5 Gempa Paling Merusak yang Pernah Membuat Yogyakarta Sangat Berduka

Sepanjang tahun 1800 hingga 2006, terjadi banyak gempa di Yogyakarta, 5 gempa berikut adalah yang paling berdampak

27 Mei 2006 silam boleh dibilang meninggalkan banyak kenangan untuk masyarakat Yogyakarta dan juga Jawa Tengah. Pagi hari dimana seharusnya masyarakat memulai kegiatan mereka dengan semangat, dikejutkan dengan datangnya gempa hebat yang mengguncang wilayah Yogyakarta dan juga Jawa Tengah. Gempa yang dengan kekuatan 5,9 skala richter tersebut meninggalkan banyak kerusakan fisik maupun korban jiwa. Kini setelah 10 tahun berlalu, Yogyakarta sudah kembali seperti semula. Tak ada sisa-sisa gempa 2006 silam. Kenangan akan kengerian gempa 2006 hanya hidup dalam cerita masyarakatnya.

(Via wikipedia.org)
(Via wikipedia.org)

Namun, tidak hanya gempa 2006 saja yang pernah memporak porandakan Yogyakarta. Menurut catatan BMKG Yogyakarta, telah terjadi 5 gempa merusak yang terjadi antara tahun 1800-2006. Tentu saja dampaknya tidak main-main.

1. Gempa Besar 1867

Yang pertama ini adalah gempa yang melanda pada tahun 1867 yang pada saat itu, Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Menurut catatan BMKG Yogyakarta sebanyak 372 rumah roboh di Yogyakarta dan Surakarta. Sebanyak 5 korban meninggal dunia karena gempa ini. Gempa besar ini telah merusak bangunan vital seperti Keraton, Tamansari, hingga Tugu Jogja.

Reruntuhan Taman Sari karena gempa tahun 1867, diambil tahun 1890 (Via twicsy.com)
Reruntuhan Taman Sari karena gempa tahun 1867, diambil tahun 1890 (Via twicsy.com)

2. 27 September 1937

70 tahun berlalu setelah gempa tahun 1867, Yogyakarta kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7 skala richter dengan pusat 8,7 LS – 110,8 BT. Gempa ini telah merobohkan 2.200 rumah di Klaten, 326 rumah roboh di Prambanan, dan juga menyebabkan pipa dalam tanah terputus. Di Yogyakarta juga banyak ditemukan rumah rusak, selain itu 1 koran meninggal karena gempa ini.

(Via kevinamlewis.com)
(Via kevinamlewis.com)

3. 8 Skala Richter pada 23 Juli 1943

Setelah 6 tahun jeda, gempa kembali mengguncang Yogyakarta dengan kekuatan 8 skala richter pada pukul 21.53 WIB. Pusat gempa ini berada di 8,6 LS – 109,9 BT. Kerusakan yang terjadi berada di Pantai Selatan Jawa Tengah. Banyak korban jiwa pada gempa kali ini, dampak rumah roboh juga lebih banyak dari tahun 1937. Sebanyak 213 orang meninggal dunia dan 2096 orang mengalami luka berat. Untuk dampak fisik, BMKG mencatat 28000 rumah rusak berat.

(Via ekay-m3.blogspot.com)
(Via ekay-m3.blogspot.com)

4. Tahun 1981

Dibanding gempa-gempa sebelumnya, gempa tahun 1981 terbilang lebih ringan dengan kekuatan 5,6 skala richter. Pusat gempa berada di 8,8 LS – 110,4 BT. Tidak banyak dampak yang dirasakan, tidak seperti tahun 1943, gempa 1981 ini walaupun getarannya cukup terasa, dari data yang didapat dampaknya hanya retak di beberapa rumah, termasuk Hotel Ambarukmo.

(Via sorot.news.viva.co.id)
(Via sorot.news.viva.co.id)

5. 27 Mei 2006

Dari beberapa gempa yang terjadi antara tahun 1800-2006, gempa 27 Mei 2006 merupakan gempa dengan dampak terparah. Gempa dengan kekuatan 5,9 skala richter atau menurut United States Geological Survey kekuatan gempa sebesar 6,3 skala richter. Pusat gempa berada di 8,03 LS – 110,3 BT berada di kedalaman 11,6 km di sebelah selatan Yogyakarta. Getaran gempa terasa hingga Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, dampak gempa ini sangatlah parah. Gempa yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada pukul 05.54 WIB ini mengakibatkan 6.652 orang meninggal dunia, 5.338 orang di Yogyakarta dan 1.314 di Jawa Tengah. Kondisi terparah menimpa Yogyakarta, ribuan bangunan hancur, bahkan di Kabupaten Bantul kerusakan mencapai 70% dengan total 71.763 bangunan rusak total.

(Via 27mei.blogspot.com)
(Via 27mei.blogspot.com)

Letak Pulau Jawa yang berada di atas jalur gempa Circum Pasific dan juga Trans Asiatic menyebabkan Yogyakarta sering diguncang gempa bumi, baik yang merusak maupun yang tidak. Tidak hanya 5 gempa saja yang terjadi, catatan sejarah menunjukkan Yogyakarta pernah diguncang setidaknya 12 gempa. Namun, dampak yang cukup dirasakan terjadi pada tahun-tahun di atas.

Tanpa kita sadari, sebenarnya Yogyakarta diguncang gempa setiap harinya, namun tidak bisa kita rasakan karena kekuatannya yang kecil ataupun letaknya yang cukup jauh. Tidak hanya Yogyakarta, Ring of fire yang mengelilingi Indonesia setidaknya juga membuat kita sadar akan ancaman gempa bumi yang akan terus berulang dengan waktu yang tidak bisa ditentukan. Sosialisasi dan juga pelatihan mitigasi bencana menjadi satu-satunya jalan agar korban tidak terus berjatuhan ketika bencana terjadi.

Baca juga: Penting! Lakukan Hal-hal ini Agar Selamat dari Gempa Bumi

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *