Menurut Penelitian, Melajang 50 Persen Lebih Mematikan Daripada Obesitas!

Nih mblo, mau sampai kapan jomblo?

Siapa sih yang mau hidup sendiri dalam waktu yang lama? Tuhan menciptakan manusia berpasangan bukan tanpa alasan. Salah satu alasan paling masuk akal adalah agar manusia tidak merasa kesepian. Bahkan seorang introvert garis keras sekalipun pasti ingin memiliki pasangan hidup.

Melajang lebih mematikan (thefreshtoast.com)

Meski sering menjadi bahan olokan, nyatanya jomblo dan lajang bisa menjadi masalah serius yang harus segera mendapat penanganan. Mengapa demikian? Para ahli bahkan telah menyimpulkan bahwa hal tersebut lebih mematikan daripada obesitas.

Meski begitu nyatanya di dunia ini masih sangat banyak orang yang menjalani kehidupan lajang yang sepi. Lebih jauh, kesepian harus dianggap sebagai risiko kesehatan masyarakat.

Kesepian dianggap sebagai resiko kesehatan masyarakat (fortunedotcom.files.wordpress.com)

Melansir dari laman grid.id, para peneliti AS telah menganalisis 218 penelitian yang berkaitan dengan efek kesehatan karena kesepian. Mereka telah menemukan kesimpulan mengejutkan, yaitu isolasi sosial meningkatkan kematian seseorang hingga 50% dibandingkan obesitas. Penelitian yang diterbitkan di New York Post tersebut memeriksa lebih dari 200 penelitian tentang efek kesehatan dari isolasi.

Dr. Julianne Holt-Lunstad, profesor psikologi di Universitas Bringham mengatakan bahwa, terhubung dengan orang lain adalah kebutuhan dasar manusia. Bahkan dari penelitian sebelumnya mengungkapkan, bayi yang kekurangan kontak dengan manusia akan gagal berkembang dengan baik dan cenderung akan mati. masalah tersebut memang masih membutuhkan penelitian, namun ini termasuk temuan yang menarik.

Manusia butuh terhubung dengan orang lain (cdn.prod-carehubs.net)

Menurut artikel di Huffington Post tentang studi ini, Inggris adalah ibukota kesepian Eropa. Epidemi Kesepian di Inggris bahkan merugikan pemerintah lebih dari $ 25 juta per tahunnya. Sementara itu para ahli Kanada pada 2017 memperkirakan epidemi yang sama dapat menyerang negara mereka segera karena semakin banyak warganya yang memilih untuk hidup sendiri.

Sementara itu menurut data dari Harvard Aging Brain Study pada hampir 80 orang dewasa menghubungkan kesepian dengan Alzheimer. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Nancy J. Donovan, yang bertanya kepada 3 pasien lansia. Pertanyaan tersebut tentang kesepian dan kemudian menilai hasilnya bersama dengan tingkat plak amiloid di otak mereka.

Kesepian berhubungan dengan depresi (thenational.ae)

Selain itu hasil penelitian menunjukkan bahwa depresi ringan memiliki efek yang lebih kuat pada peningkatan risiko penurunan kognitif bila dibandingkan dengan kesepian. Dr. Donovan yakin bahwa gejala depresi yang lebih besar dapat mempengaruhi kinerja kognitif kita dan dapat menyebabkan demensia. Pada akhirnya, kesepian, isolasi, dan depresi akan menjadi masalah global.

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *