Guru Agama yang Kurang Ahli Beragama Adalah Alasan Munculnya Intoleran dalam Beragama

Yakin guru agamamu sudah ‘beragama’?

925
SHARES

Tak perlu koar-koar soal Pancasila dan UUD 1945, karena sangat mungkin, hidup berkebangsaan dan kebhinekaan kita cukup ditentukan oleh guru agama. Mereka, yang setiap hari berdiri di depan kelas mengajarkan moral, agama, dan segala macam printilannya pada generasi muda Indonesia itulah yang menjadi ujung tombak atas hidupnya nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan di masyarakat kita.

Guru agama, ujung tombak atas hidupnya nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan di Indonesia. | anekainfounik.wordpress.com

Maka, jika ternyata ada segelintir guru agama yang jelas-jelas mengajarkan intoleransi beragama, kita wajib waspada. Karena, para siswa yang masih polos pikirannya, yang setiap hari dicekoki oleh paham-paham yang bertentangan dengan kebhinekaan bangsa kita itu, akan mudah sekali terjangkiti virus-virus intoleransi yang mengancam persatuan bangsa dan bahkan kemerdekaan.

Guru-guru agama yang anti toleransi beragama

Dalam konteks membangun sikap toleran, guru agama yang tentu mempunyai peran yang sangat besar di depan kelas layak memikul tanggung jawab besar. Pertanyaannya, bagaimanakah sikap kebangsaan para guru agama di Indonesia?

Akhir tahun 2016 lalu, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merilis hasil penelitian yang bertajuk ‘Guru Agama, Toleransi, dan Isu-isu Kehidupan Keagamaan Kontemporer di Indonesia’ dengan responden guru-guru Pendidikan Agama Islam di 11 kabupaten/kota di lima provinsi.

Seperti apa sebenarnya sikap para guru agama terhadap kebangsaan dan toleransi beragama? | depok.go.id

Penelitian itu mendapatkan hasil yang cukup mengejutkan. Lebih dari 80 persen responden menyatakan tidak setuju jika orang yang tidak seagama dengan dirinya menjadi Kepala Sekolah, Kepala Dinas, maupun Kepala Daerah, dan 81 persen menyatakan tidak setuju jika harus memberikan izin pendirian rumah ibadah agama lain di wilayahnya.

Dengan hanya berdasarkan pada guru agama di 11 kabupaten/kota di lima provinsi, hasil penelitian itu memang tidak bisa mewakili gambaran seluruh guru agama di Indonesia. Namun setidaknya, kita menjadi tahu bahwa perlu program yang jelas dan matang untuk memastikan pendidikan agama di sekolah-sekolah berjalan baik dan benar.

Guru agama yang bukan ahlinya

Pendidikan di Indonesia memang kekurangan guru agama. Tidak tanggung-tanggung, menurut Kementerian Agama, sekolah SD sampai SMA di seluruh Indonesia kekurangan 21 ribu guru agama. Meski begitu, kekosongan itu tidak boleh diisi oleh guru-guru yang bukan ahli di bidang agama.

Mengapa? Karena ketika pelajaran agama diajarkan oleh orang yang bukan ahlinya, maka ada potensi munculnya pemahaman agama yang intoleran, radikalisme, dan missleading yang sangat besar.

Pelajaran agama yang diajarkan oleh guru yang bukan ahli agama akan menimbulkan potensi intoleransi beragama yang sangat besar. | trotoarbanten.com

Maka, perekrutan guru agama yang disertai dengan pengetatan sertifikasi guru agama harus dilihat sebagai bagian dari upaya untuk memastikan kelas-kelas sekolah kita tetap memelihara nilai-nilai kebangsaan, kebhinekaan, toleransi, dan segala macam printilannya. Kalau semua itu bisa terpelihara baik di sekolah, silahkan untuk tidak khawatir lagi dengan intoleransi dalam beragama di negara kita tercinta yang masyarakatnya terdiri dari penganut berbagai agama ini.

925
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."