Jadi Ini Lho Alasannya Kenapa Kalau Masak Keasinan Bisa Dianggap Kebelet Nikah

Kalau terlalu manis atau pedas dianggap apa dong?

“Masakanmu asin banget, kebelet nikah ya?” Kamu mungkin sudah tak asing lagi dengan pertanyaan itu. Atau malah kamu sendiri pernah mengalaminya. Mitos tentang masakan keasinan menjadi tanda ingin dinikahi sudah ada sejak jaman dulu kala. Namun kalau ditanya darimana asal mulanya, masih banyak yang belum tau dan tak bisa menjelaskan.

Masakan asin tanda kebelet nikah (lingdigi.files.wordpress.com)

Jika dilogika, rasa asin sama sekali nggak ada hubungannya dengan keinginan menikah. Usut punya usut, ada beberapa versi asal mula mitos satu ini. Biar nggak bingung coba cek artikel di bawah ini ya.

Dilihat dari versi sejarah

Menurut Fitriani, salah satu pemerhati budaya dari Yogyakarta, mitos dan kebiasaan ini pertama kali hadir di kalangan keraton. Fitriani menjelaskan, ada seorang putri yang tidak diijinkan menikah oleh raja karena ia mencintai rakyat biasa dari desa. Pada suatu hari sang putri disuruh memasak karena pembantu atau abdi dalem sedang sakit. Lantaran marah, akhirnya putri memberi garam terlalu banyak hingga rasa masakan menjadi asin.

Dilihat dari versi sejarah (indonesiaone.org)

Setelah mencicipi sang raja marah karena masakannya terlalu asin dan kemudian memanggil putrinya. Raja bertanya, mengapa masaknya asin? Apa tidak bisa memasak atau ada keinginan yang tidak dipenuhi? Saat putri disidang dihadapan warga dan penghuni keraton, ia menjawab bahwa ia ingin menikah. Kemudian saat itu raja mengizinkan pernikahan putri dengan lelaki pilihannya yang berasal dari kaum jelata. Sejak saat itu tidak ada perbedaan kasta antara kaum santri, priyayi dan abangan.

Menurut Fitri selaku alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sejak saat itu setiap ada wanita yang masaknya keasinan maka dianggap ingin menikah.

Menurut perspektif ilmiah dan budaya

Seperti yang dilansir dari harianblora.com, ada banyak pendapat yang berkenaan dengan perspektif ini. Salah satunya berasal dari Anik Sukaifah, sarjana lulusan Pendidikan Biologi UIN Walisongo Semarang. Menurut Anik garam atau asin di sini diidentikkan dengan benda yang sering bersentuhan dengan perempuan, yaitu ketika masak. Kalau sudah pandai masak, berarti ia sudah pandai dan siap menikah. Menurut Anik, rasa asin secara ilmiah diartikan sebagai kondisi yang menegaskan seorang sudah dewasa.

Menurut perspektif ilmiah dan budaya (amazonaws.com)

Pendapat lain diungkapkan Saeful Yusuf, mahasiswa komunikasi Udinus Semarang. Menurutnya, asin di sini berarti tanda kedewasaan. Maka ada ungkapan “wis mangan uyah akeh” atau dalam bahasa Indonesia “sudah banyak makan asam garam” yang artinya sudah pengalaman. Berpengalaman adalah tanda kedewasaan dan berarti kalau sudah cukup usia, maka siap menikah.

Menurut pendapat lainnya, rasa asin tak hanya sebagai tanda ingin menikah tapi juga sebagai bentuk perasaan ingin dimengerti dan diperhatikan. Ada juga yang mengatakan rasa asin ini sebagai bentuk ekspresi marahnya wanita. Karena kebanyakan wanita mengungkapkan kemarahan dengan perlakuan, bukan perkataan.

Nah itulah dua versi terkait asal mula mitos makanan asin. Tentu kamu boleh percaya ataupun tidak. Yang pasti masakan keasinan tidak selalu identik dengan ingin dinikahi. Atau mungkin kamu punya pendapat lainnya? Coba deh bagikan di kolom komentar.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *