Saat Para Milyarder Doyan Tampil Sederhana, Kenapa Kita Justru Doyan Tampil Sok Kaya?

Ngapain sih sok kaya? Malu dong sama yang beneran kaya dan selalu hidup sederhana

Rasanya, kita semua sudah familiar dengan istilah social climber bukan? Kalau diartikan secara sederhana, social climber atau pemanjat sosial adalah orang-orang yang rela melakukan berbagai cara untuk meningkatkan status sosialnya. Mulai dari pamer barang-barang baru yang mahal, pamer makan di restoran mewah, dan lain sebagainya yang mampu meningkatkan kesan glamour pada diri seseorang.

Lucunya, banyak dari orang-orang tersebut yang sebenarnya berkantong pas-pasan. Tak jarang mereka sampai berhutang hanya untuk terlihat kaya. Padahal, kalau kita cermati lebih jauh, justru banyak milyarder tulen yang memilih untuk hidup sederhana. Para milyarder tersebut toh tidak kehilangan aura ‘tajir’-nya meski tidak memamerkan kekayaannya. Kok bisa ya?

Orang kaya tak butuh pengakuan

Perdana Menteri Thailand ke-23, Thaksin Shinawatra menyuruh putrinya (yang dilingkari) untuk menjadi karyawan di McDonald Thailand untuk mendidik sang putri untuk paham bagaimana mencari uang dengan keringat sendiri. Sang putri pun tak keberatan dan menikmati pekerjaannya itu – kapanlagi

Berbeda dengan orang-orang yang sok kaya, mereka yang kaya betulan merasa tak ada pentingnya untuk memamerkan kekayaannya. Dengan kata lain, mereka tak membutuhkan pengakuan. Mereka bahkan tidak segan untuk melakukan pekerjaan apapun meski pekerjaan tersebut dipandang kurang prestisius. Ini tentu berbeda dengan pemikiran para social climber yang ingin terlihat serba wah dan segan mengerjakan pekerjaan yang dianggap kurang bergengsi. Kalaupun ada orang kaya yang doyan pamer kekayaan di media sosial macam social climber, perhatikan deh, biasanya orang tersebut bermasalah. Contoh paling dekat: Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, bos First Travel yang bermasalah itu.

Karena memamerkan dan membicarakan kekayaan adalah hal yang tidak penting

Meski bisa beli aneka amcam pakaian, Mark Zuckerberg memilih untuk mengenakan satu jenis pakaian dengan warna sama setiap harinya – youtube

Kenapa Mark Zuckerberg dan almarhum Steve Jobs suka memakai pakaian polos berwarna sama setiap hari? Jawabannya mudah. Meski toh mampu membeli pakaian berharga jutaan, orang-orang tersebut tidak merasa memerlukannya. Mereka melakukannya karena dengan memakai pakaian bergaya simple dan berwarna sama setiap harinya, mereka tidak perlu dipusingkan oleh model pakaian yang akan digunakan, sehingga bisa memakai waktu dan pikiran untuk hal-hal lain yang lebih penting. Ini tentu berbeda dengan orang-orang yang mengejar status sosial. Makin keren dan mahal pakaian yang digunakan, makin pede dan bangga perasaannya. Padahal, bagi orang-orang kaya hal semacam itu tidaklah penting.

Orang kaya hanya membicarakan hal-hal mahal dengan sesama kalangannya. Orang sok kaya berbuat sebaliknya

Apapun ia lakukan agar terkesan menjadi orang kaya (yukepo.com)

Orang-orang kaya biasanya enggan membahas hal-hal materialistis dengan mereka yang bukan sesama kalangannya. Misalkan, saat mereka membicarakan sebuah mobil Lamborghini berharga milyaran, mereka tak akan membahasnya secara materi bersama orang yang kemampuan finansialnya lebih rendah. Umumnya, mereka akan lebih memilih untuk membahas sisi lainnya saja, seperti berapa kecepatan maksimal yang bisa ditempuh atau hal-hal bersifat umum. Ini berbeda dengan orang sok kaya yang justru gemar membahas hal materialistik pada setiap orang. Tujuannya jelas, agar derajat dirinya dipandang lebih tinggi oleh orang lain.

Orang kaya tak mementingkan nilai prestige sebuah tempat. Orang sok kaya langsung heboh memamerkannya

Berbeda dengan orang yang betulan kaya, para social climber akan amat mementingkan nilai prestisius dari sebuah tempat. Ibaratnya, Starbucks akan terlihat lebih pas di mata mereka ketimbang minum di warung kopi tradisional. Sedangkan bagi orang kaya, nilai prestisius sebuah tempat sudah tak lagi penting. Mereka cenderung mencari kepuasan tertentu yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Mantan presiden Amerika Serikat Barrack Obama saja tak segan makan di warung pinggiran – infolintasnegara.blogspot.com

Itulah sebabnya kita akan sering menjumpai orang-orang kaya di sebuah tempat makan terpencil di desa yang bahkan tidak punya standar meja layaknya restoran, penginapan sederhana bergaya etnik, dan masih banyak lagi. Faktor kelezatan makanan atau nostalgia yang ada membuat orang-orang kaya kadang lebih menyukai tempat-tempat seperti ini ketimbang yang mewah dan harus merogoh kocek dalam.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Heran Kenapa Cowok yang Dekatin Kamu Tiba-Tiba Menghilang? Kata Dia, Ini Alasannya

5 Gunung Terkenal di Indonesia yang Menyimpan Pasar Gaib di Dalamnya