Kisah Erix Soekamti, Vokalis Band Punk yang Dirikan Sekolah Gratis Karena Dendam Pribadi

Bukan pendidikan yang membuat orang bisa sukses, melainkan kemauan keras untuk menekuni passionnya

Bagi kamu pecinta musik indie, nama Endank Soekamti tentu sudah tak asing lagi di telinga, bukan? Band pop punk asal Yogyakarta ini memang terbilang punya jadwal manggung yang padat di berbagai daerah di Indonesia. Dan jika kita bicara tentang Endank Soekamti, maka tentu tak bisa lepas dari sosok Erix Soekamti, vokalis merangkap pemain bass di band tersebut.

Sosok Erix yang tambun dengan tato penuh di sekujur tubuh dan piercing di telinga berukuran besar mungkin membuat orang kadung menaruh persepsi buruk padanya. Padahal, Erix justru merupakan sosok inspiratif yang bisa membuat siapa saja merasa beruntung pernah mengenalnya. Salah satu hal inspiratif yang telah ia lakukan adalah membangun sekolah bakat gratis yang bisa diikuti siapapun asalkan memiliki passion di bidang yang ditawarkan oleh sekolah bakat tersebut.

DOES University

Pada tanggal 16 Desember 2016, Erix mendirikan sekolah bakat bernama DOES University dengan modal Rp 300 juta. Nama DOES sendiri merupakan kependekan dari Diary Of Erix Soekamti, sebuah tayangan di YouTube pribadinya yang berisi kegiatan Erix sehari-hari sebagai seorang musisi, sutradara, maupun creativepreneur.

Erix Soekamti (hai.grid.id)

Kalau kita cermati, Erix selalu memberikan hal-hal positif yang inspiratif melalui tayangan DOES di channel YouTube-nya itu. Hingga suatu ketika akhirnya Erix mengatakan dirinya punya ide untuk membuat sekolah bakat gratis bagi anak muda yang punya passion dan bakat di bidang desain dan animasi. Tak hanya gratis, Erix bahkan mengaku tidak memberikan syarat-syarat khusus bagi calon siswa yang tertarik. Meski begitu, tetap ada proses seleksi untuk menentukan siswa yang akan diterima belajar di DOES University karena keterbatasan kuota.

Animasi

Saat ini DOES University memang sudah punya sejumlah jurusan termasuk kelas programmer. Namun ketika pertama kali memulai DOES University, Erix memilih animasi sebagai mata kuliah yang diajarkan. Alasannya, Erix merasa bahwa dunia animasi di Indonesia masih jarang disentuh dan punya potensi untuk terus dikembangkan. Untuk bisa berkembang tentunya perlu ada banyak sumber daya manusia yang menguasai ilmu di industri animasi. Itulah sebabnya ia ingin memberdayakan anak muda Indonesia untuk bisa mengembangkan dunia animasi lokal.

Siswa DOES University kelas animasi sedang belajar (doesuniversity.com)

Erix lantas menggandeng rekan-rekannya yang berkecimpung di bidang animasi untuk bersedia membantunya di DOES University. Kelas animasi ini pun terus berkembang dan kini turut berkontribusi dalam tayangan animasi ‘Adit, Sapo dan Jarwo’ yang mengangkat cerita khas kehidupan di Indonesia. Untuk mendukung kelas animasi ini, Erix bersama rekan band-nya bahkan turut membuat video lagu anak-anak agar anak Indonesia bisa menikmati lagu yang sesuai dengan usianya.

Pendanaan

Mungkin banyak yang bertanya-tanya: jika sekolah ini gratis, lantas darimana pendanaannya? Meski memang menerima donasi dari beberapa sumber, namun Erix tidak menggantungkan pendanaan DOES University dari donasi. Ia menolak jika DOES University disebut tumbuh dari ngemis-ngemis donasi.

Salah satu merchandise DOES University yang dijual untuk pendanaan belajar-mengajar (does.university)

Oleh karena itu, Erix mengajak siswa DOES University untuk bersama-sama membiayai sendiri kelangsungan hidupnya. Caranya ada banyak, mulai dari merilis merchandise, membuka angkringan DOES University, bahkan belakangan ini dana juga datang dari hasil proyek yang dikerjakan untuk instansi-instansi tertentu.

 

Balas dendam

Meski dikenal sebagai sosok visioner, namun Erix mengaku bahwa latar belakang pendidikannya pas-pasan. Boleh dibilang ia hanya memiliki ijazah SMP karena Erix D.O. (drop out) semasa kelas 2 di Sekolah Menengah Musik (SMM). Penyebabnya, Erix tidak suka cara guru mendikte bakatnya. Ia yang ingin belajar menjadi pemain bass handal justru dipaksa jadi pemain terompet karena gurunya merasa konstruksi bibir Erix sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seorang pemain terompet. Terbukti, saat ini Erix sukses menghidupi dirinya dari bermain bass bersama band Endank Soekamti.

Erix saat tampil bersama band-nya (orangemagz.com)

Pengalaman tidak mengenakkan itu membuat Erix mempunyai dendam tersendiri pada dunia pendidikan, namun tentunya dendam yang baik. Erix membayangkan ada banyak anak yang terpaksa D.O. karena dipaksa berkutat dengan ilmu yang tidak sesuai dengan minat dan cita-citanya. Itulah sebabnya ia ingin agar DOES University betul-betul bisa menjadi wadah bagi anak-anak muda yang ingin menggeluti bakatnya secara serius. Menurut Erix, orang berpendidikan itu bukanlah yang jenjang sekolahnya tinggi, namun orang yang mau terus belajar karena bagi Erix pendidikan adalah proses belajarnya, bukan sekedar institusi pendidikannya atau sekolahnya.

Dari Erix Soekamti kita belajar bahwa menilai orang tidak bisa hanya dari penampilan luarnya saja. Selain itu, pendidikan seseorang akan berlangsung maksimal jika ia memang mempunyai ketertarikan di bidang tersebut. Jadi para orang tua hendaknya tidak egois dan memaksa anak untuk belajar sesuatu yang tak ia sukai. Kenali bakatnya, dan arahkan agar bisa mencapai hasil yang terbaik.

 

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *