Kondangan Mulu, Terus Mau Kapan Kamu Dikondanginnya?

Terus terang, saya merasa pertanyaan ini benar-benar bangs*t!

1.6k
SHARES

Dengan modifikasi kalimat yang sedikit berbeda, judul di atas pasti sudah tidak asing lagi di telinga. Apalagi, kalau kamu adalah satu dari sekian banyak manusia lajang di belahan bumi Indonesia. Saya sendiri sebenarnya gagal paham mengapa pertanyaan itu bisa begitu populer dan sering dijadikan ‘bumbu pemanis’ di beberapa obrolan. Namun yang jelas, saya malas mendengarnya.


‘Kondangan mulu, terus mau kapan kamu dikondanginnya?’ seakan sudah menjadi bumbu yang wajib ada di setiap obrolan berbau pernikahan.| ahtsana.files.wordpress.com

Jangan khawatir, tulisan ini tidak akan berbau curhat bernada sensitif. Karena pada kesempatan yang berbahagia ini, saya hanya ingin memberi sedikit pandangan ringan soal pertanyaan ‘kondangan mulu, terus mau kapan kamu dikondanginnya?’ ini. Sebuah pertanyaan yang sebagian orang justru mengkategorikannya sebagai komentar lucu di bawah unggahan foto berbau pernikahan.

Alasan lelucon dan rasa tersakiti

Sebagai manusia rata-rata, awalnya saya kurang peduli dengan munculnya pertanyaan itu dalam obrolan dan diskusi umum di media sosial. Hingga setelah sadar seperti ada deja vu dalam pikiran saya, saya memproklamasikan diri untuk jengah mendengar pertanyaan yang tidak pantas disebut pertanyaan itu. Saya jengah pada pertanyaan, bukan pada orang yang melafalkan atau menuliskan.

Apa kamu juga merasa deja vu dan jengah mendengar pertanyaan yang tidak pantas ditanyakan ini? | thebridedept.com

Dan bukan berarti saya membenci mereka yang menganggapnya sebagai lelucon, hanya saja, apakah lelucon itu akan tetap menjadi lelucon kalau pada akhirnya ada yang merasa tersakiti? Masihkah akan menjadi gurauan ringan kalau kemudian muncul senyum-senyum kecut dan rasa malas menaggapi?

Keputusan menikah adalah privasi manusia

Terus terang, saya adalah manusia yang menganggap pernikahan dan segala keputusan untuk segera melangsungkannya atau tidak, adalah privasi setiap manusia. Karena layaknya selera, pernikahan pun tak pernah bisa dipaksakan, sebenarnya. Jadi kalau sampai saat ini masih muncul pertanyaan kejam yang menghakimi ideologi pribadi seperti itu, lalu ke mana perginya penghargaan akan privasi?

Saya beranggapan, bahwa belum tentu setiap orang senang ditanya hal-hal pribadi semacam itu. Maka, daripada sibuk menata kalimat untuk bertanya, saya lebih memilih untuk mendoakan agar bahagia dan keselamatan selalu menyertai mereka yang sudah, akan, belum, maupun yang tidak memutuskan menikah. Karena bagi saya, tidak ada secuil pun doa yang terlantun sia-sia.

Pada dasarnya, keputusan menikah merupakan privasi setiap manusia. | thebridedept.com

Ini bukan soal ikhlas atau tidak, karena itu sudah masuk dalam lingkup kebijakan Tuhan, bukan lagi wewenang saya. Saya, hanya ingin menjunjung tinggi dan memberi penghargaan pada privasi-privasi yang sekarang sudah banyak dilupakan oleh banyak orang. Yang jelas, doa yang kebanyakan saya ucapkan di dalam hati itu bukan berlandaskan pada alasan bercanda atau iseng semata.

Soal yang saya doakan akan menikah kapan, dengan siapa, dan bagaimana rencana prosesinya, itu bukan urusan saya. Lain cerita kalau saya memang jelas-jelas dimintai pendapat.

Karena berdasarkan kebiasaan, mereka yang sering melontarkan pertanyaan ‘kondangan mulu, terus mau kapan kamu dikondanginnya?’ pun tak bisa apa-apa. Memangnya mereka akan serta-merta mengurusi kebutuhan pernikahan? Tidak juga, kan? Mereka hanya datang, mengucapkan selamat, berfoto untuk di-upload di media sosial, mengacak-acak prasmanan, kemudian pamit sambil berkelakar, “kapan punya anak?”

Bangs*t, kan?

1.6k
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."