Sekali Lagi, Jangan Pernah Menilai Seseorang dari Apa yang Orang Lain Katakan

Karena sebaik apapun kita, akan selalu ada orang yang membenci kita

Kalau boleh menebak, saya yakin seyakin-yakinnya, kamu pasti pernah mendengar gosip-gosip murahan tentang dirimu. Kabar-kabar yang tidak benar tentang dirimu, kabar-kabar yang membuat kamu merasa sedih, jengkel, bahkan marah, tapi yang bisa kamu lakukan hanyalah tetap sabar.

Gosip-gosip murahan sering membuat kita sedih, jengkel, bahkan marah. | blog-yoshiewafa.blogspot.com

Antagonis dan protagonis

Meskipun hidup ini memang sudah sepaket dengan kebohongan-kebohongan seperti itu, tapi kita masih saja terbiasa bertanya mengapa harus ada hal seperti itu, mengapa harus menimpa kita, dan siapa yang menyebarkannya.

Karena memang, akan ada banyak hal yang terjadi ketika penilaian yang tidak benar tentang kita sudah muncul ke permukaan.

Akan ada banyak hal yang terjadi ketika penilaian yang tidak benar sudah menimpa kita.| huffingtonpost.com

Karena kabar yang tidak benar, tidak jarang sikap orang-orang di sekitar kita menjadi sedikit berubah, atau bahkan berubah total. Dan saya rasa, hal itu bermula dari segelintir orang yang tidak senang dengan kita, yang kemudian berusaha untuk menjatuhkan kita di hadapan orang lain.

Lantas, apa penyebabnya? Entahlah. Tapi yang saya tahu, mau sebaik apapun kita, akan tetap ada orang-orang yang tidak senang dengan kita. Hidup ini memang seperti sinetron murahan Indonesia yang tidak layak tayang, di mana sosok antagonis dan protagonis sudah pasti ada.

Salah kaprah kepribadian dan sikap

Pasti kamu sudah sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa, jangan menilai sebuah buku dari sampulnya saja. Tapi yang jadi pertanyaan adalah, bisakah kita memahami isi buku hanya dengan membacanya sekilas saja? Tentu saja tidak, apalagi kalau yang kita baca adalah buku-buku agama.

Apakah kita bisa memahami seseorang hanya dengan mengenalinya sekilas saja? | linkedin.com

Meskipun kita sudah lama mengenal seseorang, belum tentu kita bisa mengenal orang itu dengan benar. Saat kita mengenal seseorang, salah satu aspek terpenting untuk menilainya adalah kepribadiannya. Sayangnya, kita masih saja sering terkecoh dengan sikap yang dia tunjukkan.

Kepribadian dan sikap adalah dua hal yang sangat berbeda. Kepribadian adalah kamu. Sedangkan sikap, tergantung sedang dengan siapa kamu.

Kita bisa menilai seseorang di saat dia susah atau terkena masalah. Kita pun masih bisa menilai seseorang di saat dia berada di puncak kebahagiaan. Yang jelas, penilaian kita akan menjadi salah kaprah andai kita hanya mengacu pada sikapnya, atau yang lebih parah, dari statement-statement orang lain yang dimulai dengan ‘katanya’.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *