Dari Seorang Nenek Dipenjara Karena mencuri Pepaya, Inilah 5 Tuntutan Pengadilan Paling Mengiris Hati

Benarkah hukum ibarat pisau yang tajam dibawah dan tumpul diatas?

1.4k
SHARES

Ada yang mengatakan jika hukum di negara kita ini seperti pisau, tajam dibawah namun tumpul di atas. Ada juga yang mengatakan jika hukum merupakan komoditas mereka yang di atas, bisa dijual beli bebas selagi ada uang pelicin urusan tuntas.


Sepertinya kedua pendapat tersebut tidaklah salah jika kita melihat realitas hukum di negara kita. Banyak sekali kasus besar yang melibatkan para elite politik, namun sampai saat ini mereka masih berkeliaran bebas belum tersentuh hukum. Namun bagi masyarakat kecil yang secara pendidikan dan ekonomi kekurangan, hukum terasa sangat menyakitkan bahkan bisa dikatakan sangat kejam.

Seharusnya hukum ditegakkan tanpa pandang bulu (detik.com)

Bagaimana tidak kejam, rakyat kecil yang melakukan tindakan pelanggaran hukum kecil langsung diadili, sedangkan para koruptor yang memakan uang negara sampai triliunan, masih menikmati udara kebebasan. Bahkan dengan bangga mereka mengatakan jika mereka sedang dizalimi. Inilah wajah hukum di negara kita, 5 kasus pengadilan paling menyayat hati ini menjadi noda hitam keadilan di bumi pertiwi.

1. Nenek Asyani dipenjara 1 tahun dan masa percobaan 1 tahun 3 bulan karena mencuri kayu

Awal tahun 2015 lalu kita dihebohkan dengan pemberitaan hukuman atas seorang nenek berusia 63 tahun, atas dakwaan mencuri dua potong kayu jati milik Perhutani. Nenek renta yang kemudian dikenal sebagai nenek Asyani pun tidak bisa membendung air matanya, saat hakim mengetuk palu dengan menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara, dengan masa percobaan selama 1 tahun 3 bulan.

Nenek Asyani menjalani sidang di Pengadilan Negeri Situbondo (Kompas.com)

Padahal menurut keterangan nenek Asyani, ia tidak pernah mencuri kayu jati dari Perhutani. Dua batang kayu yang ia dapatkan merupakan kayu dari kebun suaminya yang sudah meninggal 5 tahun silam.

Nenek Asyani memohon kepada hakim untuk tidak menghukumnya (Kompas.com)

Bahkan karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi nenek Asyani sampai bertekuk lutut dihadapan hakim memohon agar ia tidak dihukum, serta mengajukan sumpah pocong di depan hakim ketua pengadilan Situbondo Jawa timur untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah.

2. Nenek Sumiati dituntut penjara 2 tahun karena mencuri pepaya

Kisah miris juga menimpa seorang nenek berusia 72 tahun, karena merasa kelaparan selama lima hari tidak makan, nenek Sumiati terpaksa memasuki pekarangan orang lain tanpa izin dan mengambil tiga buah pepaya yang bukan miliknya. Namun nahas buat nenek Sumiati, ia harus dituntun ke meja hijau atas perbuatannya itu.

Nenek Sumiati saat menjalani persidangan harus dibantu untuk bangun dari kursinya (youtube.com)

Menurut M. Syarif, sang pemilik kebun, pihaknya membawa nenek Sumiati ke meja hijau agar ia jera. Padahal kalau kita berfikir, harga pepaya yang dicuri nenek Sumiati tidaklah lebih mahal untuk mengurus segala hal di pengadilan. Sebab tiga buah pepaya mungkin tidak lebih dari sepuluh ribu. Atas tindakannya itu nenek sumiati pun dituntut oleh jaksa penuntut umum dengan kurungan dua tahun penjara.

