Jomblo Itu Datang Bukan Karena Ketidakbisaanmu, Namun Karena Keputusasaan yang Terus Saja Kamu Cumbu

Karena mencari pasangan untuk melengkapi hidup dan mengakhiri keputusasaan itu berbeda. Sangat berbeda. Maka kenali diri dan berubahlah bila perlu.

Kamu datang sendirian ke dunia ini, tanpa pasangan dan tidak tahu mengapa hal seperti itu bisa terjadi. Namun kamu tidak pernah mempedulikan. Yang kamu pikirkan adalah, bagaimana tumbuh dan berkembang seperti orang tuamu, seperti manusia-manusia di sekitarmu. Dan kemudian kamu sampai pada fase kedewasaan, fase dimana salah dan benar disempurnakan, fase dimana pasangan diperkenalkan.

Fase ini begitu mengerikan, andai kamu tak belajar memahamkan pada hati dan pikiran. Dan soal pasangan itu, kamu nyaris dibuat menangis setiap kali tak kunjung mendapatkan. Beberapa dari temanmu bahkan nyaris mati dan putus asa. Menangisi orang yang belum pernah ditemui, menangisi diri yang terlalu lambat untuk mencari. Lantas, ini salah siapa? Dia yang egois dan sekarang entah di mana? Atau takdir? Ataukah Tuhan? Kalau kamu telah belajar banyak tentang hidup sebelum sampai fase dewasa ini, mestinya kamu tak perlu menanyakan hal bodoh seperti itu.

(Via puckermob.com).
Disaat kamu tak kunjung menemukan pasangan seperti ini, apa kamu ingin menyalahkan yang lain?(Via puckermob.com).

Mungkin di beberapa kesempatan, kamu pernah mengicip manisnya hubungan asmara yang tak terbantahkan itu. Namun tak lama, kamu tak pernah merasakan lebih dari itu. Kemudian, kamu hanya bisa membiarkan diri meringkuk di kamar dan menangis (lagi) menyesali apa yang sudah terjadi.

“Mau sampai kapan kamu seperti itu?”

Mencari pelengkap hidup atau pengurai kesepian?

Karenanya, sebelum kamu benar-benar putus asa dan berpikir tidak akan pernah menemukan pasangan terbaik, dewasakan hati serta pikiran. Mengapa kamu harus putus asa? Kamu menginginkan pasangan sebagai pelengkap hidup atau, semata-mata karena tidak bisa mandiri dengan kesendirian lalu putus asa? Jika kamu belum bisa membedakan kedua hal ini, akan menjadi sangat wajar kalau setiap hubungan yang kamu bangun dengan hati-hati selalu gagal. Mencari pasangan untuk melengkapi hidup dan mengakhiri keputusasaan itu berbeda. Sangat berbeda.

(Via scoopwhoop.com).
Mencari dia yang bisa melengkapi hidup dan yang sekadar mengurai kesepian itu jauh berbeda (Via scoopwhoop.com).

Disaat teman-temanmu bahagia karena telah menemukan pasangan hidup mereka, kamu masih saja sibuk kesana-kemari mencari seseorang yang bisa mengurai kesendirianmu. Dan apa yang kamu lakukan itu percuma. Atau, selama ini kamu belum sadar selalu mengupayakan hal yang sia-sia? Kalau iya, coba teliti baik-baik apakah tanda-tanda berikut ini ada pada dirimu.

Kamu menginginkan seseorang untuk mengisi kekosongan hati

Kamu selalu buru-buru. Kamu begitu cepat mengambil keputusan untuk mengajak seseorang menjalin hubungan tanpa melewati fase-fase yang disarankan. Setiap ada orang yang sedikit saja memberimu perhatian, kamu langsung memanggil perasaan untuk mendiskusikan. Mau tahu mengapa kamu bisa seperti itu? Karena kamu tidak sanggup sendiri, kemudian mencari siapa saja untuk mengisi kekosongan hatimu. Tinggalkan kebiasaan itu. Karena sebenarnya, hatimu tidak pernah kosong sampai kamu menganggap seperti itu. Fokuslah pada hobi dan apa yang rutin kamu lakukan setiap hari. Ya, sesederhana itu.

(Via thesingletheory.com).
Kamu begitu cepat mengambil keputusan untuk mengajak seseorang menjalin hubungan tanpa memikirkannya terlebih dulu (Via thesingletheory.com).

Kamu benar-benar sudah mengenali dirimu?

Sadarkah kamu, orang lain begitu percaya diri mencari pasangan karena tahu mereka layak dan berharga. Sedangkan kamu? Kamu masih saja mendambakan kenyamanan dalam sebuah hubungan. Kamu merasa tidak berharga tanpa pasangan karena belum mengerti siapa dirimu dan seberapa berharganya kamu. Ketika kamu (beruntung) mendapatkan pasangan dan terjadi keretakan kecil, tidak ada yang bisa kamu lakukan selain posesif, tidak merasa aman, dan ya.. perasaan unik bernama galau.

