin gencar dan membuatnya frustasi.

Masalahnya, konten curhatan Afi itu ternyata menjiplak video orang lain bernama Catherine Olek. Netizen yang serba tahu tentu langsung menemukan bahwa curhatan Afi bukan murni buah pemikirannya. Afi hanya mengubah beberapa detail kalimat, namun secara isi jelas sama persis. Apalagi, Afi bahkan sampai menjiplak gaya penyampaian dan artikulasi kata di video itu. Jadilah ia kian dikecam Netizen hingga ke tulang-tulangnya. Kalau sudah begini, saya ragu bahwa orang lain akan percaya kalau suatu saat ia menulis atau menyampaikan sesuatu yang murni pemikirannya sendiri.

Membela Afi

Melalui tulisan ini, saya tidak ingin mencela Afi. Tugas mencela toh sudah kalian lakukan, jadi tidak perlu saya ikut menambahi. Bukan tanpa alasan jika saya terdorong untuk membela Afi. Betul, apa yang ia lakukan adalah salah. Ia terbukti menjiplak. Ia tidak mencantumkan sumber yang dijiplaknya. Bahkan saat ‘curhat’ pun ia seakan kehabisan ide dan memilih untuk meniru curhatan orang lain. Beberapa orang menyebut Afi menderita gangguan Delusional Grandeur, dimana penderitanya ingin tetap dianggap hebat akibat ketenaran sesaat yang didapatnya.

Tapi ada yang tak kita sadari. Kita semua pasti pernah berada di posisi Afi, yakni sebagai penjiplak. Ada role model yang menjadi kiblat kita, ada buah pemikiran orang lain yang menjadi motto hidup kita. Bahkan saat kita galau di masa-masa alay, kita menuliskan quote atau lirik lagu orang lain tanpa menyebutkan siapa penulisnya di dinding Facebook kita. Oke, mungkin perbandingan saya tidak apple to apple. Tapi pada dasarnya, kita semua pernah melakukannya. Kita hanya tidak mendapat ‘kesempatan’ seperti Afi, yakni menjadi tenar karena hal yang tidak sepatutnya dilakukan.

Afi Nihaya – breakingnews.co.id

Kita tentu masih ingat Arya Wiguna atau Vicky Prasetyo, dua nama yang mendapat ketenaran sesaat karena hal yang tidak penting. Pada mulanya, Arya Wiguna pasti tidak berniat untuk menjadi tenar karena ngamuk-ngamuk ‘Demi Tuhan’ pada kasus Eyang Subur. Vicky Prasetyo pun pasti enggan dicap bodoh karena sok menggunakan bahasa gado-gado yang menurutnya intelek. Tapi kemudian lampu sorot mengarah pada keduanya. Dan mereka yang merasakan nikmatnya ketenaran lantas memanfaatkannya semaksimal mungkin agar ketenaran itu bertahan lama. Itulah yang tampaknya juga terjadi pada Afi. Apalagi, selama ini Afi disebut sebagai sosok yang tak punya banyak teman. Mendadak dikenal banyak orang tentu menjadi godaan yang menyilaukannya.

Video live-nya di Facebook menjiplak Catherine Olek – cewekbanget.id

Afi kini telah mendapatkan sanksi sosial atas apa yang diperbuatnya. Sayangnya, masih banyak dari kita yang merasa itu semua tidak cukup. Kita masih terus-terusan merisaknya hingga entah kapan. Bagaimanapun juga, ia masih remaja dan belum stabil. Seberapa kuat ia mampu menerima hujatan bertubi-tubi? Afi mungkin kelewatan dengan tak jera-jera memposting hasil jiplakan dan membuat Netizen khusyuk berdoa agar anak mereka tidak meniru perilaku Afi. Tapi kawan, daripada menghabiskan waktu untuk merisak remaja yang tengah mencari jati diri, bukankah lebih baik kita mendiamkannya saja sampai ia lelah dengan apa yang dilakukannya sendiri? Cukup untuk tidak memberinya ruang untuk kembali ‘berulah’, maka lambat laun Afi akan menyadari, bahwa ketenaran tak seindah binarnya~

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Bukannya Makin Sayang, 5 “Kebaikan” Ini Justru Bikin Pasanganmu Memutuskan Hubungan

Maraknya Perang Opini demi Idola Berkedok Fans dan Haters di Sosial Media