Ketidakadilan Pendidikan Adalah Cara Indonesia Melestarikan Kemiskinan

Negara kita tidak cukup mampu menyelenggarakan pendidikan umum yang bagus untuk seluruh warga negara

Saya yakin, para orang tua yang memiliki cukup pengetahuan dan memiliki rasa tanggung jawab, akan memperjuangkan pendidikan yang bagus untuk anak-anak mereka. Mereka semua, akan berpikir bahwa pendidikan yang baik adalah kunci utama untuk meningkatkan mutu kehidupan.

Pendidikan yang baik adalah kunci utama untuk meningkatkan mutu kehidupan. | kiatsuksesunas.wordpress.com

Dan jika kamu menginginkan masa depan yang baik untuk anak-anakmu, logikanya, kamu akan berpikir bahwa anak-anak anda harus belajar di sekolah yang baik, yang dijalankan dengan metode pembelajaran yang baik, dengan guru-guru bermental pembelajar yang baik.

Karena itu, dengan bercermin dari keinginan para orang tua untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah yang baik, kita bisa mengatakan bahwa pendidikan adalah hal yang menjadi perhatian utama setiap keluarga, demi mutu kehidupan yang meningkat di masa mendatang.

Cara negara melestarikan kemiskinan

Masalahnya, percaya atau tidak, negara kita tidak cukup mampu menyelenggarakan pendidikan umum yang baik untuk seluruh warga negara.

Sekolah-sekolah pemerintah dikelola seperti tanpa harapan dan dijalankan sebagai budaya latah saja, dengan cara berpikir yang benar-benar klise: pelajaran agama perlu ditambah, itu jika ada masalah di kalangan para siswa. Selain masalah itu, tak ada apapun yang perlu diubah.

Nah, ketidakmampuan negara menyelenggarakan pendidikan yang bermutu ini kemudian dimanfaatkan oleh swasta.

Sekolah-sekolah swasta yang baik muncul akibat negara tidak mampu menyelenggarakan pendidikan yang bermutu. | digi24.ro

Orang-orang kaya bisa memilihkan sekolah yang bagus untuk anak-anak mereka di sekolah-sekolah swasta yang memang hanya untuk anak-anak orang kaya. Sebab biayanya terlampau mahal bagi seorang buruh yang bergaji Rp40 ribu per hari.

Akibatnya, masyarakat miskin terpaksa menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah yang lebih murah dengan mutu seadanya dan tidak mampu membelikan buku-buku. Anak-anak mereka bergaul dengan sesama anak miskin, saling menguatkan miskin-isme, dan sesekali tawuran.

Hingga pada akhirnya, pada saat lulus sekolah, mereka kalah bersaing melawan anak-anak orang kaya. Tentu saja, ada anak-anak dari keluarga miskin yang berhasil, tetapi secara umum, tanpa kebijakan radikal dari negara, orang miskin hanya akan melahirkan orang-orang miskin berikutnya.

Generasi miskin berikutnya

Dalam hal ini, dengan kalimat yang lebih sederhana, negara mencetak kemiskinan karena tidak sanggup menyediakan pendidikan yang baik untuk semua warga negara. Kita sudah melihat hasil yang membosankan dari pendidikan yang buruk, yaitu budaya berisik dan adu mulut di dalam kelas.

Negara mencetak kemiskinan karena tidak sanggup menyediakan pendidikan yang baik untuk semua warga negara. | baringopi.wordpress.com

Dan satu lagi, budaya menyontek kanan-kiri, bahkan sesekali sangat radikal dengan mengerjakan ujian berjamaah. Supaya apa? Supaya anak-anak miskin yang tak kebagian sekolah bermutu itu, bisa bersama-sama lulus dengan predikat memprihatinkan: penerus generasi miskin berikutnya.

Sekian.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *