Belajar dari Kasus Gisel-Gading, Kebahagiaan yang Ada di Media Sosial Bukan Kebahagiaan Nyata?

Keromantisan di media sosial tidak menjamin keadaan sebenarnya~

Baru-baru ini jagat dunia pemberitaan dihebohkan dengan kabar mengejutkan yang datang.dari pasangan artis muda, Gisel Anastasya dan Gading Marteen.

Pasangan yang menikah pada tahun 2013 lalu ini, dikabarkan sedang dirundung kabar tidak sedap pasca pelayangan gugatan cerai yang dilakukan oleh Gisel kepada Gading.

Gisel gugat cerai Gading Marten (tribunnews.com)

Kabar ini sontak mengejutkan berbagai pihak. Pasalnya, pasangan yang telah dikaruniai satu putri cantik ini dikenal sebagai pasangan yang harmonis. Baik Gisel maupun Gading dikenal sebagai sosok yang tidak segan membagikan keromantisan dan keharmonisan rumah tangga mereka di media sosial.

Bahkan, netizen yang kerap mengikuti postingan keluarga kecil ini merasa tidak percaya jika Gisel dan Gading tengah dilanda masalah rumah tangga. Mengingat, postingan mereka selalu mencerminkan kebahagiaan dan keharmonisan.

Benarkah kebahagiaan di media sosial merupakan kebahagiaan fatamorgana?

Kondisi rumah tangga Gisel dan Gading yang berbanding terbalik dengan postingan mereka di media sosial, seakan menambah keyakinan kita jika kebahagiaan yang dibagikan di media sosial merupakan kebahagiaan fatamorgana,  yang merupakan bukan kebahagiaan sebenarnya.

Keromantisan Gisel Gading di Media Sosial (kapanlagi.com)

Kadang, apa yang kita lihat di media sosial bukanlah cerminan nyata kondisi sebenarnya. Bisa jadi, mereka yang terlihat hidup mewah di media sosial, kenyataannya biasa-biasa saja.

Mereka yang terlihat hidup bahagia di media sosial, namun fakta kehidupannya penuh duka. Sehingga ia menocba menghibur diri dengan tampil bahagia di dunia maya.

Keromantisan di media sosial tidak mencerminkan keadaan sebenarnya

Banyak pakar yang tertarik dengan fenomena ini. Dimana orang akan menunjukkan kebahagiaan, kemewahan, kecantikan, dan kebaikan, yang justru hal itu dilakukan semata-mata hanya untuk menutupi kondisi sebenarnya di dunia nyata.

Keromantisan Gisel dan Gading sebelum berita gugatan cerai mencuat

Ada berbagai faktor yang menyebabkan orang sering menjadi orang lain di media sosial. Faktor-faktor tersebut diantaranya karena socal climber, narsisme, dan gejala psikis lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan pujian dan pengakuan.

Kebahagiaan hakiki tidak perlu dipublikasi

Jika kita sudah menyadari jika kebahagiaan yang ada di media sosial merupakan kebahagiaan semu, justru kebahagiaan hakiki ialah yang tidak perlu dipublikasi. Sebab, kebahagiaan merupakan rasa yang ada dalam diri ini tanpa bergantung pada pujian, sanjungan, like dan komentar orang lain.

 

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Salah Seorang yang Meyakini Lucinta Luna Itu Perempuan Tulen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *