Jalan Tengah Nan Terjal di Antara Ojek Online Vs Angkot yang Terlanjur Ngotot

Ini.. adalah tentang kemauan dan keengganan berinovasi

Konvensional versus inovasi bukanlah hal yang baru, sebenarnya.

Baca juga : 5 Hal yang Hanya Bisa Dirasakan Saat Kamu Naik Motor Bersama Kekasih

Beberapa tahun yang lalu, kita sempat menjadi saksi bagaimana para penyedia wartel gulung tikar berjamaah gara-gara kemunculan handphone. Atau baru-baru ini, omset harian toko-toko ritel semakin tergerus akibat maraknya toko online. Ojek online versus angkot juga sama, namun hadir dengan drama yang berbeda.

Ojek online versus angkot adalah konflik konvensional-inovasi yang memang sudah lama ada, namun hadir dengan drama berbeda (suarakarya.id).

Berbeda dengan pemilik wartel dan toko ritel yang secara naluri adalah pengusaha kecil dan mandiri, pemilik ojek online dan angkot merupakan gabungan dari pengusaha besar dan sopir-sopir newbie serta profesional yang sedemikian banyaknya. Sehingga ketika terjadi konflik di antara mereka, berarti kita membicarakan massa versus massa.

Kabar buruknya, perang lahan dan kepentingan itu sudah resmi terjadi. Di kota mana pun yang sudah dimasuki jasa transportasi online, di kota itu juga kita bisa mendengar banyak berita miris tentang bentrokan sesama sopir yang mempunyai lahan dan kepentingan yang sama, namun dengan sistem kerja yang berbeda.

Tidak perlu mendramatisir bagaimana saling sikut itu terjadi, karena kita memang tidak sedang membicarakan drama Korea. Kita sedang membicarakan persaingan bisnis yang memang latah di mana-mana. Kita membicarakan hak berekspresi yang memang semua orang punya. Kita, sedang membicarakan dua sistem berseberangan yang pasti ada jalan tengahnya.

Inovasi versus keengganan berinovasi

Sedikit mengulang tentang wartel dan toko ritel. Pada masanya, bisnis wartel merupakan opsi yang begitu menggiurkan. Namun ketika Nokia 3310 datang ke Indonesia bersama ratusan spesies yang sama, ribuan pemilik bilik-bilik wartel di negeri ini tidak lantas bergabung dan berorasi.

Para pemilik wartel nyatanya tidak panik ketika teknologi handphone menginvasi Indonesia (tribunnews.com).

Justru sebaliknya, mereka seperti diberi semacam lahan baru yang sangat berpotensi untuk dipotensikan. Karena itu, tidak perlu menunggu lama bagi kita untuk bisa leluasa memilih dan membeli handphone di mana pun di antara ribuan counter yang menjamur di mana-mana.

Toko ritel pun sama. Kita pikir, toko online adalah malaikat pencabut nyawa bagi pemilik toko-toko konvensional itu. Namun mereka justru berpikir sebaliknya. Bagi mereka, toko online merupakan lahan gratis untuk memperbesar usahanya.

Begitu pun dengan toko ritel, pemiliknya mampu bersinergi dengan baik dengan toko online yang menjamur di Indonesia (varia.id).

Mereka mendaftar, membuat akun, dan bekerjasama dengan para gembong toko online untuk kemudian memasarkan produk-produk yang tersedia di toko sederhananya secara online!

Ini adalah fenomena. Dua kasus di atas sama-sama melibatkan cara lama dan inovasi. Pada kenyataannya, keduanya tidak menimbulkan keributan yang mengkhawatirkan. Namun tentu saja, ini semua tentang kepintaran seseorang melihat dan memanfaatkan peluang.

Dalam kasus ojek online, taksi online, dan segala macam jasa transportasi online melawan ojek, taksi, dan angkutan konvensional, harusnya juga bisa diredam dengan cara yang nyaris sama. Masalahnya adalah, kemauan berinovasi dan keengganan melakukan hal yang sama.

