Benarkah Masyarakat Indonesia Masih Saja Bermental Jongos Hingga Sekarang?

Pola pikir dan kebiasaan yang telah membudaya akibat penjajahan yang sangat lama

598
SHARES

Jika kamu membuka kembali buku sejarah, kamu pasti tak akan lupa berapa lama bangsa kita dijajah oleh bangsa asing. Selama 350 tahun dalam cengkeraman Belanda, 2,5 tahun di bawah kolonial Jepang dan tahun-tahun sebelumnya saat Spanyol serta Portugis mulai mendarat di bumi pertiwi. Berada di bawah bangsa penjajah dalam kurun waktu yang sangat lama, membuat rakyat Indonesia terbiasa hidup di bawah tekanan dan juga perbudakan.


Setelah era kemerdekaan, bangsa penjajah mulai meninggalkan tanah air secara berangsur-angsur. Meskipun begitu masih banyak peninggalan seperti gedung bekas pemerintahan, arsitektur, tata kota, persenjataan, benteng pertahanan hingga adat dan budaya. Diantara semua peninggalan ini masih ada yang hingga kini masih dilestarikan sebagai warisan budaya, tapi ada juga yang mulai menghilang ditelan jaman.

Tak begitu diperhatikan ada salah satu peninggalan yang hingga kini masih saja dianut masyarakat, yaitu peninggalan pola pikir dan juga kebiasaan dijajah. Pola pikir ini diterapkan secara sengaja maupun tidak, secara langsung ataupun tak langsung. Diantaranya ada pola pikir bersifat negatif yang -seharusnya- sudah ditinggalkan sejak lama, sejak Indonesia mendeklarasikan kemeredekaannya pada 17 Agustus 1945 lalu. Lalu benarkah masyarakat Indonesia masih menerapkan “mental jongos” hingga sekarang? Ini 4 alasannya.

Panggilan ‘mister’ untuk orang asing

Meskipun tidak semua, tapi ini terjadi secara umum. Penyebutan mister merupakan bentuk penghormatan yang ditujukan kepada orang asing dengan karakteristik badan tinggi besar, kulit putih, hidung mancung, rambut pirang dan wajah khas ras Kaukasoid. Atau orang-orang sekarang juga memanggilnya dengan istilah “bule”.

Panggilan mister (youtube.com)

Dalam artian sebenarnya, istilah “Mr” memang bentuk formal sebelum menyebut nama seseorang yang belum dikenal, memiliki kedudukan tinggi atau yang memiliki pengaruh. Namun pada jaman penjajahan, panggilan mister bukan sebagai bentuk penghormatan. Mister adalah cara mudah melafalkan master atau tuan. Budaya panggilan ini masih tetap ada sampai sekarang untuk memanggil orang asing yang tidak dikenal.

Mengerdilkan diri dan bangsa sendiri

Secara sadar atau tidak, kamu pasti pernah membandingkan produk luar dengan dalam negeri. Atau mungkin lebih memilih membeli produk di luar negeri daripada di dalam negeri, meskipun keduanya buatan pabrik yang sama. Kebanyakan orang dan mungkin kamu salah satunya, menganggap produk buatan luar jauh lebih bagus dan berkualitas dibanding produk dalam negeri. Padahal belum tentu, banyak kok produk luar negeri yang nyatanya berasal dari dalam negeri.

mengkerdilkan diri (cloudinary.com)

Sikap mengerdilkan diri sendiri dan bangsa sendiri ini mulai muncul sejak penjajah menginjakkan kaki di Bumi Pertiwi. Wajar saja mengingat jaman dulu Indonesia masih sangat terbelakang jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan sekitarnya. Meskipun sekarang Indonesia mampu bersaing dengan negara asing, tak sedikit masyarakat yang memiliki perasaan selalu kalah dan kerdil jika bersaing dengan bangsa asing.

Mengagung-agungkan budaya asing

Indonesia mungkin jadi satu-satunya negara yang kaya raya akan adat, budaya dan bahasanya. Bayangkan saja Indonesia memiliki lebih dari 1340 kelompok etnis atau suku pada 2016 dan 737 jenis bahasa yang masih hidup menurut Ethnologue. Indonesia punya suku sebanyak itu kamu pasti bisa membayangkan berapa banyak kebudayaan yang tumbuh di masyarakat Indonesia. Sayangnya, kebudayaan ini semakin berkurang dan banyak yang menghilang karena tidak mendapat perhatian dan tidak pula dilestarikan.

Mengagung-agungkan budaya asing (huffpost.com)

Alih-alih bangga dengan budaya sendiri masyarakat saat ini justru memuja-muja budaya luar, khususnya kaum muda. Mereka lebih memilih mengikuti tren budaya Jepang, Korea hingga Amerika Serikat. Dengan alasan ini tak heran jika Indonesia disebut negara yang lupa dengan jati dirinya sendiri meskipun kaya akan budaya.

Orang asing lebih bernilai dari orang lokal

Saat ini sudah sangat banyak orang asing yang singgah dan tinggal di Indonesia, entah untuk wisata maupun mencari pekerjaan. Apalagi dengan adanya pasar bebas yang memungkinkan orang asing bekerja satu perusahaan dengan kamu. Adanya stereotip bahwa orang asing lebih hebat dari orang lokal sungguh menguntungkan mereka. Nggak jarang ada orang asing yang baru masuk tapi mendapat posisi yang penting dengan gaji yang lebih besar darimu.

Orang asing lebih bernilai dari orang lokal (blogger)

Hal ini sering menimbulkan rasa iri terhadap orang asing. Padahal sejatinya jika orang lokal mau meningkatkan kinerja dan bersaing dengan sehat, nggak sedikit kok yang punya kualitas sebanding dengan orang asing. Buktinya banyak juga orang lokal yang bekerja di luar negeri dan berhasil meraih posisi penting di perusahaan ternama.

Itulah sekian fakta yang memang muncul dalam masyarakat. Apakah itu menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia masih bermental jongos? Coba berikan pendapatmu di kolom komentar 🙂

598
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

"You can if you think you can"