Kalau Cuma Ngajak Pacaran dan Gandengan Kemana-mana, Terus Kapan Kamu Mau Ngajak Aku ke KUA?

Apa kamu emang pengen kita terus-terusan seperti ini?

992
SHARES

Sayang, aku ini sama wanitanya dengan wanita lain. Seorang wanita yang tidak hanya butuh hubungan, rindu, dan sayang, namun juga kepastian. Bahkan sebenarnya, aku ingin sekali mengingatkanmu tentang hal ini setiap kali kita bertemu.

Hubungan kita ini tidak akan berhenti hanya sampai bergandengan tangan saja, kan? – pexels.com

Bahwa cukup sadarkah kamu, kita ini sudah terlalu lama menjalin hubungan dan bergandengan tangan? Namun kapan kamu ingin mengajakku untuk sama-sama berjuang mencari restu orang tua? Tanpa aku perjelas lagi pun, kamu paham kan apa maksudku?

Meskipun tidak membencimu, sebenarnya aku sudah terlalu lelah dengan semua kesenangan yang kamu tawarkan padaku.

1. “Aku kangen, ketemuan yuk!”

Sudah berapa kali kamu berkata seperti itu padaku? Aku yakin, kamu pun tidak mampu menghitungnya. Kamu selalu saja seperti itu, hingga tanpa sadar kamu melupakan perasaanku yang sejak lama menunggu kepastian darimu. Kita ini, sudah terlalu hafal dengan keromantisan, kan?

Kangen, kangen, dan kangen. Sebenarnya aku sudah terlalu bosan mendengar kamu berkata seperti itu. – pexels.com

2. “Say, makan yuk!”

Kamu, mau sampai kapan mengajakku makan dan bersenang-senang setiap kali gajian? Apa kamu tidak bisa lebih dewasa sedikit, dengan memberiku kabar kalau kamu sedang menyisihkan sebagian hasil kerja kerasmu untuk biaya pernikahan kita?

Apa hubungan kita hanya untuk makan dan bersenang-senang? – pexels.com

3. “Aku tunggu di depan, kita keluar yuk!”

Mau sampai kapan kamu bersikap seperti anak jalanan seperti itu? Belajarlah mengetuk pintu rumahku dengan sopan, masuk dan duduk di ruang tamu dengan sopan, untuk kemudian basa basi dengan orang tuaku dengan cara yang sopan. Kamu cukup pintar untuk bersikap sopan, kan?

Kalau kamu memang serius denganku, silahkan masuk dan temui orang tuaku. Jangan hanya menunggu di luar seperti itu. – pexels.com

4. “Ngumpul sama temen-temen, yuk!”

Setiap kali kamu berkata seperti itu, rasanya aku ingin sekali berteriak tepat di rongga telingamu sambil berkata, “Bisa nggak sekali aja kamu ngajak aku¬†ngumpul bareng keluargamu atau keluargaku?!” Aku.. benar-benar lelah dengan semua kebiasaanmu itu.

Keluargamu itu orang tuamu, kan? Dan bukan teman-temanmu itu? – pexels.com

Aku berkata seperti ini bukan karena aku sudah bosan dan membencimu. Aku berani seperti ini, karena aku pikir inilah satu-satunya cara agar kamu cukup peka dengan semua perasaanku. Bahwa dari hubungan kita, yang aku inginkan bukanlah sekadar cinta, rindu, dan bersenang-senang, namun juga kepastian.

Semoga kamu lekas paham.

992
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."