Melihat Indonesia dari Perpustakaan Leiden di Belanda

Sungguh ironis, akses terbesar untuk mempelajari sejarah bangsa ini justru bisa ditemui di Belanda

Bung Karno pernah mengingatkan kita agar tidak pernah melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi sejarah serta perjuangan para pendahulu di masa lalu. Meski begitu, cukup ironis jika kemudian kita tahu bahwa ada negara lain yang justru lebih menghargai sejarah bangsa ini dan mendokumentasikan dengan cermat banyak peristiwa di masa lalu hingga masa kini yang terjadi di Indonesia.

Negara tersebut adalah Belanda, negara yang pernah menginjakkan kakinya di bumi pertiwi selama 3,5 abad dan menjadikan Nusantara sebagai salah satu koloninya. Kalau tak percaya, datanglah ke perpustakan Leiden di Belanda, niscaya kamu akan menemukan dokumentasi berharga perjalanan bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala.

Koleksi yang menakjubkan

Perpustakaan Leiden sudah berusia lebih dari empat abad dan memiliki koleksi manuskrip kuno yang bahkan lebih banyak dari yang dimiliki oleh Perpustakan Nasional Republik Indonesia. Secara keseluruhan, perpustakaan yang mulai dibuka sejak 31 Oktober 1587 ini memiliki lebih dari 5,2 juta buku, 44.000 e-journal, lebih dari sejuta e-book, 60 ribu manuskrip kuno, 500 ribu surat, 100 ribu peta, 12 ribu gambar, dan 300 ribu foto. Dari keseluruhan koleksi tersebut, setidaknya ada 26 ribu manuskrip kuno tentang Indonesia ada di sana. Bandingkan dengan koleksi Perpustakaan Nasional yang hanya memiliki 10,3 ribu manuskrip kuno tentang Indonesia.

Ilustrasi perpustakaan Leiden zaman dulu (wikipedia)

Tentu bukan hal yang mengherankan jika manuskrip tentang Indonesia banyak tersimpan di Belanda. Sebagai salah satu imperialis yang membuka koloni di Indonesia, wajar jika Belanda ‘membawa pulang’ banyak arsip penting selama masa penjajahannya. Tak cuma lembaran-lembaran arsip era kolonial, namun juga benda-benda kuno Indonesia pun bisa kita temui di Leiden.

Banyak manuskrip kuno Indonesia yang disimpan rapi di Leiden (nasionalisrakyatmerdeka.wordpress.com)

Penyebabnya, para pelaut Belanda yang singgah di Indonesia menyadari bahwa segala pengetahuan tentang daerah koloni barunya itu akan amat berharga bagi Kerajaan Belanda. Mereka pun mulai mendokumentasikan banyak hal, mulai dari peta pulau rempah-rempah hingga kamus-kamus bahasa daerah di Indonesia. Pembuatan kamus tersebut biasanya tak lepas dari peran serta para rohaniawan zending penyebar agama Kristen seperti Benjamin Matthes yang membuat kamus bahasa Bugis-Makassar, atau J.H. Neumann yang membuat kamus Batak Karo dalam aksara latin.

Rujukan bagi mereka yang ingin meneliti Indonesia

Atas besarnya koleksi perpustakaan Leiden tentang Indonesia, tak heran jika para peneliti yang ingin mengulas Indonesia akan mencari rujukan di sana. Mulai dari sejarawan hingga mereka yang ingin mendalami bahasa daerah di Indonesia, bisa mencari referensi yang lengkap di Leiden.

Ada yang masih ingat nama Snouck Hurgronje (1857-1936)? Tokoh yang kita kenal di buku sejarah kala duduk di bangku sekolah dulu ini adalah seorang ilmuan Belanda yang hingga kini masih menimbulkan kontroversial. Pasalnya, Hurgronje telah berpura-pura masuk Islam untuk kepentingan politik kolonial Belanda di Indonesia, khususnya di Aceh.

Snouck Hurgronje yang menjadi tokoh kontroversial di masa kolonial Belanda dulu, khususnya di Aceh (savindievoice.wordpress.com)

Ia dianggap sebagai biang dari munculnya konflik-konflik pemahaman Islam di Indonesia. Hurgronje mendalami Islam di Leiden, bahkan sampai bisa menghafal Al Quran untuk kepentingan kolonial Belanda tersebut. Ini menjadi bukti bahwa perpustakaan Leiden memang merupakan surga ilmu pengetahuan bagi yang bisa memanfaatkannya.

Perpustakaan Leiden kini

Sebagai sebuah perpustakaan yang memiliki koleksi fantastis, perpustakaan Leiden terus menambah koleksinya. Bahkan kini saat Belanda tak lagi menjadi penguasa di Indonesia, perpustakaan Leiden masih mengumpulkan koleksi mutakhir dari Indonesia, mulai dari bidang sastra, politik, sejarah, sosial dan tema-tema lain.

Salah satu susut modern di perpustakaan Leiden (muklason.wordpress.com)

Perpustakaan Leiden juga tidak tebang pilih, karya penulis manapun baik yang ternama atau yang masih bau kencur sekalipun diboyong ke Belanda dalam berbagai urusan, termasuk dari riset hingga ceramah. Jadi sungguh tepat jika dikatakan bahwa kita bisa melihat Indonesia melalui Leiden, karena di sanalah tersimpan banyak harta berharga Indonesia yang ironisnya justru lebih aman, terawat dan berguna di tangan bangsa mereka.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

4 Ramalan Peramal Dunia Tentang Terjadinya Perang Dunia III yang Sudah di Depan Mata

Mari Belajar Memahami Arti Kebahagiaan Sesuai Isi Kantong