Dosa Guru dan Sekolah di Balik Banyaknya Konten Porno di Buku-Buku Sekolah

Bukti nyata bahwa guru dan sekolah juga bisa salah

253
SHARES

Di dunia pendidikan Indonesia, sudah beberapa kali masyarakat dibuat resah dengan banyaknya materi buku pelajaran sekolah yang memaparkan secara gamblang konten-konten berbau pornografi. Yang masih diperdebatkan hingga kini, sebenarnya siapa yang harus disalahkan atas kasus ini?

Adanya konten seperti di buku pelajaran, siapa yang harus disalahkan? – seword.com

Stop! Jangan buru-buru adu argumen dulu. Karena sebelum terang-terangan menyalahkan salah satu pihak, kita harus paham dulu bagaimana sebuah buku pelajaran bisa sampai ke tangan anak-anak sekolah. Karena walau bagaimana pun, buku itu tidak mungkin tiba-tiba jatuh dari langit, kan?

Mekanisme penulisan dan penyusunan buku pelajaran sekolah yang benar

Sebagai informasi, pengurusan buku pelajaran sekolah di Indonesia dilaksanakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), dibawah pengawasan langsung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Inilah tempat di mana semua buku pelajaran dari Kemdikbud berasal. – panoramio.com

Puskurbuk inilah yang akan meninjau segala kegiatan penulisan buku dari naskah-naskah yang sudah diseleksi, menyusunnya sesuai SOP, hingga mencari tim penilai yang akan memverifikasi buku-buku tersebut sebelum diedarkan.

Bahkan sebelum resmi diedarkan ke pasaran pun, buku-buku pelajaran dari Puskurbuk tersebut harus dinilai kelayakannya terlebih dahulu oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Lembaga inilah yang bertindak sebagai penanggung jawab administrasi, standarisasi, dan penyusunan tahap akhir.

Keterbatasan buku Puskurbuk

Sampai di sini, sebenarnya alur pembuatan buku pelajaran sekolah berjalan dengan baik dan benar. Hanya saja karena alasan keterbatasan, ternyata buku-buku pelajaran yang dipakai oleh guru dan sekolah bukan hanya dari Puskurbuk saja.

Nyatanya, tidak semua buku pelajaran mampu dipersiapkan oleh Puskurbuk. –  kyuanda.blogspot.co.id

Misalnya, untuk buku pelajaran K13, Purkurbuk tidak menerbitkan buku pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan kelas 5 dan 6. Begitu juga dengan buku peminatan untuk SMA/SMK. Inilah celah yang digunakan penerbit swasta untuk menawarkan buku-buku mereka.

Meskipun semua buku swasta juga harus melalui tahap verifikasi BSNP dan Puskurbuk, namun kesempatan tersebut hanya terbuka setahun sekali. Lamanya waktu tunggu inilah yang kemudian membuat para penerbit swasta memilih untuk langsung menjualnya secara bebas.

Penerbit swasta yang memilih jadi nakal

Jadi, bagaimana ceritanya bisa ada buku-buku pelajaran yang ternyata mengandung konten negatif? Itu, karena buku-buku tersebut merupakan buatan penerbit swasta yang diedarkan tanpa melalui tahap verifikasi terlebih dahulu. Dengan kata lain, buku-buku tersebut diedarkan dengan cara ilegal.

Tidak banyak yang menyadari bahwa ternyata banyak buku pelajaran yang dijual bebas di pasaran secara ilegal. – irawanah.wordpress.com

Sayangnya, bahkan Puskurbuk pun tidak punya wewenang untuk menghukum penerbit dan atau perorangan yang dengan sengaja melakukan penyimpangan pada buku-buku pelajaran. Termasuk menariknya dari pasaran.

Guru dan sekolah yang tidak selektif memilih buku materi

Kabar baiknya, Kemdikbud punya wewenang untuk memberikan sanksi kepada sekolah mana pun yang terbukti membeli, menggunakan, dan menyimpan buku-buku pelajaran yang tidak direkomendasikan.

Akan ada sanksi bagi guru dan atau sekolah mana pun yang terbukti membeli, menggunakan, dan menyimpan buku pelajaran yang tidak direkomendasikan. – mediaindonesia.com

Sanksi dari Kemdikbud bisa bermacam-macam, mulai dari larangan buku pemerintah beredar di sekolah yang bersangkutan, larangan semua guru dari sekolah tersebut mengikuti pelatihan, hingga penutupan sekolah.

Jadi, apa inti dari masalah yang sangat meresahkan masyarakat ini? Ini bukan tentang kemampuan Puskurbuk yang terbatas hingga anak-anak SD mengenal istilah warung remang-remang. Ini juga bukan tentang kenakalan penerbit swasta hingga anak-anak SMP berlomba-lomba untuk pacaran.

Ini semua, adalah tentang guru dan sekolah yang sedemikian cerobohnya tidak memilih dan memilah terlebih dahulu mana buku yang layak dibeli, dan mana buku yang harus dihindari. Seakan mereka lupa, bahwa guru dan sekolah merupakan peran terpenting dari sistem pembelajaran yang baik.

Apapun alasannya, semua guru dan sekolah di Indonesia harus tetap selektif memilihkan buku-buku pelajaran untuk anak-anak didiknya berdasarkan norma, adat, dan budaya di lingkungan sekolah dan daerah tempat tinggal mereka.

Jangan hanya karena murah dan ada diskon, lantas sebuah buku dibeli. Meskipun jika itu harus dari penerbit swasta, guru dan sekolah harus berusaha keras mencari buku bereputasi baik. Karena, buku tetaplah menjadi alat integrasi bangsa yang mempesatukan dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Karena mau sebanyak apapun pilihan di depan kita, bukankah kita hanya harus memilih yang baik-baik saja?

253
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."