3. Nenek Minah dipenjara 1,5 bulan karena mencuri buah kakao

Bumi pertiwi kembali meneteskan air mata, setelah hukum terlihat garang bagi rakyat kecil dan telihat lembut bagi para pejabat dan konglomerat. Seperti halnya hukum yang menimpa Nenek Minah di Banyumas, Jawa Tengah. Karena terpegok sedang mengambil 3 buah kakao seharga 5000 rupiah, nenek Minah harus meraskan dinginnya lantai tahanan.

Raut muka sedih nenek Minah dipersidangan, ia dituntut hukuman atas dakwaan mencuri kakao (satujam.com)

Nenek minah diseret ke pengadilan oleh pihak pelapor yaitu PT. Rumpun Sari Antan sebagai pemilik perkebunan kakao. Meskipun kakao yang didapatkan nenek Minah sudah dikembalikan, namun proses hukum masih tetap dilanjutkan oleh pihak pelapor.

4. Anak dibawah umur berinisial AAL dituntut 5 tahun penjara karena mencuri sandal jepit milik seorang polisi

AAL yang masih dibawah umur dijear pasal pencurian dan harus diadili di meja hijau (miftah1993.blogspot.co.id)

Lagi, masyarakat ditontonkan drama menyakitkan atas kasus hukum di negara kita. Kali ini menimpa seorang anak laki-laki berusia 15 tahun berinisial AAL. Di usianya yang masih terbilang belia, ia harus duduk di kursi pengadilan karena diduga mencuri sendal jepit milik seorang polisi. Karena tuduhannya tersebut AAL dituntut hukuman kurungan 5 tahun penjara.

Aksi solidaritas untuk AAL dengan mengumpulkan sednal jepit di berbagai daerah (khafidsembarang.blogspot.co.id)

Kejadian ini pun kemudian mendapatkan respon dari masyarakat luas, sehingga banyak aksi solidaritas mengumpulkan sendal jepit di berbagai daerah sebagai simbol simpati terhadap kasus tersebut. Bahkan media Amerika Serikat, Washington Post menyoroti kejadian ini dengan menurunkan berita berjudul¬†“Indonesians have new symbol for injustice: sandals”

5. Suyanto dan Kholil, dijatuhi hukuman 2 bulan 10 hari karena mencuri semangka

Dua orang laki-laki di pengadilan Kediri terlihat mendundukan kepala saat duduk di kursi yang berada di depan meja Hakim. Dengan menggunakan Baju lengan panjang dan peci warna hitam keduanya terlihat tidak percaya jika mereka harus dikurung dalam penjara hanya gara-gara mengambil buah semangka. Tuntutannya pun lumayan lama, 2 bulan 10 hari.

Suyatno dan Kholil Terlihat lesu saat menjalani sidang atas dugaan pencurian semangka (detikasia.com)

Karena kasus ini dinilai sebagai kejadian yang sangat tidak menusiawi, beberapa pihak seperti LSM dan Mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa guna mendukung secara moril kepada Kholil dan Suyatno. Aksi dukungan pun dilanjutkan dengan mendesak diadakannya banding, dan hasilnya setelah banding Suyanto dan Kholil hanya dikurung selama 15 hari.

Itulah 5 kasus di pengadilan yang membuat kita semakin yakin jika hukum itu ibarat pisau yang tajam dibawah dan tumpul diatas. Mungkin sebagian kamu ada yang berpendapat jika sekecil apapun tindak kriminal harus diadili. Benar itu pendapat yang tepat.

Keadilan memang selelu berpihak kepada mereka yang berharta dan bertahta (williamleonardo6.blogspot.co.id)

Namun seharusnya jika yang kecil saja diadili maka kasus yang besar seperti korupsi, kolusi dan nepotisme harus diadili seadil-adilnya sampai keakar-akarnya dengan hukuman yang lebih besar, karena kerugian negara pun sangat besar. Asas hukum Equaltiy Before The Law atau semua warga negara kedudukannya sama di mata hukum, sepertinya hanya menjadi teori yang tidak pernah dipraktekan. Sebab pada prakteknya hukum masih tebang pilih dalam menjalankan fungsinya.

1.4k
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penikmat Dunia, Perindu Surga,