5 Kesalahan Pemahaman Tentang Hubungan Lebaran dan Baju Baru yang Wajib Kamu Tahu

Menggunakan baju baru banyak dijadikan adu gengsi dan adu pamer saat lebaran

Menjelang hari lebaran tiba, banyak mall-mall besar dan pusat perbelanjaan yang mengadakan diskon besar-besaran, dari mulai bahan sembako sampai pakaian. Lebaran banyak dijadikan sebagai moment yang paling tepat untuk berburu perlengkapan yang bersifat duniawi, padahal lebaran sendiri merupakan moment keagamaan yang tujuan akhirnya ialah persoalan ukhrawi (akhirat)

Baca juga : Misteri Nihilnya Sosok Ayah di Gambar Kaleng Biskuit Khong Guan

Lebaran identik dengan baju baru (sayawakijo.blogspot.co.id)

Salah satu persoalan duniawi yang kerap seolah menjadi kewajiban saat hari lebaran ialah menggunakan baju baru. Padahal, dalam sejarahnya tidak ada anjuran syariat yang mengharuskan mengenakan pakaian baru saat lebaran. Banyak sekali kesalahpahaman masyarakat terkait hubungan baju baru dengan lebaran. Mau tahu apa saja?

1. Membeli baju baru merupakan anjuran agama disaat lebaran

Banyak yang beranggapan membeli baju baru merupakan sebuah anjuran atau kesunahan saat lebaran. Padahal dari hadist yang membahas persoalan ini, anjuran atau sunah saat lebaran ialah berhias dan mengenakan pakaian terbaik yang kamu miliki, dan tidak harus membeli baju baru. Sebab saat Rasulullah dibelikan baju sutera oleh Umar Bin Khatab saat lebaran, beliau justru tidak memakainya dan memakai pakaian lamanya yang paling terbaik.

Disunahkan mengenakan pakaian terbaik dan tidak harus membeli yang baru (jurnalasia.com)

Jadi, yang disunahkan ialah berhias dan mengenakan pakaian terbaik yang kamu miliki, tanpa harus membeli yang baru. Selanjutnya, karena mengenakan pakaian terbaik itu hanya sebuah anjuran maka tidak harus dipaksakan untuk dilaksanakan. Bahkan banyak orang tua yang harus sampai berhutang demi membelikan pakaian baru untuk anak-anaknya, inilah yang kurang tepat. Padahal ada kewajiban yang lebih utama saat lebaran, yaitu membayar zakat fitrah.

2. Baju baru sebagai simbol jiwa yang kembali baru

Selain persoalah anjuran menggunakan baju baru, menganggap menggunakan baju baru sebagai simbol jiwa yang baru saat lebaran menjadi alasan selanjutnya untuk mengharuskan membeli baju baru, padahal ini perlu kita koreksi kembali.

Banyak yang mengartikan Idul Fitri bermakna kembali ftri atau suci, maka disimbolkan dengan baju baru. Padahal makna kembali fitri ini bukan diukur dari persoalan baju baru, yang menjadi tolak ukur jiwa kita kembali suci adalah perbuatan dan ibadah kita setelah bulan puasa, apakah lebih baik atau tidak.

Baju baru bukan simbol jiwa kembali baru/suci (malangnews.com)

Bahkan pepatah arab mengatakan “Laisa id liman labisal jadid, walakinnal ‘id liman imaanuhu
yazid” yang kurang lebih maknanya, id (Idul Fitri) itu bukan mereka yang menggunakan baju baru, Idul Fitri ialah bagi mereka yang keimanannya bertambah (setelah berpuasa selama sebulan). Jadi simbol jiwa yang baru setelah lebaran ialah dilihat dari perilaku kita, bukan pakaian kita.

3. Merayakan kemenangan dengan mengenakan pakaian baru

Masyarakat kita juga banyak yang beranggapan jika mengenakan pakaian baru di hari lebaran sebagai simbol merayakan kemenangan. Padahal, merayakan kemenangan tidak harus dengan membeli pakaian baru. Jika ada rejeki lebih bukankah lebih baik berbagi kemenangan dengan mereka yang kurang mampu.

Diskon menjelang lebaran (poskotanews.com)

Pada dasarnya banyak yang menggunakan alasan-alasan yang berhubungan dengan agama untuk membeli baju baru, padahal mereka yang membeli baju baru kebanyakan mengikuti hawa nafsu konsumersime. Padahal, puasa sendiri untuk melatih hawa nafsu.

4. Kurang lengkap lebaran tanpa baju baru

Katanya lebaran tanpa baju baru bagai ketupat tanpa santan, hambar rasanya. Akibat menggunakan baju baru sudah menjadi kebiasaan yang berulang kali dari kecil sampai dewasa, maka rasanya kurang afdhol saat lebaran tanpa menggunakan baju baru. Padahal dalam syariat agama tidak ada hubungannya lebaran dengan baju baru, yang ada anjuran berhias dan berpakaian terbaik yang kamu miliki.

Baju baru bukan perlengkapan lebaran yah (youtube.com)

Seharusnya, yang membuat kurang lengkap saat lebaran ialah saat kamu tidak bisa berkumpul dengan sanak famili karena harus bertugas atau bekerja di perantauan. Atau karena kamu banyak berhutang puasa di Ramadhan ini dan tidak bisa menghatamkan Al Qur’an, itulah yang membuat lebaran kamu merasa ada yang kurang. Bukan persoalan pakaian.

5. Mengenakan baju baru sebuah keharusan saat lebaran

Masih banyak yang beranggapan jika menggunakan baju baru ialah sebuah keharusan untuk merayakan lebaran, padahal sekali lagi baju baru bukan sebuah keharusan. Persoalan keharusan saat lebaran ialah membayar zakat fitrah.

Yang harus disaat lebaran ialah bayar zakat fitrah, bukan beli baju baru (twimg.com)

Anggapan sebuah keharusan mengenakan baju baru, diperparah dengan iklan di Tv yang berkali-kali menayangkan model-model baju baru menjelang lebaran. Jadi, sudah jelas jika persoalan baju baru saat lebaran ialah persoalan bisnis, konsumtif, dan bahkan karakter hedonis, yang semuanya merujuk pada persoalan dunia, bukan persoalan akhirat.

Bahkan lebih jauh, membeli baju baru dijadikan adu gengsi dan adu pamer saat lebaran. Padahal kita mengaku telah kembali suci di hari yang fitri.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Jika Pasanganmu Tak Kunjung Mendapat Pekerjaan, Mending Lanjutkan atau Hentikan?

Begini Kelakuan Nyentrik Orang Indonesia Saat Terjadi Kecelakaan Lalu Lintas, Kamu Pasti Pernah Mengalami Salah Satunya