Jelas, jasa transportasi online adalah wujud nyata dari inovasi berteknologi. Jasa transportasi online adalah jawaban pasti dari keresahan masyarakat akan ribetnya jasa transportasi konvensional yang kurang fleksibel di sana-sini. Jasa transportasi online adalah sebuah revolusi.

Mau mengelak seperti apapun, jasa transportasi online adalah revolusi pasti (jawapos.com).

Lalu bagaimana dengan sopir-sopir yang masih mencari penumpang dengan cara merayu dan menunggu itu? Terlepas dari ketidakefektifan yang mereka lakukan, itu bukan salah mereka. Mereka hanya mengikuti sistem klasik dari beberapa orang klasik yang yakin bahwa keklasikannya tidak akan pernah terusik.

Di sisi lain, ada semacam keengganan berinovasi dari mereka para pelaku jasa transportasi konvensional (beritadaerah.co.id).

Pelaku jasa transportasi konvensional tidak berjalan mandiri. Mereka berorganisasi, atau setidaknya berkomunitas. Di setiap circle itu, pasti ada satu atau beberapa orang yang berkuasa, bertanggung jawab, dan mempunyai kehendak.

Segelintir orang itulah kuncinya. Kalau mereka mau dan mampu melihat dan memanfaatkan peluang, kalau mereka bersedia melepas ego keklasikannya untuk kemudian turut berinovasi, semua konflik yang penuh drama itu tidak akan pernah terjadi.

Keegoan mempertahankan ego

Kabar buruknya, semua itu belum terjadi. Orang-orang paling berpengaruh di jasa transportasi konvensional itu masih keukeuh mempertahankan cara lama. Bahkan jauh sebelum ada transportasi online di Indonesia, mereka pasti paham kalau invansi itu pasti akan terjadi. Namun sayangnya, mereka tidak berinovasi atau semacamnya.

Sampai detik ini, yang mereka dan massa-nya lakukan tidak pernah jauh dari mempertahankan kehendak, memperdebatkan legalitas, mempersoalkan plat kuning dan hitam, dan bla bla bla. Akibatnya bisa ditebak, pelaku jasa transportasi online pun melakukan bla bla bla yang sama.

Dan akibanya bisa ditebak lagi, adalah keresahan memuncak di antara mereka sendiri, masyarakat, dan penumpang yang tercecer di mana-mana.

Kabar baiknya, konflik panjang antara dua sistem jasa transportasi yang saling berseberangan itu pasti ada jalan tengahnya. Jalan keluar yang tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak, namun juga berpotensi membuka potensi bisnis yang lain. Dan tentu saja, jalan keluar yang tetap memprioritaskan para penumpang sebagai raja dan misi utama.

Apapun itu, konflik lahan dan kepentingan antara pelaku jasa transportasi online dan konvensional pasti ada jalan keluarnya (tirto.id / idntimes.com).

Apa jalan keluarnya? Apapun itu, tergantung keikhlasan mereka untuk melepas ego dan duduk bersama. Karena bagaimana pun, jalan dan penumpang adalah lahan dan kepentingan yang sama-sama harus mereka perjuangkan.

Menyatukan jasa transportasi online dan konvensional menjadi sebuah jasa angkut penumpang universal paling fleksibel dan menguntungkan bukanlah perkara gampang. Namun karena itu merupakan jalan hidup yang harus diperjuangkan, maka mau tidak mau.. jalan terjal itu harus menjadi gampang.

Duduk bersama dengan para rival untuk memperjuangkan kepentingan yang sama memang mengerikan. Namun percayalah.. itu juga yang pernah dilakukan Dell, HP, Lenovo, Intel, dan Microsoft untuk mewujudkan “PC Does What” demi mempertahankan pasar PC dunia yang nyaris gulung tikar.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: “Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal.”

Jangan Jadi Orang yang Terlalu Baik, Kalau 3 Hal Ini Kamu Alami Tandanya Kamu Hanya Dimanfaatkan!

4 Pelajaran Hidup yang Hanya Bisa Kamu Dapat Ketika Jadi Anak Kost