Ini Penyebab Sinetron Indonesia Nggak Bisa Sekeren Serial Drama Korea

Ironisnya, sinetron tetap laku jadi tontonan meski berkualitas rendah

378
SHARES

Sejak kemunculan stasiun televisi swasta di Indonesia bertahun-tahun lalu, ada banyak program acara yang ditawarkan untuk terus menarik minat penonton. Semakin tinggi peminatnya, maka semakin tinggi pula rating sebuah acara. Dengan rating yang tinggi, pengiklan akan lebih tertarik untuk memasang iklannya di program tersebut, walaupun memang rating tinggi tak selalu berbanding lurus dengan banyaknya jumlah pengiklan karena ada faktor-faktor lain.

Mengutip data yang dirilis oleh akun Rating Program Televisi Indonesia per tanggal 30 Mei 2017, peraih rating tertinggi adalah sinetron Dunia Terbalik. Uniknya, ia tak sendiri, karena mayoritas acara televisi lainnya yang memperoleh rating tinggi juga bergenre sama: sinetron. Walaupun terbukti punya rating tinggi, namun kenapa sinetron Indonesia masih terus mendapat kritikan dan dianggap kalah jauh jika dibandingkan dengan serial drama Korea, misalkan? Ini beberapa penyebabnya!

Stripping atau kejar tayang

Pada mulanya, sinetron di Indonesia tayang dengan sistem mingguan. Artinya, dalam seminggu penonton hanya akan disuguhi satu episode saja, dan mesti bersabar menunggu minggu depan untuk bisa melihat kelanjutannya. Inilah sebabnya sinetron macam Si Doel Anak Sekolahan bisa sedemikian legendarisnya karena punya latar cerita yang kuat dari hasil pembuatan naskah yang tidak sistem kebut.

Sinetron Dunia Terbalik masih memuncaki rating televisi Indonesia hingga akhir Mei lalu – breakingnews.co.id

Tren ini berubah gara-gara nama satu orang: Raam Punjabi. Raam yang dikenal sebagai seorang produser film dan sinetron dari rumah produksi MVP Indonesia (dulu dikenal sebagai PT Tripar Multivision Plus) ini memperkenalkan sinetron kejar tayang bertema islam pada bulan Ramadan 1998. Tak seperti sinetron-sinetron sebelumnya, sinetron besutannya itu tayang setiap hari sepanjang bulan Ramadan. Hal inilah yang kemudian justru dicontoh oleh banyak rumah produksi, dan sayangnya justru menurunkan kualitas produksi karena harus berpacu dengan waktu agar bisa tayang sesuai jadwal.

Naskah yang tidak matang

Dengan adanya sistem stripping, tak heran jika kita akan kerap menemui jalan cerita yang terkesan dipaksakan akibat penulisan naskah yang terburu-buru dikejar deadline.  Belum lagi mutunya yang rendah, akting buruk para pemainnya, serta chemistry dengan penonton yang kurang kerap kali jadi bahan kritik. Namun seolah tak peduli, industri sinetron jalan terus karena dinilai masih menjanjikan.

Pembuatan naskah yang terburu-buru karena deadline membuat dialog di sinetron acapkali bermutu rendah – screenplayscripts.com

Sebenarnya tak mengherankan jika kualitas naskah sinetron terasa cupu dan melantur, karena dalam seminggu seorang penulis naskah harus menulis satu jam tayangan secara terus-menerus dengan deadline satu episode dikerjakan dalam waktu maksimal 48 jam. Biasanya, rumah produksi yang memproduksi sinetron kejar tayang hanya memberikan jatah libur satu hari pada penulis naskahnya. Dengan kondisi yang sedemikian ini, tak heran jika hasilnya kurang maksimal.

Episode panjang dan cerita yang berlarut-larut

Berbeda dengan serial drama Korea yang konsisten menayangkan sebuah drama dengan maksimal mencapai 16 hingga 20 episode, sinetron di Indonesia justru bisa kelewat batas karena aji mumpung. Sebagai contoh, sinetron Tukang Ojek Pengkolan yang tayang di RCTI semula hanya diplot untuk 30 episode. Kenyataannya, rating yang tinggi dan penonton yang setia membuat sinetron ini sudah menginjak angka ratusan episode. Begitu pula dengan sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang mencapai 2.185 episode dan jalan ceritanya melantur kemana-mana setelah tokoh-tokoh awalnya tidak ada.

Andaikan sinetron di Indonesia mau mencontoh Sore, maka bukan tak mungkin kita memiliki serial yang takalah menarik dari drama Korea – youtube.com

Padahal, jika sebuah sinetron bisa dibuat dengan jumlah episode yang masuk akal, bukan tidak mungkin kualitas yang diraih bisa jauh lebih baik. Sebagai contoh, webseries persembahan salah satu produk bebas gula berjudul SORE – Istri dari Masa Depan bisa disuguhkan secara apik dan lebih matang. Kalaupun ingin berpanjang-panjang cerita, boleh saja menerapkan sistem season seperti serial-serial di Amerika Serikat. Hanya saja, jangan sampai nasibnya seperti Cinta Fitri yang menerapkan sistem season namun dengan cara yang tak jauh beda dengan sinetron Indonesia pada umumnya.

378
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~