Andai Saja Kita Bisa Lepas Sejenak dari Smartphone dan Sejuta Godaannya

Bukankah kita dan smartphone itu sama seperti hubungan yang membutuhkan jeda?

Di jaman sekarang ini, ke mana pun kita pergi, pasti akan selalu menemui orang-orang yang sibuk dengan smartphone mereka sendiri. Ada yang asyik chatting-an, browsing internet, mencari barang di online shop, bermain game, nonton video, mendengarkan musik, atau sekedar ber-media sosial.

Setiap hari, kita hampir pasti tidak bisa lepas dari smartphone. | huffingtonpost.co.uk

Jarang, bahkan sangat jarang saya temui orang yang sedang menunggu atau naik transportasi umum sambil membaca buku. Yang namanya jarang, pasti tetap ada satu-dua orang. Hanya saja, saat ini eksistensi buku memang sudah digantikan oleh ponsel pintar yang jauh lebih powerful dan efisien.

Fenomena ‘sibuk sendiri’ seperti ini sebenarnya tidak hanya saya rasakan ketika berada di ruang publik, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, bahkan saat nongkrong bersama teman-teman, momen lengket dengan smartphone masing-masing terus saja terjadi.

Meningkatkan eksistensi diri

Memang, tidak bisa dipungkiri, saya pun menjadi salah satu di antara mereka, pengguna smartphone yang keterlaluan individualistisnya. Selain karena alasan pekerjaan, ketika saya merasa bosan dengan keseharian saya, saya pun melakukan hal sama dengan mereka: chatting-an dan lain sebagainya.

Maka akhirnya saya berpikir, apa yang akan terjadi ketika semua orang bisa lepas sejenak dari smartphone dan sejuta godaannya? Apakah saya, kamu, kita, akan sebegitu gelisahnya dengan fakta bahwa tidak ada smartphone dalam genggaman meskipun hanya sebentar saja?

Apakah kita benar-benar akan gelisah jika tidak ada smartphone di tangan? | gentlemansgazette.com

Memang benar, smartphone dan segala macam hal yang ada di dalamnya mampu memberi dampak yang luar biasa pada kita semua. Hampir semua hal bisa dengan mudah ditemui dan didapatkan. Smartphone bukan hanya soal informasi, tapi juga sebagai alat untuk meningkatkan eksistensi diri.

Contoh yang gampang saja, media sosial. Di media sosial, orang berlomba-lomba memamerkan banyak hal, hingga kadang tanpa disadari ada makna kabur di dalamnya. Apakah unggahan yang dibagikan memang murni sebagai informasi, atau hanya ingin mendapat pengakuan dari orang lain?

Saya yakin, ingin mendapat pengakuan dari orang lain adalah alasan yang banyak dipakai sebagian besar dari kita. Kita, tidak akan pernah berhenti mengunggah apapun yang ingin kita bagikan. Padahal, belum tentu apa yang kita bagikan itu mempunyai makna penting bagi orang lain. Benar?

Seperti hubungan, kita dan smartphone pun membutuhkan jeda

Karena itu, mari kita merenung sejenak. Apakah yang kita lakukan bersama smartphone setiap hari, setiap jam, dan setiap detik itu memang benar-benar kita butuhkan? Apakah semua yang kita lakukan itu memang penting bagi kita, atau yang lebih penting, apakah dianggap penting bagi orang lain?

Mau kamu anggap seperti apapun, smartphone tetaplah smartphone. Smartphone itu sama seperti manusia yang tetap membutuhkan waktu untuk istirahat. Jadi sesekali, berikanlah waktu bagi gadget kesayanganmu itu untuk istirahat sebentar. Sesekali, sempatkan dirimu untuk tidak memikirkannya.

Sesekali, berilah waktu bagi smartphone untuk istirahat. | pixabay.com

Seperti ketika smartphone-mu tidak henti-hentinya bekerja dan akhirnya kehabisan daya, matikan dulu sampai baterainya penuh. Atau yang paling sederhana, diamkan saja smartphone-mu di meja ketika sudah terasa panas. Selama ‘waktu kosong’ itu, silahkan lakukan hal terbaik yang bisa kamu lakukan.

Saya yakin, kamu akan merasakan sensasi yang benar-benar berbeda. Kamu, akan merasa bahwa ternyata, kamu masih bisa terus hidup dan melakukan banyak hal luar biasa tanpa smartphone di genggamanmu. Karena seperti hubungan cinta, kamu dan smartphone juga harus diberi jeda, kan?

Jangan sampai, ungkapan ‘smartphone mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’ berlaku dalam kehidupanmu ya.


Bacaan lain buat kamu yang direkomendasikan #SobatInovasee:

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Girls, Alis Setengah Lingkaranmu Udah Basi! Ini yang Lagi Hits: Alis Bergelombang

Yakin Deh, Fakta-Fakta Menarik Tentang Matematika Ini Pasti Nggak Diajarkan di Sekolah