(Via 99pcwallpapers.com).
Siapa kamu sebenarnya? Coba pahami itu dulu sebelum memulai sebuah hubungan (Via 99pcwallpapers.com).

Cobalah kenali dulu siapa dirimu sebelum memulai sebuah hubungan. Apa kelebihan serta kekuranganmu? Apa yang harus kamu lakukan untuk memperbaiki diri? Dan, apa yang harus kamu upayakan untuk menjadi lebih percaya diri? Percayalah, hanya kamu yang bisa menjawab semua itu. Bukan dia yang kamu harapkan menjadi pasangan.

Kamu jujur dan berjanji tidak bisa hidup tanpa pasangan

“Sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Jujur saja, kamu pasti pernah mengucapkan kalimat itu pada mereka yang pernah menjadi pasanganmu. Mungkin kamu tidak benar-benar mati sekarang, namun selalu dihantui rasa takut memulai dan keputusasaan mendalam. Dan tahukah kamu, mereka yang mempunyai hubungan sempurna justru berani hidup tanpa pasangan. Bagi orang-orang seperti itu, memiliki pasangan merupakan pilihan hidup, bukan lagi karena keputusasaan tanpa pasangan atau merasa tidak aman seperti kamu.

(Via worldyo.org).
Yakinlah, sebenarnya kamu tidak pernah sendirian (Via worldyo.org).

Menjadi mandiri memang membutuhkan waktu dan proses, namun tidak sulit sebenarnya. Buang jauh-jauh pikiran bahwa kamu tidak bisa hidup tanpa pasangan. Yakinlah, kamu tidak pernah sendirian. Kamu punya keluarga, sahabat, dan hidup yang selalu menunggu untuk disyukuri. Setelah kamu bisa untuk tidak menyia-nyiakan ketiga hal itu, pasangan yang tepat pasti akan datang cepat atau lambat.

Selalu saja, kamu nyaman dalam ketidakpastian

Mungkin karena terlalu putus asa belum juga berjumpa dengan pasangan yang diharapkan, kamu rela mengubah diri demi dia yang mungkin bisa diharapkan. Kamu ikhlas menunggu dan melakukan apapun untuknya. Apa kamu tidak sadar bahwa hidupmu terlalu pahit dengan membiarkan hanyut dalam ketidakpastian hubungan seperti itu?

(Via puckermob.com).
Dan akhirnya, hidupmu terlalu pahit dengan membiarkan hanyut dalam ketidakpastian hubungan seperti itu (Via puckermob.com).

Di mana nyalimu? Ketahuilah bahwa, situasi tidak akan berubah kecuali kamu sendiri yang mengupayakannya. Kalau pun ternyata dia tidak mau menerimamu, tinggalkan saja. Kamu yang lebih memilih diam dan senang memberi kode dengan harapan dia mau memahami, adalah tipe orang yang tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan dengan jujur sampai kapan pun. Berusahalah untuk tidak menggantungkan kebahagiaanmu padanya. Bersikaplah jujur pada dirimu sendiri.

Lalu, apa kamu benar-benar seperti itu? Kalau memang iya, jujur dan berubahlah sekarang juga. Apa kamu tidak kasihan dengan dirimu yang selalu saja menangis dan meringkuk di balik pintu kamarmu itu? Apa kamu tidak peduli dengan keluarga, sahabat, dan hidup yang bahkan lebih mempedulikanmu itu? Apa kamu yakin tidak peduli, dengan dia yang benar-benar (akan) kamu sayang dan sekarang sedang sibuk mempersiapkan kehadiranmu? Jangan biarkan dia terus-terusan bimbang karena keputusasaanmu!


Apa tulisan sederhana ini cukup membuatmu memahami diri? Jangan jadi egois dengan tidak membagikannya pada teman-teman terbaikmu. Atau ada yang mau ditanyakan? Tinggalkan saja di kolom komentar.


Yang tak kalah romantisnya: Jika Aku Mati Sekarang.. Apa yang Akan Kamu Lakukan, Sayang?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

2 Comments

Leave a Reply
  1. Bukan sekali aku mencoba, namun selalu gagal, dan bukan pada satu atau dua wanita bahkan lebih daru 8 wanita yang telag menjadi mangsaku ,namun tak ada yang menerima cintaku, ,saya sempat murtazd,”TUHAN TIDAK ADIL”, Nah yang saya lakukan sekarang saya merasa bingung ,apa lagi usia saya yang terus bertanbah tua, umur saya 24 tahun, atau mungkin ini ada kaitanya dengan rupa (aku yang kurang) tolong kasih jalan keluarnya, .rayuan setan yang selalu menghantuiku kini terasa kusetujui.

One Ping

  1. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *