Benang Merah Antara Instagram dan Bergesernya Makna Jalan-Jalan

Jalan-jalan ya jalan-jalan, bukan ngambil foto di setiap jalan

Seperti halnya televisi, kini traveling (nama keren untuk jalan-jalan) tidak pantas disebut ‘barang mewah’ lagi. Sejak beberapa tahun terakhir, semua orang bisa bebas pergi ke mana saja, dengan beragam cara, meskipun harus tetap tunduk pada norma-norma yang ada. Jika kemudian muncul pertanyaan mengapa, maka merakyatnya internet adalah faktor yang bisa jadi paling utama.

Baca juga : Kalau Kamu Mengira 10 Merek Ini Berasal dari Luar Negeri, Maka Kamu Menganggap Remeh Indonesia!

Internet adalah alasan terkuat mengapa saat ini semua orang bisa bebas jalan-jalan. | womensweb.in

Maraknya traveling ini pun kemudian memunculkan fenomena baru: jalan-jalan semurah kacang rebus dan bermalam di tempat yang bukan lagi hotel-hotel bagus. Semua perilaku jalan-jalan yang berawal dari internet dan kembali lagi ke internet itu, dipastikan ada benang merah yang menjembataninya.

Era Instagram

Sejak media sosial populer di Indonesia pada awal 2000-an, tren penggunaannya kini kian bergeser. Muncul satu untuk mengganti yang lain pun terjadi, hingga sampailah pada era Instagram. Media sosial berbasis sharing foto ini, kalau saya tak salah ingat, mulai diminati sejak 2011 silam.

Kini, Instagram telah banyak dipenuhi dengan feed jalan-jalan seperti ini. | dibaratdaya.com

Dengan Instagram, beberapa orang memanfaatkannya untuk memulai bisnis online, sedangkan sebagian yang lain justru menjadikannya ‘blog’ pribadi. Semakin ke sini, ada lagi yang memolesnya menjadi album perjalanan, dimana sebagian besar feed Instagram dipenuhi oleh foto jalan-jalan.

Bergesernya makna jalan-jalan

Kebiasaan baru mengunggah foto jalan-jalan ini lambat laun memunculkan budaya baru. Lantas, apa benar ada hubungan erat antara Instagram dan makna jalan-jalan yang sekarang telah bergeser dari definisi jalan-jalan jaman dulu (baca: sebelum ada Instagram)?

Untuk menjawabnya, mari kita pahami situasi ini. Anggaplah ada 10 sahabat yang pergi jalan-jalan bareng. Sembilan orang di antara mereka, saling gantian berkata “fotoin aku dong, background-nya harus gini ya. Mau aku upload di Instagram soalnya.” Mereka berkata seperti itu hampir di sebagian besar waktu jalan-jalan, dari berangkat sampai pulang.

Berapa kali kamu melakukan hal seperti ini setiap kali jalan-jalan? | nationalgeographic.com

Sedangkan yang satu orang lagi, hanya beberapa kali saja memegang smartphone. Bukan berarti dia tidak mengabadikan satu dua gambar. Dia tetap melakukannya, namun hanya sebatas untuk kenang-kenangan. Kalau berfoto ria hingga menyita seluruh waktu jalan-jalan, dia tidak mau melakukannya.

Situasi di atas jelas memperlihatkan dua jenis manusia yang berbeda dalam hal memaknai jalan-jalan. Yang satu menganggap jalan-jalan hanya sebagai ‘alat’ untuk eksis di Instagram, sedangkan yang satu masih bertahan dengan makna jalan-jalan sebagai penghilang penat sekaligus menambah pengalaman.

Jalan-jalan untuk Instagram?

Bukannya tidak setuju dengan mereka yang foto-foto terus saat jalan-jalan, namun, bagaimana bisa menikmati lembutnya angin, memahami ritme sebuah kota, serta mengambil pelajaran dari apa-apa yang ada, jika hanya sibuk mengambil foto-foto cantik untuk diunggah di Instagram? Bukan hanya lewat lensa, kita juga harus benar-benar menikmati jalan-jalan menggunakan mata, kan?

Jadi, kapan mau benar-benar menggunakan kedua mata untuk menikmati jalan-jalan kalau semuanya diserahkan begitu saja pada lensa? | youtube.com

Jadi, mari kita sama-sama insteropeksi diri, melibatkan logika hingga kita bisa membidik sederet foto perjalanan menarik yang bisa mengingatkan setiap momennya, sambil tetap tunduk pada makna jalan-jalan sebagai penghilang penat sekaligus menambah pengalaman.

Jangan sampai hanya karena foto, kita lupa berinteraksi. Jangan sampai hanya karena foto, kita lupa sedang jalan-jalan dengan siapa.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Ibu Tiri Selalu Galak? Tidak Juga, 5 Artis Ini Buktinya, Yang Justru Akrab dengan Anak Tirinya.

Lebaran Ditanya “Kapan Nikah”? Jangan Galau, 7 Jawaban Ini Bisa Menyelamatkanmu