Ketika Istri Kebablasan Beremansipasi, Maka “Habis Gelap Terbitlah Perang”

Beremansipasilah untuk kesetaraan, bukan untuk mendominasi laki-laki

Tanggal 21 April merupakan “hari besar” bagi perempuan Indonesia, pasalnya di tanggal tersebut gaung kesetaraan perempuan lantang disuarakan. Dengan satu kata emansipasi perempuan Indonesia berada di satu barisan melawan kediktatoran laki-laki dalam pergaulan dengan perempuan, baik dalam keluarga, sosial, politik, ekonomi, maupun pendidikan.

Baca juga : Inilah Alasan Logis Kenapa Istri Harus Punya Pemasukan Sendiri Tanpa Mengandalkan Suami

R.A Kartini merupakan tokoh pelopor emansipasi di Indonesia (normansatria.files.wordpress.com)

Namun sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, dengan dalih emansipasi kini perempuan tidak hanya setara dengan laki-laki, melainkan justru dalam rumah tangga perempuan banyak yang lebih mendominasi. Inilah yang menyebabkan kemudian muncul kelompok-kelompok suami takut istri.

Dengan dalih kesetaraan juga, kini banyak istri yang “kebablasan” dalam memaknai emansipasi. Akibatnya kini justru peran istri dalam rumah tangga bisa dikatakan lebih mendominasi daripada seorang suami. Jadi bukan lagi setara antara peran istri dan suami, namun istri berhasil menguasai suami dalam berbagai persoalan.

Emansipasi yang kebablasan menjadikan istri mendominasi suami (ributrukun.com)

Fenomena suami takut istri kini bukan lagi isapan jempol belaka, bukan juga sekedar jargon atau judul lagu, namun fenomena tersebut memang ada nyatanya. Bahkan, dominasi perempuan dalam hubungan suami istri bisa kita rasakan semenjak masih dalam status pacaran. Contoh terkecilnya saja, saat seorang perempuan selalu ingin dimengerti, tanpa sesekali mencoba memahami laki-laki.

Dalam pacaran juga seorang perempuan masih menjadi pemegang kendali suatu hubungan, mungkin kamu yang cowok pernah merasakan, untuk menentukan tempat makan saja kita harus nurut atau berkonsultasi kepada cewek kita. Sebab kalau sampai kita salah memilih tempat makan, kelar nasib kita.

Domiasi perempuan juga terjadi saat kita pacaran (ibunda.id)

Dominasi perempuan terhadap laki-laki dalam hubungan memang tidak bisa kita pungkiri, lagi-lagi mengatasnamakan sebuah emansipasi. Mari kita sejenak membandingkan emansipasi ala R.A Kartini yang sebenarnya, Kartini dalam perjuangannya tidak pernah menginginkan lebih dominan dari laki-laki, ia hanya menginginkan peran, status, dan hak perempuan itu sama dengan laki-laki, baik dalam sosial, politik, ekonomi, maupun pendidikan.

Ingat, kunci dari kata emansipasi ialah kesetaraan, tidak ada yang lebih unggul atau lebih dominan. Inilah perjuangan Kartini untuk membebaskan kaum perempuan dari sistem sosial yang diskriminasi terhadap perempuan kala itu. Hak berpendidikan, berserikat, berorganisasi, dan hak dalam lapangan pekerjaan, itulah perjuangan perempuan sesungguhnya. Memecahkan hirarki laki-laki yang mendominasi dan mendiskriminasi perempuan.

Menguasai laki-laki bukan termasuk emansipasi (uzone.id)

Jadi bukan emansipasi ala Kartini jika seorang istri mendominasi suami. Lalu apa yang akan terjadi jika seorang istri terlalu mendominasi suami dengan dalih emansipasi? Kemungkinan terbesar ialah akan terjadi habis gelap terbitlah perang, bukan habis gelap terbitlah terang. Yah, emansipasi yang kebablasan bukan malah mencerahkan dan mengatasi masalah, namun justru menghadirkan masalah baru.

Pada dasarnya, secara alamiah setiap laki-laki memiliki sifat kepemimpinan yang ada di dalam dirinya. Siapapun itu laki-lakinya, pasti memiliki naluri kepemimpinan, baik sedikit ataupun banyak. Dengan naluri kepemimpinan yang dimiliki laki-laki, terlebih posisinya sebagai kepala keluarga, suami tentu akan merasa tidak nyaman jika dirinya di dominasi oleh seorang istri. Bahkan dalam ketidaknyamanannya bisa melakukan “pemberontakkan”.

laki-laki yang terlalu di dominasi perempuan sebenarnya ada rasa ketidaknyamanan

Meskipun kelihatannya tidak ada konflik, namun pada diri suami yang terlalu didominasi istri terdapat konflik bathin yang hebat. Ingat teori konflik, dalam setiap ketenangan sebenarnya ada konflik yang dibendung oleh sebuah aturan.

Contoh saja, ketika kita tenang di dalam kelas, sebenarnya secara naluri kita tidak ingin tenang, ingin mainan hp lah, ngobrol sama teman lah, atau bahkan tidur. Namun karena ada peraturan harus memperhatikan guru, maka kita harus tenang. Itulah yang dimaksud dalam ketenangan bukan berarti tidak ada konflik, meskipun hanya konflik bathin.

Laki-laki manapun memiliki naluri untuk memimpin, jika selalu didominasi istri awas suami bisa lari (kitamuda.id)

Pun dalam persoalan tadi, tentang dominasi seorang istri terhadap suami dengan dalih emansipasi. Meskipun kelihatannya suami oke-oke saja, namun ingatlah sebenarnya bathinnya memberontak, naluri sebagai pemimpin tidak suka jika selalu di dominasi. Jadi buat ibu-ibu atau calon ibu, emansipasi itu baik, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan itu bagus. Tapi jika sampai kebablasan dengan mendominasi suami, itu persoalan serius pemicu perang dingin dalam rumah tangga.


Beremansipasilah untuk kesetaraan, bukan untuk mendominasi laki-laki (hipwee.com)

Beremansipasilah untuk kesetaraan, bukan untuk mendominasi laki-laki. Sebab bagaimanapun juga suami merupakan imam rumah tangga, dipundaknya ada tanggung jawab keluarga, keringatnya ada rejeki istri. Selemah apapun seorang suami, hormatilah dia yang dengan gagah berani berjanji menjaga, mencintai dan menafkahimu dalam ucapan ijab.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Cowok Dengan 6 Kebiasaan Ini Sungguh Tak Pantas Kamu Pertahankan, Lebih Baik Segera Tinggalkan!

7 Cara Mengambil Hati Orang Lain dengan Psikologi