Dari Nginang Hingga Petanan, 7 Kebiasaan Jadul Ini Kini Mulai Ditinggalkan

Padahal kebiasaan ini termasuk bagian dari budaya nenek moyang lho

Membentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memang kaya raya. Kaya akan hasil alam, kaya akan wisata, dan juga kaya akan budaya. Sayangnya semakin hari, Indonesia terus saja digempur dengan globalisasi sehingga mengalami banyak perubahan. Salah satu perubahan nyata adalah kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Banyak kebiasaan yang dulu sangat populer dan mudah sekali ditemui di masyarakat, kini sudah mulai jarang. Bahkan di beberapa daerah dan kota besar sudah tidak lagi dilakukan.

Baca juga : Inilah Tipe Pelajar yang Akan Selalu Dikenang Teman-temannya Meski Sudah Lulus Lama

Kebiasaan-kebiasaan yang perlahan mulai memudar ini tentu saja ada hubungannya dengan budaya. Mengingat kebiasaan ini sudah ada di Indonesia sejak jaman nenek moyang. Terus dilakukan dan dilestarikan hingga akhirnya tergerus globalisasi jaman. Biar nggak lupa, ini lho 7 kebiasaan jadul yang kini mulai dilupakan.

Dari Nginang Hingga Petanan, 7 Kebiasaan Jadul Ini Kini Mulai Ditinggalkan (villagerspost.com)

1. Mengunyah sirih atau nginang

Kalau kamu pernah melewatkan masa kecilmu dengan nenek di pedesaan, tentu kamu tau kebiasaan orang tua yang satu ini. Mengunyah sirih atau yang biasa disebut nginang memang sudah menjadi ‘budaya’ di masyarakat. Biasanya sih nginang ini jadi kebiasaan nenek-nenek sembari beraktivitas.

Alih-alih jorok, nginang justru membawa banyak manfaat. Sirih yang diramu dengan tembakau, kapur, gambir dan buah pinang ini justru bisa membuat gigi dan gusi jadi lebih sehat dan kuat. Sayangnya kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan karena dianggap ‘jorok’. Terlebih lagi sudah ada rokok dan cemilan yang menggantikan kebiasaan nginang ini.

Nginang (500px.org)

2. Banyak anak banyak rejeki

Kata orang jaman dulu sih, semakin banyak anak semakin banyak rejeki yang bisa kamu dapatkan. Nggak salah memang mengingat setiap anak dilahirkan dengan setiap rejeki yang menyertainya. Itulah mengapa ayah ibumu -mungkin- punya saudara kandung hingga belasan orang. Mungkin 5 orang anak termasuk sedikit.

Sayangnya jika kebiasaan ini masih diteruskan hingga sekarang, pemerintah khawatir akan terjadi ledakan penduduk. Oleh karena itu pemerintah akhirnya mencanangkan program keluarga berencana dengan 2 anak cukup. Meskipun begitu, nggak sedikit juga orang tua yang ingin punya anak lebih dari 2.

Banyak anak banyak rejeki (junantoherdiawan.com)

3. Pernikahan (sangat) dini

Mungkin kebiasaan satu ini tumbuh subur sebelum pemerintah akhirnya menetapkan undang-undang tentang pernikahan. Pada jaman nenek moyang, pernikahan dini dianggap hal yang sangat wajar. Bahkan bagi seorang perempuan, usia 20 tahun sudah tergolong level “bahaya” jika belum menikah. Oleh karena itu banyak orang yang menikah ketika usianya belasan tahun.

Namun kebiasaan ini perlahan mulai berubah. Tak hanya karena undang-undang, wanita modern memiliki banyak pertimbangan sebelum memutuskan berumah tangga. Misalnya ingin melanjutkan pendidikan setelah tamat SMA atau ingin mencapai karir idaman terlebih dahulu sebelum menikah.

Pernikahan sangat dini (youtube.com)

4. Gotong royong di hari Minggu

Nggak sepenuhnya hilang dari peradaban, kebiasaan gotong royong ini masih bisa dijumpai di beberapa daerah terutama pada masyarakat pedesaan. Hanya saja, akan sangat sulit menemukannya di kota-kota besar.

Gotong royong tak hanya bermanfaat untuk kebersihan lingkungan saja, lebih dari itu melalui gotong royong silaturahmi antar warga bisa terjalin dengan baik. Kerjasama antar tetangga juga bisa meningkat.

Gotong royong di hari Minggu (AGUTAN MAnTap)

5. Tanggal pasaran sebagai patokan

Kamu pasti tak asing lagi dengan tanggal pasaran seperti Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Tanggalan ini sangat populer di masyarakat, terutama di Jawa. Orang-orang jaman dulu sering sekali menggunakan tanggalan ini sebagai patokan ketika akan menentukan hajat ataupun acara. Karena memang ada tanggal yang dianggap baik dan tanggal yang dianggap kurang baik.

Misalnya saja, malam Jumat Kliwon dianggap malam keramat karena masyarakat percaya hantu-hantu bergentayangan pada Jumat Kliwon. Atau juga pasar tiban yang dilaksanakan setiap Pahing karena dianggap membawa berkah.

Tanggal pasaran sebagai patokan (googleusercontent.com)

6. Perjodohan

Coba kamu tanya sesepuh di keluargamu, adakah diantara mereka yang dijodohkan? Karena memang perjodohan menjadi hal yang sangat lumrah jaman dulu. Apalagi bagi anak perempuan yang tak biarkan memilih pasangannya sendiri. Anak perempuan harus selalu “manut” dan menerima apapun yang diberikan orang tua, termasuk jodoh.

Sangat berbeda sekali dengan jaman sekarang dimana orang tua membebaskan anak-anaknya untuk memilih sendiri siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Bahkan jika masih ada orang tua yang menjodohkan di jaman sekarang akan disamakan dengan Siti Nurbaya!

Perjodohan (photoblok gallery – blogger)

7. Petanan

Kamu pasti sudah tak asing lagi dengan kebiasaan unik nan jadul ini. Biasanya sih dilakukan oleh kaum wanita ketika senggang. Mencari kutu ataupun uban dirambut yang disebut petanan. Meskipun nggak menutup kemungkinan kaum laki-laki juga melakukannya sih.

Tapi di era modern seperti sekarang, salon dan perawatan kecantikan sudah menjamur dimana-mana. Yang artinya semakin mengikis kegiatan satu ini. Atau mungkin bisa karena gengsi dan tak punya waktu luang untuk melakukannya? Apapun itu, petanan sudah mulai jarang dilakukan.

Petanan (mimiaffandi.com)

Nah itulah beberapa kebiasaan jaman dulu yang sekarang mulai ditinggalkan. Selain karena pengaruh globalisasi, perubahan pola pikir juga menjadi salah satu faktor penting. Apakah kebiasaan di atas masih ada di daerahmu?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Erinda

“You can if you think you can”

Tidak Perlu Sedih, Inilah 5 Hal yang Perlu Kamu Lakukan Saat Disalip Adikmu Menikah

Kamu Sudah Menikahi Orang yang Tepat Jika Memang 5 Tanda Ini Kamu Rasakan