Kecerdasan Sejati Adalah Kemampuan untuk Beradaptasi Terhadap Perubahan

Kalau tak mampu melawan perubahan, maka beradaptasilah dengan baik agar kamu bisa menyesuaikan diri

Perkembangan zaman kian terasa cepat dan sejalan dengan perkembangan teknologi. Ini membuat persaingan semakin ketat di berbagai lini kehidupan. Pasalnya, apa yang canggih dan populer saat ini bisa jadi ketinggalan zaman setahun berikutnya. Jadi kalau tidak menyesuaikan diri, kita akan dengan mudahnya tertinggal dari orang lain.

Sayangnya, masih banyak orang yang tak menyadari hal tersebut. Saat ini, banyak orang yang terjebak dalam zona nyaman dan menolak perubahan. Misalkan saja, mereka yang sudah kadung nyaman menikmati pekerjaan sebagai pengemudi angkutan umum harus gigit jari dan mengalami penurunan pendapatan karena banyaknya moda transportasi online yang masuk dan menggeser keberadaan merekak.

Protes pada kemajuan zaman adalah kesia-siaan belaka

Tidak hanya sektor transportasi, namun juga dari sektor media. Saat ini, berapa banyak koran dan majalah yang terpaksa gulung tikar karena kalah oleh perkembangan dunia digital? Jika dahulu kita terbiasa membaca koran untuk mengetahui berita terkini, maka sekarang kita hanya membutuhkan smartphone dengan koneksi internet untuk mengetahui berbagai macam berita di seluruh dunia secara aktual. Bahkan, kebakaran pasar yang terjadi lima menit lalupun sudah bisa kita ketahui saat itu juga berkat perkembangan teknologi ini.

Kemampuan beradaptasi yang baik adalah kunci kesuksesan (kakakpintar.com)

Mau tak mau, media konvensional pun harus bergerak memikirkan cara agar tidak mati digerus zaman. Oleh sebab itu, banyak kita temui media cetak besar yang akhirnya juga beralih ke online demi menuruti permintaan pasar yang selalu ingin serba cepat. Ini artinya, jalan terbaik menghadapi kemajuan zaman adalah dengan beradaptasi, bukan melawannya karena itu hanya akan berujug sia-sia.

Cerdas dengan beradaptasi

Atas dasar itulah sebenarnya cukup mengherankan melihat banyak orang yang tidak siap dan gagap teknologi akhirnya menolak kemajuan zaman. Dalam kasus ojek online misalkan, bahkan perkumpulan ojek konvensional di banyak tempat memilih untuk melarang ojek online beroperasi di kawasannya. Ini tentu tidak masuk akal dan merupakan cara-cara preman. Iklim usaha yang sehat tentu tidak mentolerir adanya monopoli seperti ini.

Majalah Hai berhenti mengeluarkan edisi cetak dan pindah sepenuhnya ke platform digital demi beradaptasi dengan zaman (kompas.com)

Bukankah lebih baik jika mereka lantas ikut menjadi bagian dari ojek online dan mendapatkan peningkatan pendapatan ketimbang sebelumnya? Saya paham jika ada alasan-alasan tertentu yang menjadi pertimbangan mereka tidak ingin bergabung dalam barisan ojek online yang sejalan dengan kemajuan zaman. Namun jika demikian adanya, maka mereka harus siap tergerus oleh zaman, karena artinya mereka tidak bisa beradaptasi. Ibaratnya, majalah remaja legendaris dan sebesar Hai saja sampai menutup divisi cetaknya karena terus mengalami penurunan oplah sejak maraknya situs berita online, apalagi ojek konvensional yang tidak punya payung perusahaan?

Pentingnya adaptasi

Baik ojek maupun media online hanyalah segelintir dari banyaknya kasus yang menuntut orang-orang beradaptasi pada perubahan. Mereka lupa, kantor pos dulu juga mengalami penurunan jumlah pelanggan karena kemunculan telepon dan akhirnya telepon genggam. Manusia memang mempunyai naluri untuk melakukan berbagai hal dengan cara sesederhana dan sepraktis mungkin. Oleh karenanya, segala hal yang berbau konvensional bisa memudar dan tergantikan oleh kemajuan zaman.

Penjual kerak telor tradisional inipun dengan cerdasnya beradaptasi dengan kemajuan zaman hingga bergabung menjadi mitra dari layanan antar makanan Go-Jek (pictaram)

Kemampuan adaptasi juga dibutuhkan dalam berbagai hal. Selama kamu berhadapan dengan hal baru, maka disitulah peran adaptasi bekerja. Daripada melawan hal yang asing bagimu, jadilah cerdas dengan mencoba untuk mengenali hal baru tersebut dan menyesuaikan diri untuk menghadapi kemungkinan menarik apa saja yang bisa dimunculkan oleh hal tersebut.

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *