Ternyata, Makna ‘Ika’ pada ‘Bhinneka Tunggal Ika’ Berbeda dari Apa yang Selama Ini Kita Percaya

Kamu yang asli Jawa Timur pasti tau kan apa arti ‘ika’ yang sebenarnya?

Sampai detik ini, yang kita tahu dari ‘Bhinneka Tunggal Ika’ adalah semboyan resmi NKRI yang bermakna ‘berbeda-beda tetapi satu jua’. Tapi ternyata, apa yang selama ini kita yakini itu salah. Kata ‘Ika’ pada semboyan yang dikutip dari kitab Sutasoma itu ternyata tidak bermakna ‘jua’ atau ‘juga’.

Baca juga : Ajarkan Keberagaman, Apa yang Dilakukan Oleh Supermarket di Jerman Ini Sungguh Menginspirasi

Ternyata selama ini kita telah salah memaknai semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. | lenteratimur.com

Garuda sebagai kreatief vermogen

Menurut lampiran pada Peraturan Pemerintah no. 66 tahun 1951 yang berupa penjelasan, lukisan burung Garuda diambil dari budaya Indonesia yang hidup dalam mitologi, simbofogi, dan kesusasteraan Indonesia yang juga dilukis di beberapa candi sejak abad ke-6 sarnpai abad ke-16.

Garuda merupakan lambang tenaga pembangunan (kreatief vermogen) yang populer pada peradaban Indonesia tempo dulu. Lukisan burung yang bisa ditemui di candi Dieng, Prambanan dan Panataran ini sangat identik dengan burung rajawali yang kita kenal sekarang.

Burung mitologi Garuda begitu populer di peradaban Indonesia tempo dulu. | tourfrombali.com

Pada penerapannya, ada kalanya Garuda dilukiskan sebagai mahusia berparuh burung dan bersayap, seperti yang bisa kita lihat di candi Dieng. Sedangkan di candi Prambanan dan di candi-candi Jawa Timur lainnya, Garuda dilukis seperti burung raksasa berparuh panjang, berambut dan bercakar.

Raja Erlangga juga terkenal sebagai pemimpin yang menggunakan lambang Garuda sebagai meterai kerajaannya, yang dia beri nama Garudamukha. Dan untuk raja-raja di Sumatera, mereka menggambarkan Garuda sebagai burung rajawali yang dilukis dari samping dengan kedua cakar mengarah ke depan.

‘Bhina’ dan ‘ika’

Kembali ke pembahasan utama. Lampiran pada Peraturan Pemerintah no. 66 tahun 1951 juga menjelaskan soal ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Pada pasal 5, disebutkan bahwa ‘Bhineka’ adalah gabungan dua kata yaitu ‘bhina’ dan ‘ika’. Gabungan kata inilah yang sering menimbulkan salah tafsir.

Banyak orang mengira bahwa ‘ika’ bermakna ‘satu’. Padahal sebenarnya, ‘ika’ hanyalah sebuah kata penunjuk yang berarti ‘itu’. Kata yang sudah berumur ratusan tahun ini, sampai sekarang masih hidup dan banyak dipakai di berbagai daerah di Jawa Timur sebagai kata sehari-hari.

Kata ‘ika’ yang berarti ‘itu’ masih banyak dipakai oleh masyarakat Jawa Timur hingga sekarang. | panduanwisata.id

Jadi, kalau diuraikan kata demi kata, maka makna kharifah dari ‘bhinna ika (yang digabungkan menjadi ‘bhinneka’) adalah ‘beda itu (tetapi) satu itu’.

Menurut kitab Sutasoma karangan Empu Tantular dari pertengahan abad ke 14, kalimat ini dipakai Tantular untuk menjelaskan paham sinkretis antara Hinduisme dan Buddhisme yang menjadi aliran paling berpengaruh pada masa itu.

Kalimat lengkapnya berbunyi “Siwatattwa lawan Buddhatattwa tunggal, bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa,” yang artinya, “Siwa dan Buda itu satu, dibedakan tetapi satu, tidak ada ajaran agama yang bersifat mendua.”

Informasi seperti ini mungkin kamu anggap tidak ada gunanya. Tapi sebagai warga Indonesia, bukankah merupakan hal yang bijak kalau kita mau menggali lebih dalam lagi tentang sejarah yang membuat Indonesia menjadi Indonesia?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: “Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal.”

Katanya Sih Listrik Indonesia Jadi yang Paling Mahal di Dunia. Bener Nggak?

Yuk Membahas Tentang Naturis, Kaum yang Menjadikan Telanjang Sebagai Pilihan Hidup