‘Membunuh 99,9 % Bakteri’ dan 2 Janji Iklan Lain yang Ternyata Bohongan

Apa kamu termasuk orang yang membeli produk karena termakan rayuan gombal ini?

Iklan, apapun bentuknya, merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan suatu produk, sekaligus menaikkan omzet penjualan. Karena itu, iklan harus dikemas sedemikian rupa agar menarik perhatian. Tapi, bagaimana kalau ternyata iklan itu cuma bohongan?

Tak disangka, saat ini banyak produsen yang memasukkan unsur-unsur kebohongan ke dalam iklan mereka. | youtube.com

Di Indonesia khususnya, ada beberapa iklan dari berbagai produk yang menggunakan trik yang sama, yang ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, alias bohong besar. Trik yang digunakan ada tiga macam, dan semuanya benar-benar mampu memperdaya masyarakat Indonesia.

1. Membunuh 99,9 % bakteri

Istilah ‘mampu membunuh 99,9 % bakteri’ sering kita jumpai dalam berbagai macam iklan produk sabun mandi atau pun sabun cuci. Meskipun benar suatu produk sabun mungkin mampu membunuh 99,9 % bakteri ketika diuji di laboratorium, hasilnya turun menjadi 46% saja di kehidupan sehari-hari.

Faktanya, di kehidupan sehari-hari hanya 46% bakteri yang mampu dibunuh oleh sebagian besar produk sabun dan sejenisnya. | dettol.co.id

Mengapa bisa begitu? Karena 99,9% bakteri yang terbunuh di labolatorium itu bukan sampel yang sama persis dengan bakteri yang hidup di sekitar kita. Contohnya saja, sabun cuci tangan mana pun tidak akan efektif untuk membunuh patogen berbahaya penyebab penyakit, seperti bakteri E. coli.

2. Direkomendasikan oleh 9 dari 10 ahli

Sebagian besar dari kita akan mudah terkecoh dengan klaim bahwa suatu produk  ‘direkomendasikan oleh 9 dari 10 ahli’ atau 90 %. Sayangnya, para ‘ahli’ yang dimaksud itu sering kali adalah orang-orang yang juga bekerja untuk mengembangkan dan menjual produk yang diiklankan. Miris, kan?

9 dari 10 orang yang merekomendasikan biasanya adalah ‘orang dalam’ yang ikut mengembangkan suatu produk. | bodrex.com

Karena pada dasarnya, sebuah perusahaan sudah menemukan 9 orang yang mereka sebut sebagai ahli itu untuk merekomendasikan produk mereka, kemudian mencari 1 orang lagi yang pasti akan tidak merekomendasikan, sehingga perusahaan tidak terlihat seperti sedang membohongi masyarakat.

Dokter gigi, misalnya, banyak dari mereka yang sering membantu mengembangkan produk pasta gigi. Dan mereka, akan mendapatkan penghasilan tambahan dari kerja sampingan itu.

3. Terbukti secara klinis

Produk yang ‘terbukti secara klinis’ jelas akan menarik perhatian calon konsumen. Sehingga, klaim yang terdengar wow itu bahkan sering disertakan pada kemasan produk. Tapi faktanya, sebagian besar bukti ‘klinis’ itu hanya berdasarkan pada penelitian-penelitian palsu.

Banyak produsen yang membuat penelitian-penelitian palsu hanya untuk mendapatkan bukti klinis untuk produk mereka. | ramdhaniarifin23.blogspot.com

Contohnya, produk yoghurt Activonia Dannon, yang diyakini ‘terbukti secara ilmiah’ sehat untuk saluran pencernaan. Dannon harus membayar denda $ 45 juta dalam class action law suit (gugatan perwakilan kelompok), setelah studi klinis yang mendukung klaim mereka justru ditolak oleh banyak penelitian lain.

Informasi ini bukan bermaksud untuk menjatuhkan nama baik beberapa pihak. Informasi ini, bertujuan agar kita, saya dan kamu, bisa lebih cerdas dalam memilih produk yang banyak bertebaran di pasaran. Jangan sampai, kita salah memilih produk tertentu hanya karena telah termakan rayuan iklan yang tidak bermutu.

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Bikin Akun Instagram, Postingan Pertama Orang Terkaya di Dunia Ini Bikin Banyak Orang Malu

Nggak Cuma Soal Uang, Ini Alasan Ada Wanita Cantik dan Cerdas yang Lebih Suka Jadi Bintang Porno