Media Sosial: Dulu Murni untuk Bersosial, Kini Justru Bikin Onar

Kok jadi kangen Friendster ya…

623
SHARES

Dengan kondisi yang sangat sadar, saya sepenuhnya sadar bahwa perubahan pasti akan selalu terjadi. Perubahan-perubahan yang dinamis selalu terjadi pada cuaca, situasi dan kondisi, kebiasaan, perasaan pasangan, hingga apa yang terjadi di media sosial. Yang lain sih masih masuk akal, namun untuk media sosial, perubahan yang terjadi di sana benar-benar membuat saya kesal.


Media sosial, salah satu ranah sosial yang tak lepas dari perubahan. | coschedule.com

Sebagai generasi Xennial, saya adalah anak kuno yang tumbuh besar di era digital. Dan sejak saya melek internet hingga sekarang, saya sudah melewati masa kejayaan berbagai media sosial seperti Friendster dan migg33, hingga kini sedang asyik-asyiknya menggunakan Facebook, Twitter, Instagram, dan beberapa media sosial keren lainnya.

Keseruan di awal-awal kemunculan

Dulu pernah, saya rela bolos sekolah hanya untuk pergi ke warnet, membeli paket 10 ribu/3 jam, lalu menyibukkan diri dengan membuka profil teman-teman Friendster, mengutak-atik layout, dan meng-edit profil segaul mungkin. Saya juga sering menulis di bulletin board yang ada di home, kemudian banyak teman yang berkomentar positif. Jujur saja, saya merasa sangat senang dengan semua itu.

Friendster, media sosial paling asyik pada jamannya. | thecolewalkabouts.wordpress.com

Kemudian Facebook pun muncul dan menggusur hegemoni Friendster. Friendster yang mulai ditinggalkan orang-orang, termasuk saya, lama-lama mati sendiri. Persisi seperti perasaan. Aktivitas yang saya lakukan di Facebook pun nyaris sama, menggunggah foto, membuat status, memberi komentar dan like, dan satu lagi.. chatting!

Setelah Facebook, Twitter muncul dengan segala macam perbedaannya. Saya yang membuat akun media sosial berlogo burung imut ini pada tahun 2011 silam, merasa sangat tertantang dengan batasan maksimal 140 karakter untuk sekali tweet. Karena berbeda dengan Facebook, maka saya punya dua pilihan: membuat tweet berseri atau memadatkannya ke dalam 140 karakter saja. Seru!

Saking uniknya Twitter, bahkan ketika saya menceritakan betapa lucunya apa yang saya alami di media sosial ini, teman-teman saya yang tidak main Twitter sama sekali gagal paham. Ya, anak Twitter memang punya dunianya sendiri.

Namun semua itu dulu.

SARA, porno, dan provokasi

Seiring berjalannya waktu, sekarang aktivitas dan segala macam keseruan di media sosial mulai berubah. Baru membuka home, timeline sudah penuh dengan status beserta konten-konten berbau SARA, porno, dan bernada provokatif. Yang membuat saya lebih kesal, saya sama sekali tidak kenal siapa orang yang mem-posting itu. Bisa jadi, ini adalah efek dari asal tambah teman sewaktu saya masih newbie dulu.

Bukannya menyenangkan, sekarang media sosial lebih membuat geram karena konten-konten negatif yang bertebaran di dalamnya. | huffingtonpost.com

Sekarang saya punya kebiasaan baru, unfriend teman-teman Facebook yang mengganggu dan unfollow akun-akun Twitter yang tak punya mutu. Saya memilih untuk melupakan banyak teman, yang penting hidup saya tenang. Mengapa? Karena sama dengan Facebook, Twitter pun sekarang menawarkan banyak konten bernada kebencian.

Instagram? Jangan ditanya, ini adalah tempat terbaik untuk mengomentari kehidupan pribadi orang yang bahkan tak dikenal sama sekali. Tidak percaya? Lihat saja postingan para artis dan perhatikan kolom komentarnya. Semua rusuh dan menjijikkan!

Saya merasa sedih sekaligus geram melihat kondisi media sosial yang seperti sekarang, ranah online yang sudah menjadi semacam panggung untuk saling tuding dan mencaci maki atas nama pribadi, agama, juga komunitas-komunitas tertentu. Satu kubu merasa benar hanya karena ada yang memilih berbeda, dan saling mengurusi ketakwaan orang lain pada Tuhan-nya.

Hingga pada akhirnya, saya pun bertanya pada diri saya, kalau Friendster masih ada, apakah kondisinya akan seperti itu juga? Kalau tidak, saya yakin akan ada migrasi besar-besaran untuk kembali ke sana. Karena saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang merindukan tempat bersosial yang penuh ketenangan dan kedamaian.

Apa kamu juga punya pemikiran sama seperti saya?

623
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."