Mengapa Kita Memakai Istilah ‘Kampungan’ Untuk Merendahkan Orang Lain?

Dari sekian banyak kata yang bisa digunakan, kenapa kita justru memilih kata kampungan, sih?

Pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa sih mayoritas orang Indonesia memilih untuk memakai kata ‘kampungan’ ketika bermaksud merendahkan orang lain baik sadar maupun tidak sadar? Saat kita melihat orang lain berlaku tanpa etika atau jauh dari kepantasan, kita lantas menyebut orang tersebut kampungan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata kampungan adalah “berkaitan dengan kebiasaan di kampung; terbelakang (belum modern); kolot; tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar;”. Tapi benarkah orang kampung seperti itu? Kampung zaman dulu mungkin iya. Tapi kampung zaman sekarang? Belum tentu.

Kita terbiasa menilai orang dari luarnya saja

Dari definisi kampungan di atas, bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya anggapan orang kampung adalah orang yang jauh dari modernitas dan tidak tahu sopan santun sebenarnya amat tidak bertanggung jawab. Di era yang serba modern seperti saat ini, bahkan orang yang berasal dari kampung pun bisa jadi tak kalah majunya dengan orang-orang kota.

Benarkah orang kampung selalu terbelakang dan norak? (memecomic.id)

Sebaliknya, orang kota sendiri belum tentu serba lebih maju ketimbang orang kampung. Persepsi kuno bahwa orang kampung adalah simbol dari keterbelakangan menunjukkan bahwa kita telah lama terbiasa menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja. Itulah sebabnya penggunaan kata kampungan untuk merendahkan orang lain adalah sesuatu yang buruk dan tidak relevan lagi di masa kini.

Bangga pada kampung

Saat ini mungkin sudah sulit bagi kita untuk menghilangkan kebiasaan memakai kata kampungan untuk mendefinisikan sesuatu atau seseorang yang norak. Meski begitu, bagi #SobatInovasee yang tinggal di kampung tak perlu berkecil hati hanya karena penggunaan kata tersebut. Ini malah bisa jadi momen baik untuk membuktikan bahwa orang kampung adalah orang-orang yang justru berlawanan dengan definisi kampungan yang selama ini dikenal orang.

Lihatlah, bahkan kini di kampung pun orang-orangnya bisa berbahasa Inggris :p (lingkardakwah.com)

Bagaimanapun juga, kita tahu bahwa di kampung masih tumbuh rasa kekerabatan yang jauh lebih baik dari di kota. Para sesepuh kampung pun masih menjunjung tinggi tata krama adat dan menurunkannya pada anak cucu mereka agar tidak kehilangan jati diri. Soal modernitas? Ah, saya yakin kita semua tahu kalau di kampung pun sudah mulai banyak orang-orang yang tak kalah modern dengan orang kota kalau hanya dari segi perkembangan teknologi dan sebangsanya.

Oleh karenanya meskipun sulit, mari kita mencoba secara bertahap menghilangkan kata kampungan yang sebetulnya termasuk pembunuhan karakter itu. Ada banyak kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan orang-orang bertabiat norak ketimbang memakai kata kampungan. Tapi sebelum itu, alangkah baiknya jika kita berkaca terlebih dahulu dan bertanya, “sudahkah saya juga lebih baik dari mereka?”

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *