Soal Kesetiaan Itu, Cukup Kamu Saja yang Memutuskan

Karena hanya kamu yang benar-benar merasakan

Ada saat dimana kamu harus menunggu seseorang yang memiliki hatimu seutuhnya. Ada waktu dimana kamu berpikir bahwa kamu bisa membuang kesetiaan itu begitu saja. Namun, apa kamu akan melakukannya? Perasaan seperti itu memang sangat menyakitkan. Ketika kamu yakin lebih bahagia dengan meninggalkan dia dan memulai hubungan yang baru, disaat itulah hatimu bersikeras menunggunya meski harus merana.

(Via imgion.com)
(Via imgion.com)

Kesetiaanmu diuji. Antara bahagia tanpanya atau, sabar menunggu dia kembali dengan harapan dan sejuta pertanyaan yang terngiang di kepala. Dia yang meninggalkanmu tanpa pesan, dia yang pergi tanpa satu pun alasan. Dia yang menyakiti hatimu adalah satu-satunya orang yang berhasil membahagiakanmu dengan tanpa paksaan.

Jadi, akankah kamu tetap menunggu?

Tidak ada yang salah atau benar ketika kamu memutuskan untuk menanti kepulangannya. Salahkah ketika kamu memilih menunggu demi sebuah kebahagiaan? Salahkah ketika kamu rela menyakiti diri sendiri dengan membiarkan berjuta kemungkinan menghantui pikiranmu?

(Via dailybackgrounds.com)
(Via dailybackgrounds.com)

Inikah cinta yang sebenarnya?

Berjuta pertanyaan dan kemungkinan itu akan selalu ada. Tidak akan pernah bisa lenyap dari kepala walaupun, kamu mencoba menghiraukannya dengan melakukan apa saja. Dan, inilah saat yang tepat untuk mempersilahkan logikamu bertanya, “benarkah ini cinta? Ataukah rasa penasaran belaka?”

(Via ilovehdwallpapers.com)

Namun, inginkah aku?

Putri dan Bintang Jatuh itu seringkali memenuhi setiap jalur aliran darah seakan sekaligus memberikan komando untuk melupakan dia. Dari semua kerumitan yang berada di kepala akhirnya tersisa sebuah pertanyaan yang menohok, “bukan bisa atau tidak aku melupakannya, namun, inginkah aku?”

— Kutipan monolog Ferre dari buku ‘Ksatria’

(Via wallpaperrs.com)
(Via wallpaperrs.com)

Jawablah dengan tulusnya hati dan kejernihan logikamu.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *