Jualan Makanan di Siang Hari di Bulan Ramadhan Itu Baik dan Tidak Melanggar Aturan

Maka, jangan main razia dan saling menyalahkan

307
SHARES

Menghormati bulan Ramadhan itu cukup dengan cara memperbanyak ibadah, seperti shalat tarawih, tadarus Al-Quran, mempelajari ilmu-ilmu agama, atau berinfak di masjid. Kamu tidak perlu memaksa orang lain yang tidak berpuasa untuk menghormati kamu yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Kamu tidak perlu memaksa orang yang tidak berpuasa untuk menghormati orang yang berpuasa | tribunnews.com

Namun ada yang aneh dengan cara umat Muslim di Indonesia menghormati bulan suci Ramadhan. Banyak di antara kita yang menuntut orang yang tidak berpuasa untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa.

Ayolah, itu bukan tuntutan menghormati Ramadhan, namun tuntutan menghormati orang yang berpuasa Ramadhan. Saya kira, perlu dibedakan antara menghormati Ramadhan dan menghormati orang yang berpuasa Ramadhan.

Hukum yang masih diperselisihkan

Kesalahpahaman ini bukan perkara yang main-main, karena efeknya bisa sangat merugikan beberapa pihak. Salah satunya, tentu saja, kebiasaan pemerintah atau pihak-pihak tertentu yang merazia para penjual makanan yang dengan sengaja menjajakan dagangannya di siang hari di bulan Ramadhan.

Sepertinya, kebiasaan buruk seperti itu harus segera dihentikan. Mengapa? Karena bukankah berjualan makanan dan minuman di siang hari di bulan Ramadhan itu termasuk hal yang masih diperselisihkan para ulama?

Sangat disayangkan, razia warung seperti ini didasarkan pada hukum yang masih diperselisihkan | bangkalankab.go.id

Sampai saat ini, para ulama masih berbeda pendapat mengenai hukum menjual makanan dan minuman untuk non-Muslim. Alasannya, apakah mereka itu termasuk orang yang terbebani hukum-hukum syariat atau tidak. Tentu menjadi janggal ketika non-Muslim pun dituntut untuk menghormati orang Muslim yang berpuasa. Bukankah perintah kewajiban puasa hanya diberlakukan untuk orang Muslim saja?

Selain itu, mari kita ingat-ingat lagi bahwa ada enam orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Mereka adalah musafir, orang sakit, orang tua renta, orang yang kelaparan dan kehausan yang dapat membahayakan nyawanya, ibu hamil, dan ibu menyusui. Nah, bagaimana kalau seorang penjual mengkhususkan jualannya untuk mereka?

Dan, bagaimana kalau menjual makanan dan minuman adalah satu-satunya usaha seseorang untuk mendapatkan rupiah demi menghidupi keluarganya, atau dia hanya seorang pekerja yang sedang mengais rezeki dari rumah makan milik bosnya?

Tidak perlu ditindak

Oleh karena itu, salah satu kaidah fikih ini mungkin tepat untuk dipertimbangkan terkait hukum berjualan makanan dan minuman di siang Ramadan, yaitu la yunkaru al-mukhtalaf fih wa innama yunkar al-mujma’ ‘alaih atau suatu hukum yang masih diperselisihkan ulama itu tidak perlu ditindak.

Biarkan mereka menikmati rezeki mereka sendiri. Karena apa yang mereka lakukan memang baik dan tidak ada dasar hukum yang bisa menindak | panduanwisata.id

Nah, sekarang jelas kan, bahwa yang perlu ditindak itu pelanggaran hukum yang sudah jelas disepakati para ulama, bukan malah memaksa orang lain yang tidak berpuasa untuk menghormati kamu yang sedang menjalankan ibadah puasa dengan dasar hukum yang masih belum jelas juntrungannya.

307
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."