Kisah Mengharukan Remaja Manado Bernama ‘Tahanan PBB’

Mungkin bagi kita namanya aneh, namun bagi Tahanan, namanya adalah sejarah kelam yang ingin dilaluinya

Saya percaya bahwa nama adalah sebuah doa. Oleh karenanya, memilih nama yang baik bagi anak amatlah perlu. Jangan sampai karena kita ‘salah’ memberi nama, lantas anak harus menanggung malu di masa depan. Hal ini sempat terjadi pada bocah bernama Aril Piterpen yang merasa malu dan ingin ganti nama karena sering diejek teman gara-gara namanya.

Kali ini, sebuah nama unik kembali muncul perbincangan di dalam negeri. Tidak main-main, seorang remaja di Manado mempunyai nama yang tidak hanya unik, namun juga mengherankan. Bagaimana tidak, anak tersebut bernama ‘Tahanan PBB’. Tak hanya itu, ternyata ada kisah kelam yang mengharukan dari nama tersebut.

Imigran Afghanistan

Tahanan PBB yang saat ini berusia 14 tahun adalah anak dari pasangan Mohammad Yaqub dan Akilah yang menghuni Rumah Detensi Imigran (Rudenim) Manado. Ia lahir pada 31 Agustus 2003 di dalam sel penjara yang lantas menjadi inspirasi namanya (adiknya kemudian juga lahir di sel dan dinamai tak kalah uniknya: Tahanan PBB Nomor Dua). Kedua orang tua Tahanan berasal dari Afganistan dan sebelumnya sempat ditahan di Rudenim Sumbawa. Baru pada tahun 2010 lah mereka kemudian dipindahkan ke Rudenim Manado.

Para imigran gelap yang jadi korban konflik berkepanjangan di negara asalnya (tempo.co)

Di Rudenim Manado, Tahanan tinggal bersama 139 imigran bermasalah lainnya. Tak hanya dari Afghanistan, ada pula yang berasal dari Sudan, Eritrea, Ethiopia, Somalia, Pakistan, Suriah, dan Myanmar. Hampir semua dari tahanan di sana adalah para pencari suaka yang meninggalkan negerinya karena ada konflik yang berkepanjangan di negara asal.

Fasih berbahasa Indonesia

Meski merupakan anak dari pasangan imigran Afghanistan, namun Tahanan fasih berbahasa Indonesia. Berhubung ia besar di Manado, maka tak heran jika bahasa Indonesia yang ia kuasai pun mendapat sentuhan dialek khas Manado. Sebenarnya tidak mengherankan jika ia fasih berbahasa Indonesia karena sejak sekolah dasar hingga kini duduk di bangku kelas 8 sekolah menengah pertama, ia bersekolah di Manado.

Tahanan PBB (grid.id)

Tahanan mengaku tidak mendapatkan kendala berarti selama bersekolah di Indonesia. Menurutnya, teman-teman sekolahnya amat membantunya untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Hal ini membuat Tahanan terus semangat dalam menuntut ilmu meskipun status kewarganegaraannya masih belum jelas.

Tahanan fasih berbahasa Indonesia dan tak menemui kendala dalam belajar karena teman-temannya selalu mendukung dia (kompas.com)

Tahanan sendiri hingga saat ini tak pernah merasa sebagai orang Indonesia walaupun ia memiliki akta kelahiran yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, serta tinggal dan bersekolah di Indonesia. Mungkin, Tahanan masih meyakini bahwa dirinya sampai kapanpun juga tetaplah berdarah Afghanistan dan saat ini kondisi memaksanya untuk menyandang status sebagai imigran.

Ingin jadi tentara

Berangkat dari permasalahan kewarganegaraan yang menimpanya beserta seluruh keluarganya, Tahanan pun menyimpan cita-cita ingin menjadi tentara. Alasannya sederhana saja, ia ingin mewujudkan keadilan di dunia.

Tahanan PBB bersama adiknya, Tahanan PBB Nomor Dua (zonautara.com)

Bagaimanapun juga, konflik peperangan yang terjadi di negaranya turut menjadi penyebab dirinya beserta banyak orang lain terpaksa menjadi imigran demi mendapat kehidupan yang tenang dan damai. Maka Tahanan pun bermimpi untuk bisa menjadi tentara yang betul-betul mampu menjaga perdamaian, bukannya malah memperpanjang penderitaan warga dengan peperangan tak berkesudahan.

Semoga impianmu ini tercapai, ya!

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

7 Alasan Mengapa Hidup di Kota Bisa Membunuhmu Pelan-Pelan

Hargai Mereka yang Membantumu Mendaki, Bukan yang Hanya Menunggumu di Puncak Tertinggi